MAKLUMAT — Penelitian di perguruan tinggi dinilai tidak seharusnya berhenti sebagai laporan akademik semata. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman melemparkan tantangan kepada perguruan tinggi agar hasil riset kampus tidak berhenti sebagai karya akademik, melainkan mampu menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Hal itu ia sampaikan saat bertemu jajaran akademika Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Senin (29/06/2026). Di hadapan para peneliti dan akademisi, Amran berulang kali menekankan pentingnya penelitian yang berdampak nyata serta dapat diterapkan untuk menjawab berbagai persoalan.
“Dari seluruh pangan ini hanya tiga yang impor. Ini PR kita. Nah, ini nanti UGM. Siapkan, Bu Rektor, bawang putih terbaik buat pembibitan? Anggarannya ada di kita. Kalau UGM menghasilkan, aku beli. Kami butuh nih. Hari ini ada anggarannya, tahun depan ada anggarannya, 2027 ada anggarannya.,” ujarnya, melansir unggahan dalam kanal YouTube Kementerian Pertanian RI.
Menurut Amran, pemerintah siap mendukung hasil penelitian yang terbukti mampu memberikan solusi bagi sektor pertanian. Ia pun menyebut sejumlah komoditas yang dinilai perlu mendapat perhatian lebih dalam penelitian, mulai dari bawang putih, kedelai, hingga susu.
Komitmen serupa juga disampaikannya dalam pengembangan sektor peternakan. Ia mengajak para peneliti untuk menghasilkan inovasi untuk peningkatan kualitas produksi dalam negeri.
“Yang kedua, susu. Nah, ini tugas ada peternakan tadi, Pak. Sebelum ajal tiba, buatlah susu terbaik. Susunya kalau perlu 50 liter per hari. Kalau Bapak buat, kami langsung beli,” katanya.
Namun, yang paling menarik perhatian adalah ia menilai budaya riset di perguruan tinggi dalam skala kecil belum cukup memberikan dampak besar terhadap pembangunan sektor pertanian yang sesungguhnya.
“Bu Rektor, biasanya percobaan di kampus dua hektar, dua kali dua meter. Oh bukan begitu, minimal percobaan 1.000 hektar. Kalau 500 hektar, ya bolehlah,” tegasnya, mendorong perguruan tinggi untuk berpikir dalam skala industri, bukan sekadar skala laboratorium.
Dari pernyataan tersebut, Amran berharap perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan temuan ilmiah, tetapi juga mampu menjadi mitra pemerintah dalam mengembangkan inovasi yang dapat diterapkan di lapangan untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Ia juga mendorong agar mahasiswa tidak hanya menjadi penonton dalam proses riset ini. Keterlibatan langsung mahasiswa di lapangan, menurutnya, adalah bagian tak terpisahkan dari penelitian yang benar-benar membumi. “Mahasiswa dilibatkan yang mau penelitian,” tambahnya.
Amran menekankan bahwa penelitian yang dilakukan perguruan tinggi harus menghasilkan inovasi yang dapat diimplementasikan. Menurutnya, pemerintah siap mendukung pengembangan riset yang memiliki manfaat nyata bagi masyarakat melalui berbagai bentuk fasilitasi, termasuk pendanaan dan pemanfaatan hasil penelitian.
Melalui kolaborasi tersebut, ia berharap kampus tidak hanya menjadi tempat melahirkan teori, tetapi juga menjadi pusat lahirnya berbagai inovasi yang mampu memperkuat sektor pertanian sekaligus menjawab tantangan pembangunan nasional.
“Saya bukan orang hebat. Yang hebat adalah kolaborasi. Swasembada tidak mungkin tercapai kalau bukan teman-teman UGM yang membantu. Jadi kita kolaborasi,” tegasnya.
*) Penulis: Nasywa Athirah












