Mahasiswa KKN Umsida Edukasi Guru PAUD di Tejowangi Lebih Cermat Kenali ABK

Mahasiswa KKN-P Umsida menggelar pelatihan bagi guru PAUD dan TK di Desa Tejowangi, Kabupaten Pasuruan, dengan tajuk “Pengenalan ABK dan Strategi Penanganan di Lingkungan Taman Kanak-Kanak”, pada Sabtu (8/8/2026). (Foto: KKN Umsida)

MAKLUMAT — Anak yang aktif atau sulit diam tidak serta-merta dapat disebut sebagai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Pemahaman tersebut menjadi salah satu materi yang disampaikan mahasiswa KKN-P 4 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) dalam pelatihan bagi guru PAUD dan TK di Desa Tejowangi, Kabupaten Pasuruan.

Kegiatan bertajuk “Pengenalan ABK dan Strategi Penanganan di Lingkungan Taman Kanak-Kanak” tersebut digelar pada Sabtu (8/8/2026). Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman guru mengenai karakteristik ABK serta strategi pendampingan yang sesuai di lingkungan pendidikan anak usia dini.

Kegiatan tersebut berawal dari hasil identifikasi mahasiswa selama berada di lingkungan PAUD dan TK Desa Tejowangi. Dari proses tersebut, mahasiswa menemukan bahwa pemahaman mengenai karakteristik ABK dan strategi pendampingannya masih perlu diperkuat.

Ketua KKN P Kelompok 4 Umsida, Muhammad Fairuz Atallah, mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam persoalan pendidikan yang ditemukan di masyarakat.

Menurutnya, guru perlu lebih berhati-hati dalam memahami perilaku tertentu yang ditunjukkan anak, terutama sebelum memberikan label atau menyimpulkan kondisi anak.

“Salah satu poin utama dalam pelatihan adalah pentingnya menghindari pemberian label terlalu cepat kepada anak,” ujarnya.

Baca Juga  Ini Dia Para Juara Gen Z Pelopor Jawa Timur

Ia menjelaskan, anak yang aktif, sulit diam, atau menunjukkan perilaku berbeda tidak dapat langsung disebut sebagai ABK tanpa melalui proses identifikasi dan asesmen lebih lanjut.

“Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Semoga apa yang kami lakukan ini dapat bermanfaat dan diterapkan dalam mendampingi anak sehari-hari,” tuturnya.

Pemateri kegiatan, Nurfi Nur Laili MPsi Psikolog, menjelaskan bahwa pengamatan guru terhadap perilaku anak memang dapat menjadi langkah awal dalam mengenali kebutuhan mereka.

Namun, menurutnya, penentuan kondisi tertentu membutuhkan proses lebih lanjut agar tidak terjadi kesalahan dalam memberikan label kepada anak.

“Kita tidak boleh langsung memberikan label kepada anak. Untuk menentukan kondisi tertentu perlu adanya diagnosa dan asesmen lebih lanjut,” ujar Nurfi.

Dalam pelatihan tersebut, para guru juga dikenalkan pada pentingnya memahami kebutuhan setiap anak sebelum menentukan pendekatan pembelajaran. Pemahaman tersebut diharapkan dapat membantu guru memberikan pendampingan yang lebih sesuai dengan kondisi masing-masing anak.

Pelatihan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi peserta untuk melihat kembali pemahaman mereka mengenai ABK.

Anik Nur Hayati, salah seorang guru Pos PAUD Satria, mengaku sebelumnya pernah menganggap anak yang hiperaktif atau banyak tingkah sebagai ABK.

Baca Juga  Dibimbing Umsida, STTM ARFA Bojonegoro Resmi Berdiri: Siap Jadi Kampus Technopreneur Unggulan

“Dulu saya menganggap anak yang hiperaktif atau banyak tingkah itu termasuk ABK. Setelah mengikuti pelatihan, saya sadar bahwa tidak semua anak seperti itu bisa langsung dilabeli ABK,” ungkapnya.

Penanggung jawab kegiatan, Feby Rosdiana, mengatakan pelatihan tersebut tidak hanya berfokus pada pengenalan karakteristik ABK. Guru juga diarahkan untuk memahami strategi pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.

“Kami berharap para guru dapat lebih memahami karakteristik dan kebutuhan ABK, serta mampu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif,” jelasnya.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN P 4 Umsida mendorong guru PAUD dan TK untuk melihat setiap anak berdasarkan karakteristik dan kebutuhannya. Dengan demikian, proses pendampingan dapat dilakukan secara lebih tepat tanpa terburu-buru memberikan label berdasarkan perilaku yang terlihat.***

*) Penulis: Hilda