​Ekonomi Indonesia Memburuk Akibat Perlambatan Nyata di Berbagai Sektor

data core

​MAKLUMAT – Ekonomi Indonesia memburuk akibat perlambatan nyata di berbagai sektor, namun fundamental domestik masih relatif terjaga dari krisis. Sinyal penurunan ini terlihat jelas dari anjloknya aktivitas manufaktur, munculnya defisit neraca perdagangan, hingga kuatnya tekanan di pasar keuangan nasional.

​“Purchasing Managers’ Index atau PMI manufaktur Indonesia merosot ke level 46,9. Angka ini menandakan sektor produksi sedang berada di zona kontraksi,” ungkap Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet dikutip, Senin (6/7/2026).

​Menurutnya, penurunan ini terjadi karena pasar domestik dan luar negeri kompak mengurangi pesanan baru dan ekspor. Situasi kian menjepit pelaku industri lantaran mereka juga harus memikul lonjakan biaya produksi akibat kenaikan harga energi global.

​Selain manufaktur, lanjut Yusuf, Indonesia juga mengalami defisit neraca perdagangan setelah enam tahun berturut-turut mencatat surplus. Lonjakan impor minyak dan gas (migas) akibat mahalnya harga minyak dunia menjadi biang kerok utama defisit tersebut, sementara sektor nonmigas sebenarnya masih surplus.

“Tekanan global ini menjalar ke pasar keuangan domestik, yang akhirnya memicu pelemahan nilai tukar rupiah dan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG akibat aksi jual investor asing,” cetusnya.

Baca Juga  Fiskal Tertekan, Ekonom Desak Evaluasi Program MBG: Moratorium Jadi Opsi Rasional

​Untuk menahan pemburukan yang lebih dalam, Yusuf mendesak pemerintah segera mengambil tiga langkah strategis: memangkas ketergantungan impor energi, menjaga daya beli masyarakat, serta memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter demi menjaga stabilitas rupiah.

Tipisnya Bantalan Ekonomi Indonesia

​Meskipun fundamental ekonomi Indonesia diklaim masih kokoh, realitas di lapangan menunjukkan bahwa ruang bagi pemerintah untuk meredam guncangan (buffer zone) kini kian menyusut.

​Kontraksi PMI ke level 46,9 bukan sekadar angka statistik, melainkan alarm bahaya bagi penyerapan tenaga kerja. Ketika pesanan baru turun dan biaya energi melonjak, gelombang efisiensi atau PHK massal mengintai sektor manufaktur.

​Defisit neraca dagang akibat impor migas membuktikan bahwa postur APBN dan ketahanan energi nasional masih sangat rapuh terhadap fluktuasi harga komoditas dunia.

​Pemerintah dan Bank Indonesia kini menghadapi buah simalakama. Menaikkan suku bunga demi menahan kejatuhan Rupiah akan mencekik pertumbuhan ekonomi domestik. Sebaliknya, membiarkan Rupiah melemah akan membuat biaya bahan baku impor semakin mahal dan memicu inflasi (imported inflation).

​Kepastian regulasi dan stimulus yang tepat sasaran pada daya beli kelas menengah menjadi kunci agar perlambatan ini tidak tergelincir menjadi krisis struktural yang menyakitkan.

Baca Juga  7 Jurus BI Jaga Rupiah Tetap Perkasa di Tengah Tekanan Global