Dr Fatwa Ungkap Penyebab Banyak Riset Berkualitas Rendah di Indonesia

riset

MAKLUMAT — Budaya publikasi ilmiah yang mengejar jumlah dibanding kualitas kembali menjadi perhatian. Akademisi sekaligus kreator konten, Dr Fatwa Adikusuma menyoroti fenomena tersebut melalui unggahan video pendek yang membahas alasan di balik munculnya sejumlah riset yang dinilai kurang memberikan dampak.

Fatwa menyebut ada persoalan yang sudah lama diketahui di lingkungan akademik, tetapi jarang dibicarakan secara terbuka. Menurutnya, sebagian peneliti menjalankan riset bukan semata karena ingin menjawab pertanyaan ilmiah atau menghasilkan manfaat baru, melainkan karena tuntutan pekerjaan.

“Banyak dosen dan peneliti yang melakukan riset dan publikasi bukan karena risetnya penting, atau pengen ngasih sesuatu yang bermanfaat buat dunia, atau karena penasaran dengan research question mereka, tapi lebih karena terpaksa dan tuntutan kerja. Buat ngejar angka kredit, biar track record publikasi yang kelihatannya banyak dan buat ngejar jabatan,” ujar Fatwa melalui akun Instagram pribadinya @fatwa.adikusuma_phd pada Sabtu (27/6/2026).

Ia menilai dorongan untuk memenuhi target tertentu dapat membuat sebagian riset kehilangan fokus utama. Penelitian akhirnya lebih diarahkan agar bisa diterima jurnal dan tercatat sebagai publikasi, sementara pertanyaan mengenai nilai, manfaat, dan kualitas riset menjadi kurang diperhatikan.

Baca Juga  Akademisi PTMA Jangan Berjarak dari Realitas: Temuan Ilmiah Harus Menyentuh Kebenaran Objektif

Fatwa mengatakan kondisi tersebut turut berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan akademisi. Menurut dia, dunia ilmu pengetahuan terus bergerak sehingga peneliti perlu memperbarui pengetahuan dan mempelajari metode baru agar riset yang dilakukan tetap relevan.

“Padahal ilmu itu makin hari makin maju, teknik-teknik baru bermunculan. Dan riset itu sifatnya dinamis. Suatu penemuan akan membawa ke riset-riset baru, yang seringkali kami harus belajar teknik baru, buat ngelakuin riset selanjutnya itu,” tandasnya.

Ia menjelaskan bahwa riset yang hanya berorientasi pada publikasi dapat menghasilkan karya yang kurang menarik dan minim manfaat. Menurutnya, hal itu juga menjadi salah satu alasan mengapa banyak penelitian sulit menembus jurnal bereputasi.

“Kalau banyak yang bertanya kenapa riset banyak bertebaran tapi dunia tidak bisa maju, jawabannya karena banyak yang tujuannya memang bukan untuk menemukan sesuatu yang berarti. Tapi hanya asal publish doang,” lanjutnya.

Unggahan Fatwa tersebut mendapat berbagai tanggapan dari warganet. Sejumlah pengguna menyatakan setuju dengan pembahasan mengenai budaya publikasi ilmiah yang lebih mengejar kuantitas. Salah satu akun menulis, “Sisi gelap yang terang banget terlihat,” sebagai respons terhadap isu yang disampaikan.

 

Baca Juga  Mengenal Hana Catur Wahyuni, Perempuan Tangguh yang Jadi Guru Besar Manajemen Rantai Pasok Umsida

*) Penulis: Lail Zahwa Efrilia Dwi Efendi