MAKLUMAT — Buku berjudul “Nase’ Sodu” diluncurkan dalam kegiatan Launching dan Diskusi Buku Nase’ Sodu, yang diselenggarakan di Aula Pendopo Murtajaya, Desa Juglangan, Kabupaten Situbondo, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan yang digagas Badan Inovasi Percepatan Pembangunan Daerah (BIPPD) Kabupaten Situbondo tersebut menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan dan melestarikan kuliner serta identitas budaya masyarakat Situbondo. Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan RI melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur.
Hadir sebagai narasumber Ketua BIPPD Kabupaten Situbondo Marlutfi Yoandinas; Guru sekaligus Ketua MGMP Bahasa Madura SMA Fendi Febri Purnama; serta praktisi kuliner yang juga Owner Pondok Dapur Sodu, sekaligus Ketua LSBO Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Situbondo Agus Ariyanto alias Agus Sodu. Diskusi tersebut dipandu Wahyu, pegiat literasi dan seni di Kabupaten Situbondo.
Dalam paparannya, Marlutfi Yoandinas mengatakan bahwa pelestarian kuliner nusantara dan identitas budaya Situbondo merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah.
“Apa yang dilakukan Mas Agus Sodu bersama Pondok Dapur Sodu merupakan langkah awal proteksi untuk menjaga keaslian resep Nasi Sodu agar tetap lestari,” ujarnya.
Sementara itu, Fendi Febri Purnama menjelaskan penggunaan istilah Nasi Sodu dan Nase’ Sodu dalam konteks yang berbeda. “Penyebutan Nasi Sodu sudah baku di KBBI. Sementara Nase’ Sodu adalah sebutan masyarakat lokal,” paparnya.
Dokumentasikan Resep dan Tradisi
Agus Sodu dalam diskusi tersebut menyampaikan hasil observasi yang dilakukan selama bertahun-tahun di sejumlah wilayah Situbondo, khususnya Kecamatan Asembagus, Banyuputih, dan Jangkar.
“Kami menyimpulkan resep yang paling mendekati pakem ada di Asembagus. Dari situ kami menyempurnakan resep dan teknik memasaknya hingga tercipta cita rasa khas Nasi Sodu yang berbeda dari masakan lain di nusantara,” jelasnya.
Selain diskusi, Agus Sodu bersama tim Pondok Dapur Sodu juga mengajak peserta mengikuti praktik penyajian Nasi Sodu. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan makan bersama menggunakan sajian yang disebut sesuai dengan tradisi yang dikaji.
Ketua Panitia sekaligus penulis buku, Moh Imron, mengungkapkan bahwa penerbitan buku tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur yang diwakili Anik Farida.
Menurutnya, buku tersebut tidak hanya memuat resep makanan, tetapi juga berusaha mendokumentasikan berbagai aspek yang berkaitan dengan Nasi Sodu dan kehidupan masyarakat Situbondo.
“Pendokumentasian buku ini untuk mencatat resep, teknik memasak, sejarah migrasi, tradisi kuliner, hingga dinamika sosial masyarakat Situbondo. Ini bagian dari penggunaan bantuan Fasilitas Pemajuan Kebudayaan tahun 2026,” jelas Imron.
Ia berharap dokumentasi tersebut dapat membantu masyarakat Situbondo mengenal lebih jauh Nasi Sodu, mulai dari sejarah, filosofi, ragam, hingga tata cara menyantapnya.
“Semoga Nasi Sodu bisa menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Aamiin,” tandas Imron.***













