MAKLUMAT – Menjelang Muktamar Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) ke-VI, Pengurus Wilayah IPHI Jawa Tengah mulai mematangkan langkah. Selain memperkuat konsolidasi organisasi, sinergi dengan pemerintah daerah juga dilakukan.
Selasa (11/8/2026), jajaran PW IPHI Jawa Tengah melakukan audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Pelaksana Tugas (Plt) Ketua PW IPHI Jawa Tengah Muhammad Haris datang bersama Sekretaris Abdul Kohar Mudzakir, Bendahara Rita Ermawati Syafi’i, serta sejumlah pengurus lainnya. Pertemuan tersebut lebih dari sekadar silaturahmi.
Ada dua agenda penting yang dibawa IPHI Jateng, yakni mempererat hubungan kelembagaan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sekaligus memohon doa, restu, dan dukungan menjelang Muktamar IPHI ke-VI yang akan digelar 18–20 September 2026 di Pontianak, Kalimantan Barat.
Muhammad Haris mengatakan, muktamar menjadi momentum penting bagi IPHI untuk menentukan kepengurusan pusat sekaligus merumuskan arah dan program strategis organisasi untuk periode mendatang.
”Pertama tentu silaturahmi antara pimpinan wilayah IPHI Jawa Tengah dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Kedua, kami memohon doa dan restu karena IPHI akan melaksanakan Muktamar ke-VI di Pontianak,” kata Haris.
Menurutnya, Jawa Tengah siap mengambil bagian dalam forum nasional tersebut dengan mengirimkan delegasi. ”Muktamar akan memilih kepengurusan pusat sekaligus merancang program-program IPHI ke depan. Jawa Tengah siap berpartisipasi dan mengirimkan delegasi,” jelasnya.
Menjaga IPHI Jateng Tetap Solid
Audiensi dengan Gubernur Ahmad Luthfi berlangsung di tengah proses konsolidasi internal IPHI Jawa Tengah setelah wafatnya Ketua PW IPHI Jateng Dr. Masrifan Djamil sekitar sebulan lalu. Muhammad Haris kemudian mendapat amanah sebagai Plt. Ketua.
Haris menegaskan bahwa dirinya siap menjalankan tugas tersebut demi memastikan roda organisasi tetap berjalan. ”Sebagai pelaksana tugas, saya siap meneruskan amanah ini. Yang paling penting bagaimana menjaga IPHI Jawa Tengah tetap solid dan memastikan program-program organisasi serta garis besar kebijakan yang telah ditetapkan tetap berjalan,” tuturnya.
Kesinambungan organisasi menjadi prioritas. Pergantian atau kekosongan kepemimpinan tidak boleh menghambat pelayanan organisasi maupun agenda IPHI di Jawa Tengah.
Bagi Haris, soliditas menjadi modal penting karena IPHI memiliki tanggung jawab sosial yang jauh lebih luas daripada sekadar menghimpun para alumni haji. IPHI, kata dia, harus mampu menjadi bagian dari ekosistem perhajian nasional dan memberikan kontribusi sejak sebelum jemaah berangkat hingga setelah mereka kembali ke Tanah Air.
”Kami akan terus mendukung proses penyelenggaraan haji Indonesia, mulai dari persiapan dan pemberangkatan, pelaksanaan ibadah di Tanah Suci, sampai pascakepulangan jemaah,” katanya.
Gubernur Buka Ruang Kolaborasi
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyambut positif audiensi jajaran IPHI Jawa Tengah. Ia mengapresiasi kunjungan tersebut sekaligus menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mendukung program-program IPHI.
Ahmad Luthfi membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara pemerintah daerah dengan IPHI, terutama program yang berkaitan dengan pembinaan jemaah haji dan penguatan peran sosial para alumni haji. Pemprov Jawa Tengah siap memfasilitasi berbagai kegiatan IPHI di Jawa Tengah, termasuk dengan memanfaatkan sejumlah fasilitas milik pemerintah daerah.
Gedung Gradhika Bhakti Praja dan Wisma Perdamaian, misalnya, dipersilakan untuk digunakan bagi kegiatan-kegiatan IPHI sesuai ketentuan yang berlaku. ”Kami siap mendukung dan memfasilitasi program serta kegiatan IPHI di Jawa Tengah,” ujar Ahmad Luthfi.
Gubernur juga menegaskan dukungannya terhadap kepengurusan IPHI Jawa Tengah dalam menjaga kesinambungan program organisasi.
Dari Persaudaraan Haji Menuju Kekuatan Sosial
Bagi IPHI Jawa Tengah, dukungan pemerintah tersebut menjadi modal penting untuk memperluas kontribusi organisasi. Muhammad Haris berpandangan bahwa pengalaman seseorang setelah menunaikan ibadah haji tidak seharusnya berhenti pada perubahan pribadi. Nilai-nilai spiritual yang diperoleh selama berada di Tanah Suci harus diterjemahkan menjadi kepedulian dan kontribusi sosial setelah kembali ke masyarakat.
”Persaudaraan haji tidak boleh berhenti hanya pada ikatan sesama orang yang pernah berhaji. Nilai-nilai haji harus menjadi energi untuk memperkuat kepedulian sosial, persaudaraan, dan kemaslahatan masyarakat,” ujarnya.
Dengan jaringan alumni haji yang tersebar hingga berbagai daerah, IPHI memiliki modal sosial yang besar untuk ikut mendukung pembinaan calon jemaah, edukasi manasik, penguatan ukhuwah, kegiatan sosial, hingga pembinaan pascahaji. Karena itu, IPHI Jawa Tengah akan terus membangun komunikasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan perhajian.
Muktamar VI, Menentukan Arah Baru IPHI
Muktamar IPHI ke-VI di Pontianak pada 18–20 September 2026 diharapkan menjadi lebih dari sekadar forum pergantian kepengurusan. Forum tersebut menjadi kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus menjawab tantangan baru dunia perhajian dan kebutuhan para alumni haji.
Bagi Jawa Tengah, momentum Muktamar juga menjadi kesempatan untuk membawa gagasan dan pengalaman daerah ke tingkat nasional.
Muhammad Haris menegaskan, IPHI harus terus berkembang menjadi organisasi yang mampu memberikan manfaat nyata bagi jemaah haji, alumni haji, masyarakat, dan bangsa. ”Kami ingin IPHI tetap solid secara organisasi, kuat dalam persaudaraan, dan semakin nyata kontribusinya bagi masyarakat. Sinergi dengan pemerintah harus terus diperkuat agar nilai-nilai haji dapat diwujudkan dalam kehidupan sosial,” katanya. (*)














