MAKLUMAT – Dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meninggalkan kontribusi nyata selama mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Thailand. Mereka menyusun kurikulum Bahasa Melayu menggunakan huruf Rumi untuk Asasudden Wittaya School di Yala, Thailand Selatan.
Kedua mahasiswa tersebut yakni Farah Ramadhani Aulia dari Program Studi Ilmu Komunikasi dan Miftahul Ilmi dari Program Studi Manajemen. Keduanya merupakan bagian dari enam mahasiswa UMM yang dikirim ke Thailand selama Agustus 2026.
Melalui kolaborasi dengan guru dan pimpinan sekolah, Farah dan Miftahul menyusun kurikulum Bahasa Melayu secara bertahap berdasarkan kebutuhan pembelajaran siswa.
“Kurikulum ini berisi materi mulai dari pengenalan tulisan Rumi Melayu, jenis kata, kata ganti, tanda baca, kalimat sederhana, hingga bacaan singkat yang disesuaikan dengan kemampuan siswa,” terang Farah, Senin (10/8/2026).
Penyusunan kurikulum diawali dengan riset mengenai kebutuhan sekolah. Mahasiswa melakukan observasi serta berdiskusi dengan guru dan siswa untuk mengetahui kendala sekaligus kebutuhan pembelajaran Bahasa Melayu.
Hasilnya, sekolah membutuhkan perangkat pembelajaran yang lebih sederhana, sistematis, dan mudah diterapkan oleh guru.
“Kami telah melakukan observasi dan berdiskusi dengan pihak sekolah mengenai kebutuhan pembelajaran di sini. Kami menganggap riset ini penting agar pelaksanaan KKN berlangsung efektif dan memberikan dampak,” tutur Farah didampingi Miftahul.
Bahasa Melayu Jadi Identitas Komunitas Muslim Yala
Kebutuhan terhadap kurikulum Bahasa Melayu semakin penting karena bahasa tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Yala. Bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa kedua setelah bahasa Thailand dan juga menjadi salah satu identitas komunitas Muslim di wilayah yang berbatasan dengan Malaysia tersebut.
Pihak Asasudden Wittaya School menyambut positif penyusunan kurikulum yang menggunakan tulisan Rumi. Perangkat tersebut diharapkan membantu guru menyampaikan materi Bahasa Melayu secara lebih terstruktur sesuai kemampuan siswa.
Guru pendamping Asasudden Wittaya School, Salaman Samuding, mengapresiasi kontribusi mahasiswa UMM yang mampu menyelesaikan penyusunan kurikulum dalam waktu relatif singkat.
“Masya Allah, sangat bagus. Terima kasih banyak atas kerja kerasnya,” ujarnya.
Selain menyusun kurikulum, Farah dan Miftahul terlibat dalam sejumlah kegiatan akademik di sekolah. Keduanya mengikuti rapat akademik, forum guru agama, serta diskusi bersama guru dan pimpinan sekolah mengenai pengembangan pendidikan.
Keterlibatan tersebut memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami sistem pembelajaran, kebutuhan sekolah, serta arah pengembangan pendidikan di Asasudden Wittaya School.
Kolaborasi itu sekaligus menjadi bagian dari proses penyusunan kurikulum agar perangkat pembelajaran yang dihasilkan sesuai dengan visi dan kebutuhan sekolah.
Meski terlibat dalam berbagai kegiatan akademik, mahasiswa UMM tidak mengajar langsung di kelas. Aturan sekolah di Thailand tidak memperbolehkan mahasiswa KKN menjalankan tugas sebagai guru.
“Kami berharap kurikulum Bahasa Melayu yang telah kami susun dapat menjadi referensi bagi guru dalam menyampaikan materi pembelajaran lebih terstruktur. Kami bersyukur dapat memberikan kontribusi yang insyaallah bermanfaat melalui penyusunan perangkat pembelajaran bagi sekolah dan para pelajar,” ujar Miftahul.
KKN Internasional UMM Perluas Mitra Pendidikan
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Internasional UMM, Iis Siti Aisyah, ST., MT., Ph.D., IPM., berharap keberadaan mahasiswa UMM di Asasudden Wittaya School meninggalkan jejak positif bagi masyarakat pendidikan di Yala.
Selain membimbing Farah dan Miftahul di Asasudden Wittaya School, Iis juga membimbing empat mahasiswa UMM lainnya yang ditempatkan di dua sekolah berbeda di Thailand, yakni Phatana Islam Wittaya dan Lukmanul Hakeem.
“Mahasiswa UMM tidak hanya memperoleh pengalaman lintas budaya dan sistem pendidikan yang berbeda, tetapi juga berkesempatan memberikan kontribusi nyata bagi sekolah mitra,” ungkap Iis, dosen Teknik Mesin yang juga Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMM.
Menurut Iis, pengiriman mahasiswa ke Thailand merupakan bagian dari program KKN Internasional UMM yang dilaksanakan di sejumlah negara. Pada Agustus 2026, mahasiswa UMM juga mengikuti program serupa di Taiwan dan Malaysia.
Ke depan, UMM berencana memperluas jaringan mitra internasional untuk program KKN. Iis mengatakan Rektor UMM telah menginstruksikan agar negara mitra terus bertambah dengan persiapan yang semakin matang.
“Pak rektor sudah menginstruksikan agar ke depan mitra negara akan terus bertambah dengan persiapan yang lebih matang lagi, seperti ke Korea Selatan dan Australia,” pungkas Iis.***














