MAKLUMAT — Mungkin Edi Susanto adalah satu di antara sosok yang sesuai dengan konteks judul ini. Ia bukan lahir dari kemewahan, bukan pula dibesarkan oleh gemerlap fasilitas yang memanjakan. Tidak semua orang dilahirkan dengan jalan yang lapang. Ada yang harus menempuh perjalanan panjang, berliku, bahkan berkali-kali tersandung sebelum akhirnya menemukan makna hidupnya.
Bagi Edi Susanto, kehidupan tidak pernah diukur dari seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan dari jejak yang ditinggalkannya bagi sesama. “Saya percaya bahwa manusia tidak diukur dari seberapa tinggi ia berdiri, melainkan seberapa besar manfaat yang mampu ia tinggalkan bagi orang lain,” katanya.
Kalimat sederhana itu bukan sekadar semboyan hidup. Ia menjelma menjadi kompas yang mengarahkan setiap langkahnya sejak tumbuh sebagai anak desa di Pacitan, Jawa Timur.
Ketika anak-anak lain berlarian mengejar permainan, Edi justru larut dalam lembar demi lembar buku tulis. Ia mengumpulkan kalimat-kalimat mutiara, lalu menyalinnya dengan rapi ke buku harian. Tanpa disadari, kebiasaan sederhana itu sedang membentuk masa depannya.
Bertahun-tahun kemudian ia menyadari alasan mengapa kebiasaan itu begitu membekas. “Kata-kata memiliki kekuatan untuk mengubah cara berpikir, menumbuhkan harapan, dan menggerakkan tindakan,” ungkapnya.
Sejak saat itulah ia percaya bahwa sebuah tulisan bukan hanya kumpulan huruf, melainkan jembatan yang dapat menghubungkan harapan dengan kenyataan.
Baginya, kata-kata bukan sekadar rangkaian huruf. Kata adalah energi yang mampu menghidupkan harapan, membangun keberanian, sekaligus menyembuhkan luka. Dari sanalah lahir keyakinannya bahwa perubahan besar sering kali diawali oleh sebuah gagasan yang dituliskan dengan tulus.
Memasuki bangku SMP dan SMK, kecintaannya pada belajar semakin menemukan ruang. Perpustakaan menjadi tempat yang paling akrab baginya. Ensiklopedia, sejarah dunia, filsafat, teologi, hingga kisah para tokoh besar menjadi santapan hariannya. Di tengah kesibukan berorganisasi sebagai anggota Rohani Islam, Pramuka, Palang Merah Remaja, hingga OSIS, ia tetap menjaga prestasi akademiknya. Baginya, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga tumbuh dalam setiap pengalaman memimpin, melayani, dan bekerja bersama orang lain.
Masa sekolah juga mengajarkannya arti ketekunan. Perjalanan panjang menggunakan bus setiap hari menuju sekolah bukanlah alasan untuk menyerah. Justru dari perjalanan itulah ia belajar bahwa kesuksesan tidak pernah lahir dari jalan pintas. Disiplin, kerja keras, dan kesabaran menjadi teman seperjalanan yang setia membentuk karakternya.
Salah satu babak paling menggetarkan dalam hidupnya hadir ketika bencana gempa Yogyakarta dan erupsi Merapi mengguncang negeri. Bersama rekan-rekannya, ia menjadi relawan kemanusiaan. Selama berminggu-minggu ia hidup bersama para penyintas, membersihkan puing-puing, membagikan bantuan, serta menyaksikan secara langsung air mata kehilangan dan senyum penuh ketabahan.
Peristiwa itu mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Ia memahami bahwa kemanusiaan bukanlah sekadar rasa iba, melainkan keberanian untuk hadir ketika orang lain membutuhkan uluran tangan. Pengalaman tersebut kemudian mengantarkannya aktif dalam Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) sebagai trainer kebencanaan, mendampingi masyarakat agar lebih tangguh menghadapi berbagai risiko bencana.
Di dunia akademik, kreativitasnya juga terus bertumbuh. Bersama guru dan sahabatnya, ia meneliti pewarna alami dari kayu nangka dan berhasil meraih penghargaan dalam lomba karya ilmiah. Pengalaman itu mengajarkannya bahwa keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk berhenti berkarya. Justru dari kesederhanaan sering lahir inovasi yang luar biasa.
Perjalanan hidup, bagaimana pun, tidak selalu menghadirkan kemenangan. Tahun 2022 menjadi musim yang sunyi dalam perjalanan hidupnya. Setelah melewati berbagai tahapan seleksi Program YESS Kementerian Pertanian, langkahnya terhenti pada wawancara akhir. Kekecewaan tentu datang, tetapi ia memilih berdamai dengan keadaan.
“Kegagalan tersebut bukanlah akhir perjalanan, melainkan cermin yang menunjukkan bahwa saya masih harus belajar lebih banyak.”
Dari kegagalan itulah ia menemukan pintu menuju perjalanan baru. Ia mengikuti pelatihan, membaca lebih banyak buku, bertemu para praktisi, dan memperluas cakrawala hingga akhirnya dipercaya mengikuti Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah.
Alih-alih larut dalam penyesalan, ia menjadikan kegagalan sebagai guru terbaik. Ia memperbanyak belajar, mengikuti pelatihan, seminar, workshop, hingga pendidikan di berbagai bidang, mulai dari pemberdayaan masyarakat, pertanian, teknologi digital, sampai kecerdasan buatan. Baginya, kegagalan bukan tanda untuk berhenti, melainkan penunjuk arah agar seseorang bertumbuh menjadi lebih baik.
Kesungguhan itu akhirnya menemukan jalannya. Ia dipercaya mengikuti Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dari sana keyakinannya semakin kuat bahwa pemberdayaan bukan tentang memberi belas kasihan, tetapi membuka kesempatan agar setiap orang mampu mengubah kehidupannya sendiri.
Hari ini, Edi Susanto dikenal sebagai pegiat pemberdayaan masyarakat, trainer, jurnalis, sekaligus pembelajar sepanjang hayat. Melalui lembaga-lembaga yang ia dampingi, ia membantu pelaku UMKM, masyarakat desa, dan berbagai komunitas agar mampu memanfaatkan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, sebagai sarana meningkatkan kualitas hidup.
Menulis kemudian menjadi rumah yang selalu ia rindukan. Bukan karena ingin dikenal, melainkan karena ia percaya setiap tulisan dapat menghadirkan manfaat bagi banyak orang. “Menulis bukan sekadar menyampaikan informasi. Menulis adalah bentuk pengabdian,” ungkapnya.
Karena itulah setiap artikel yang lahir dari tangannya selalu berusaha menghadirkan pengetahuan, mengangkat suara masyarakat kecil, dan menumbuhkan optimisme di tengah berbagai tantangan zaman.
Di sisi lain, dunia menulis tetap menjadi rumah yang selalu ia rindukan. Pena baginya bukan sekadar alat menyampaikan informasi, tetapi jembatan untuk menyuarakan mereka yang jarang didengar, menyalakan optimisme, serta merawat harapan di tengah berbagai tantangan zaman. Tulisannya hadir bukan untuk mencari tepuk tangan, melainkan mengajak orang lain percaya bahwa perubahan selalu mungkin diwujudkan.
Edi Susanto adalah potret seorang pembelajar sejati. Ia percaya bahwa manusia tidak pernah selesai ditempa oleh kehidupan. Selama napas masih berembus, selama mata masih mampu membaca, dan selama hati masih mau belajar, selalu ada kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat.
Setelah menempuh perjalanan panjang sebagai relawan kemanusiaan, pegiat pemberdayaan masyarakat, jurnalis, hingga pembelajar teknologi, Edi tidak pernah menganggap dirinya telah sampai di tujuan. Ia hanya ingin terus berjalan, selama masih ada kesempatan untuk memberi manfaat kepada orang lain.
Barangkali seluruh perjalanan hidupnya dapat dirangkum dalam satu kalimat yang begitu sederhana, tetapi sarat makna. “Warisan terbesar seorang manusia bukanlah jabatan, kekayaan, ataupun popularitas, melainkan jejak manfaat yang tetap hidup setelah dirinya tiada, ungkapnya.
Dan Edi Susanto memilih menuliskan warisan itu bukan di atas batu prasasti, melainkan di hati orang-orang yang pernah disentuh oleh ilmu, kepedulian, dan pengabdiannya.***
*) Penulis: Ahmad Mahmudi














