MAKLUMAT – Program Home Care yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Jember mendapat apresiasi. Sejumlah akademisi dari tiga perguruan tinggi di Jember menilai program itu dapat menjadi solusi atas persoalan akses layanan kesehatan yang selama ini dihadapi masyarakat. Utamanya warga miskin, lanjut usia, dan kelompok dengan keterbatasan mobilitas.
Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Jember Sasmiyanto mengatakan, Kabupaten Jember sebelumnya telah memiliki fondasi pelayanan kesehatan melalui skema Universal Health Coverage (UHC) berbasis KTP. Kebijakan tersebut telah memperluas akses masyarakat terhadap pembiayaan layanan kesehatan.
Namun, kata Sasmiyanto, persoalan di lapangan tidak berhenti pada biaya pengobatan. ”Secara fasilitas atau biaya perawatan di fasilitas kesehatan mungkin sudah dijamin oleh pemerintah. Namun, kendala utamanya, masyarakat di daerah pinggiran seringkali kesulitan biaya transportasi hanya untuk pergi ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama maupun rumah sakit rujukan,” kata Sasmiyanto saat dihubungi, Selasa (4/8/2026).
Menurut dia, biaya transportasi kerap menjadi penghalang bagi warga untuk memperoleh layanan kesehatan. Khususnya masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil atau memiliki kondisi ekonomi terbatas.
Karena itu, Sasmiyanto menilai program Home Care yang menghadirkan tenaga kesehatan langsung ke rumah pasien mampu menutup celah pelayanan yang selama ini belum terjangkau oleh skema pembiayaan kesehatan.
”Dengan layanan yang mendatangi rumah warga, hambatan geografis dan biaya transportasi dapat dikurangi sehingga masyarakat yang paling membutuhkan tetap memperoleh pelayanan kesehatan,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Program Studi Hukum Tata Negara Fakultas Syariah UIN KHAS Jember Achmad Hasan Basri. Ia menilai negara memiliki kewajiban memastikan setiap warga memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan.
”Pada prinsipnya saya mendukung Program Home Care apabila memang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu dan mereka yang memiliki keterbatasan memperoleh akses layanan kesehatan,” kata Hasan Basri.
Menurutnya, pelaksanaan program harus dilakukan secara tepat sasaran, profesional, transparan, dan berkelanjutan. Dengan begitu, manfaatnya benar-benar diterima kelompok masyarakat yang membutuhkan.
Ia menilai layanan kunjungan tenaga kesehatan ke rumah pasien dapat memperluas akses pelayanan bagi lansia, penyandang disabilitas, keluarga berpenghasilan rendah, serta pasien yang memiliki keterbatasan mobilitas.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Jember dr. Ulfa Elfiah menyebut Home Care merupakan salah satu inovasi pelayanan kesehatan daerah yang memperkuat layanan kesehatan primer. Layanan tersebut tidak hanya menyediakan pemeriksaan kesehatan dasar di rumah pasien, tetapi juga pemeriksaan laboratorium sederhana seperti kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat.
Selain itu, tenaga kesehatan memberikan layanan konsultasi melalui telemedicine sehingga pasien dapat memperoleh penilaian medis tanpa harus datang langsung ke fasilitas kesehatan. ”Berdasarkan hasil pemeriksaan dan konsultasi tersebut, tenaga kesehatan dapat menentukan penanganan lanjutan, termasuk memberikan rujukan ke puskesmas atau rumah sakit apabila diperlukan,” ujarnya.
Ulfa menjelaskan sasaran utama program Home Care meliputi lanjut usia yang hidup sendiri tanpa pendamping keluarga, anak dengan stunting, termasuk yang disertai penyakit penyerta atau cacat bawaan, ibu hamil berisiko tinggi, serta pasien dengan penyakit kronis yang mengalami kesulitan mengakses layanan kesehatan.
Menurutnya, pendekatan pelayanan berbasis kunjungan rumah memungkinkan kelompok rentan memperoleh layanan kesehatan lebih cepat tanpa harus menghadapi hambatan jarak maupun keterbatasan biaya transportasi. (*)













