MAKLUMAT — Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa Tapak Suci Putera Muhammadiyah tidak hanya berperan sebagai perguruan pencak silat yang melestarikan tradisi bela diri, tetapi juga menjadi salah satu media dakwah Muhammadiyah.
Hal itu ia sampaikan ketika menghadiri forum Muktamar ke-16 Tapak Suci Putera Muhammadiyah, yang dilaksanakan di Gedung Serba Guna Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Jumat (7/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Abdul Mu’ti hadir didampingi Rektor Unimus Prof Dr H Masrukhi MPd dan Ketua Umum PP Tapak Suci Putera Muhammadiyah Drs Afnan Hadikusumo PBr. Turut hadir jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) dan Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah.
Dalam arahannya, Mu’ti mengapresiasi berbagai capaian Tapak Suci, termasuk prestasi yang diraih hingga tingkat internasional. Ia berharap capaian tersebut dapat terus dikembangkan. Ia menegaskan bahwa Tapak Suci merupakan salah satu ujung tombak dakwah Persyarikatan.
“Tapak Suci yang telah menjadi ujung tombak dakwah Muhammadiyah melalui bela diri dan telah mengenalkan Muhammadiyah lintas negara, lintas organisasi, bahkan lintas agama,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu karakter yang membedakan Tapak Suci adalah perpaduan antara penguasaan bela diri dengan penanaman nilai-nilai keislaman. Pembinaan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada kemampuan fisik, tetapi juga pembentukan akidah dan akhlak.
“Inilah yang menjadi pembeda Tapak Suci, yaitu tampil dengan kekuatan kepribadian dan kekuatan akhlak kebaikan,” katanya.
Karena itu, Mu’ti menilai pembinaan di Tapak Suci dapat menjadi bagian dari upaya membangun karakter generasi muda melalui pendidikan moral dan nilai keislaman.
“Membangun kekuatan jasmani, kekuatan rohani dan kekuatan akhlak, yang di dalamnya tertanam akidah dan akhlakul karimah. Tapak Suci tampil dengan kekuatan kepribadian dan peradaban. Keadaban generasi yang dibentuk melalui Tapak suci harus senantiasa ditumbuhkan,” ujarnya.
“Mengapa demikian? Saat ini masyarakat mengalami kesulitan dalam berbagai kesulitan. Namun Tapak Suci hadir dengan semangat tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan,” sambung Mu’ti.
Menurutnya, dakwah melalui olahraga bela diri memiliki ruang yang luas karena dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
“Olahraga menjadi duta Tapak Suci dan Tapak Suci mnjadi duta Muhammadiyah. Hal ini sangat efektif karena bisa melintas batas dan lebih bisa diterima oleh semuanya,” tandasnya.
“Olahraga juga menjadi sarana membangun generasi yang kuat,” jelas Mu’ti, yang memperoleh gelar pendekar kehormatan pada kejuaraan dunia Tapak Suci di Malang pada tahun sebelumnya.
Dalam kesempatan tersebut, Mu’ti juga menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi generasi muda, khususnya persoalan kesehatan mental dan psikologis.
“Sekarang ini terjadi generasi cemas yang menyerang psikologis generasi muda. Angka bunuh diri generasi muda meningkat. Semua itu karena faktor mental psikologis, moralitas,” sorotnya.
Mu’ti yang juga menjabat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI tersebut mendorong Tapak Suci turut mengambil peran dalam membangun rasa percaya diri dan ketahanan mental generasi muda dalam menghadapi berbagai persoalan.
Menurutnya, Tapak Suci dapat menjadi ruang aktualisasi dan ekspresi diri melalui kegiatan yang positif dan bermanfaat.
Di sisi lain, Mu’ti melihat perkembangan Tapak Suci di sejumlah negara sebagai bagian dari diplomasi publik Indonesia melalui olahraga.
“Tapak Suci menjadi duta Indonesia di berbagai negara sebagai diplomasi publik. Contohnya di Mesir, yang telah diakui oleh negara bahwa Tapak Suci menjadi salah satu olahraga beladiri yang resmi di Mesir,” terangnya.
Di Inggris, lanjutnya, Tapak Suci juga berkembang. “Demikian juga di Eropa, bagian beladiri Indonesia yang diterima di sana,” tambah Mu’ti.
Mu’ti berharap perkembangan pencak silat di tingkat internasional dapat terus diperkuat, termasuk peluang agar pencak silat dipertandingkan dalam Olimpiade.
“Semoga pencak silat menjadi salah satu cabor di Olimpiade,” harapnya.
Ia menyebut Tapak Suci saat ini telah berada di 31 Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di luar negeri.
Dalam kaitan dengan pengembangan potensi peserta didik, Mu’ti juga menyampaikan bahwa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah membuka perhatian terhadap jalur nonakademik, termasuk bidang olahraga dan seni, sebagai bagian dari layanan pendidikan.
Menurutnya, keterampilan bela diri yang dikembangkan melalui Tapak Suci juga dapat menjadi salah satu bekal bagi para kader dan generasi muda untuk mengembangkan karier di berbagai bidang pekerjaan.***
*) Penulis: Wigatiningsih













