Indonesia Emas 2045 dan Paradigma Pembangunan Manusia Paripurna

Penulis: Mohd. Agoes Aufiya. *)

MAKLUMAT — Bayangkan Indonesia pada tahun 2045. Ekonomi Indonesia telah masuk lima besar dunia. Pendapatan per kapita meningkat tajam. Kota-kota dipenuhi gedung pencakar langit. Industri berbasis kecerdasan buatan berkembang pesat. Anak-anak muda menguasai teknologi, robotika, dan rekayasa genetika. Dunia mengakui Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru. Namun, di balik semua kemajuan itu, lahir kenyataan yang lain. Anak muda semakin enggan menikah. Angka kelahiran terus menurun. Orang tua semakin sedikit memiliki waktu bersama keluarga. Gangguan kesehatan mental meningkat. Kesepian menjadi epidemi baru. Hubungan antarmanusia semakin renggang.

Pertanyaan besarnya sederhana: apakah Indonesia seperti itu layak disebut Indonesia Emas? Dalam beberapa tahun terakhir, arah pembangunan Indonesia hampir selalu dirumuskan dengan kata-kata yang sama: bonus demografi, hilirisasi industri, digitalisasi, kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI), dan peningkatan jumlah lulusan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Bahkan, muncul gagasan agar sekitar 40-45 persen lulusan Indonesia berasal dari bidang STEM, sebagaimana yang dilakukan China. Tentu dapat dipahami optimisme tersebut. Indonesia memang membutuhkan lebih banyak ilmuwan, insinyur, dokter, programmer, peneliti, dan inovator. Tanpa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, Indonesia hanya akan menjadi konsumen, bukan pencipta.

Namun, ada satu pertanyaan yang jauh lebih mendasar: untuk apa seluruh kemajuan itu dibangun? Apakah tujuan akhir pembangunan hanya menghasilkan manusia yang semakin produktif? Ataukah membangun manusia yang semakin utuh? Pertanyaan ini penting karena pembangunan pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang dapat dihasilkan manusia, tetapi juga manusia seperti apa yang dihasilkan oleh pembangunan itu sendiri.

Dari Human Capital menuju Manusia Paripurna

Selama puluhan tahun, dunia mengukur keberhasilan pembangunan melalui indikator ekonomi seperti Produk Domestik Bruto (PDB), pendapatan per kapita, produktivitas tenaga kerja, hingga pertumbuhan industri. Paradigma ini melahirkan konsep human capital, yaitu manusia dipandang sebagai modal utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Gagasan tersebut memiliki kontribusi besar. Pendidikan, keterampilan, kesehatan, dan penguasaan teknologi memang meningkatkan produktivitas dan daya saing suatu bangsa.

Namun, memasuki abad ke-21, dunia mulai menemukan batas dari paradigma tersebut. Negara-negara maju justru memperlihatkan paradoks yang menarik. Jepang memiliki salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia. Korea Selatan menjadi pemimpin inovasi global. China berhasil melahirkan jutaan lulusan STEM setiap tahun dan kini menjadi salah satu pusat perkembangan teknologi dunia. Namun, pada saat yang sama, mereka menghadapi persoalan demografi, tekanan pekerjaan, kesepian, kesehatan mental, dan perubahan struktur keluarga. Tentu akan keliru jika menyimpulkan bahwa STEM atau kemajuan teknologi adalah penyebab semua persoalan tersebut. Fenomenanya jauh lebih kompleks: urbanisasi, mahalnya biaya hidup, kompetisi kerja, harga perumahan, perubahan nilai, dan transformasi keluarga ikut berperan.

Namun, ada satu pelajaran besar yang tidak boleh diabaikan: kemajuan ekonomi ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan kemajuan manusia. Di sinilah Indonesia memiliki kesempatan yang sangat berharga. Sebagai negara yang akan berusia 81 tahun pada 17 Agustus 2026, Indonesia perlu merenungkan kembali arah pembangunan nasional. Kita tidak harus memilih antara menjadi negara maju atau menjadi bangsa yang beradab. Kita bisa menjadi keduanya. Namun, itu hanya mungkin jika kita berani memperluas cara pandang tentang pembangunan. Indonesia perlu bergerak dari paradigma human capital menuju Paradigma Pembangunan Manusia Paripurna (PMP).

Paradigma ini tidak menolak pertumbuhan ekonomi, STEM, AI, ataupun industrialisasi. Justru sebaliknya, paradigma ini ingin memastikan bahwa seluruh kemajuan tersebut tetap berorientasi pada manusia. Jika human capital bertanya “bagaimana meningkatkan produktivitas manusia?” maka Paradigma Pembangunan Manusia Paripurna mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: “Manusia seperti apa yang ingin dibentuk oleh Indonesia?” Pertanyaan kedua jauh lebih penting. Sebab, kualitas sebuah bangsa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh apa yang berhasil diproduksi, tetapi juga oleh karakter manusia yang memproduksinya.

Baca Juga  Wujudkan SPMB yang Transparan dan Berkeadilan, Wamendikdasmen: Kuatkan Sinergi

Islam Berkemajuan dan Manusia yang Utuh

Gagasan tentang manusia paripurna tersebut menemukan relevansinya dalam nilai-nilai Islam Berkemajuan yang dikembangkan Muhammadiyah. Islam Berkemajuan tidak memandang kemajuan sebagai sesuatu yang harus dicurigai. Sebaliknya, ilmu pengetahuan, pendidikan, teknologi, kesehatan, dan inovasi merupakan bagian penting dari ikhtiar manusia untuk memakmurkan kehidupan. Namun, kemajuan tidak boleh kehilangan orientasi moral. Di sinilah prinsip wasathiyah menjadi penting.

Al-Qur’an menyebut umat Islam sebagai ummatan wasatan, umat pertengahan yang menjadi umat yang adil dan berimbang (QS. Al-Baqarah: 143). Wasathiyah bukan berarti mengambil posisi yang biasa-biasa saja, apalagi kompromi tanpa prinsip. Ia adalah kemampuan menempatkan sesuatu secara proporsional dan menjaga keseimbangan. Dalam konteks pembangunan, wasatiyah berarti Indonesia tidak perlu memilih antara ekonomi dan spiritualitas, teknologi dan kemanusiaan, produktivitas dan keluarga, ataupun kemajuan dan moralitas. Kita membutuhkan semuanya, tetapi dalam proporsi yang benar. Islam Berkemajuan dengan demikian dapat menjadi salah satu sumber etik bagi pembangunan Indonesia: maju secara ilmu, kuat secara ekonomi, tetapi tetap berakar pada tauhid, akhlak, kemanusiaan, dan kemaslahatan.

Paradigma Pembangunan Manusia Paripurna setidaknya dapat bertumpu pada lima dimensi. Pertama, manusia harus memiliki hubungan yang kokoh dengan Tuhan. Dalam masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila, spiritualitas bukan sekadar urusan privat. Ia dapat menjadi sumber etika publik. Korupsi tidak terjadi semata-mata karena pelakunya kurang cerdas. Banyak pelaku korupsi justru memiliki pendidikan tinggi. Yang kurang bukan pengetahuan, melainkan integritas. Ilmu pengetahuan memberikan kemampuan. Tetapi nilai spiritual memberikan arah tentang bagaimana kemampuan tersebut digunakan. Indonesia membutuhkan lebih banyak ilmuwan yang amanah, birokrat yang jujur, pengusaha yang berkeadilan, dan pemimpin yang memahami bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak istimewa. Dalam perspektif Islam Berkemajuan, ilmu dan iman tidak seharusnya dipertentangkan. Keduanya harus berjalan bersama.

Kedua, keluarga harus kembali menjadi pusat pembangunan. Negara yang maju bukanlah negara yang hanya menghasilkan tenaga kerja hebat. Negara maju adalah negara yang memungkinkan seorang ayah tetap hadir bagi anaknya; memungkinkan seorang ibu membangun karier tanpa kehilangan kehidupan keluarganya; serta memungkinkan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang. Pembangunan ekonomi tidak boleh dibayar dengan runtuhnya institusi keluarga. Sebab, keluarga adalah sekolah pertama tempat karakter manusia dibentuk. Karena itu, kebijakan pembangunan harus mulai memandang waktu bersama keluarga sebagai bagian dari kesejahteraan, bukan sebagai sisa waktu setelah manusia menyelesaikan seluruh tuntutan pekerjaan.

Ketiga, ilmu pengetahuan harus berkembang bersama kebijaksanaan. Indonesia tetap membutuhkan lebih banyak lulusan STEM. Kita membutuhkan ilmuwan, insinyur, dokter, programmer, ahli AI, dan peneliti. Namun, pendidikan tidak boleh berhenti pada transfer kompetensi. Kita membutuhkan manusia yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan adaptif, tetapi sekaligus memiliki kebijaksanaan dalam menggunakan ilmunya. AI mungkin mampu menggantikan banyak pekerjaan teknis. Namun, AI tidak memiliki tanggung jawab moral sebagaimana manusia. Teknologi tidak dapat menggantikan integritas, empati, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Karena itu, semakin canggih teknologi yang kita miliki, semakin tinggi pula kebutuhan kita terhadap pendidikan karakter. Inilah semangat tajdid dalam Islam Berkemajuan: menghadirkan pembaruan dan kemajuan melalui ilmu pengetahuan, tetapi tetap menjaga orientasi etik dan kemanusiaannya.

Baca Juga  Sihir Digital dan Kerentanan Sosial

Keempat, keberhasilan pembangunan harus diukur dari manfaat sosial. Pancasila mengajarkan bahwa manusia tidak hidup untuk dirinya sendiri. Kemajuan individu harus berjalan bersama kemajuan masyarakat. Islam bahkan menempatkan kebermanfaatan sosial sebagai ukuran penting kualitas manusia. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Indonesia memiliki modal sosial yang luar biasa: gotong royong, musyawarah, solidaritas, filantropi, dan kepedulian sosial.

Nilai-nilai tersebut jangan sampai terkikis karena kita terlalu sibuk mengejar pertumbuhan ekonomi dan kesuksesan individual. Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kaya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang masyarakatnya masih mau saling membantu ketika tetangganya mengalami kesulitan.

Inilah dimensi amal saleh dalam Islam Berkemajuan: kemajuan tidak berhenti pada kesalehan individual, tetapi diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

Kelima, kesehatan jasmani dan rohani harus menjadi indikator keberhasilan pembangunan.

Selama ini kita terlalu sering berbicara tentang produktivitas. Padahal, manusia bukan mesin. Manusia membutuhkan waktu untuk beristirahat, berolahraga, membaca, berkesenian, bersosialisasi, beribadah, dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Islam sendiri mengajarkan keseimbangan. Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa tubuh memiliki hak untuk dipenuhi. Pesan tersebut menunjukkan bahwa keberagamaan tidak identik dengan mengabaikan kebutuhan jasmani manusia. Karena itu, negara yang berhasil meningkatkan PDB tetapi gagal menjaga kesehatan mental masyarakatnya belum sepenuhnya berhasil membangun.

Belajar Mindfulness: Kembali Hadir sebagai Manusia

Pada titik inilah kita juga perlu berbicara tentang sesuatu yang belakangan populer di dunia modern: mindfulness.

Mindfulness secara sederhana mengajarkan manusia untuk hadir pada saat ini, menyadari apa yang sedang dilakukan, dan tidak terus-menerus hidup dalam kecemasan terhadap masa lalu atau masa depan. Menariknya, semangat semacam ini bukan sesuatu yang sepenuhnya asing bagi Islam. Islam mengenal konsep muraqabah, yaitu kesadaran bahwa manusia senantiasa berada dalam pengawasan Allah. Islam mengenal khusyuk, yaitu menghadirkan kesadaran dan perhatian penuh dalam ibadah. Islam juga mengenal tuma’ninah, ketenangan dan ketertiban dalam menjalankan ibadah.

Bahkan, Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak tergesa-gesa dan senantiasa mengingat Allah. Karena itu, dalam perspektif Islam, mindfulness dapat diperdalam menjadi sesuatu yang lebih transenden: bukan hanya being present, tetapi being present with God-consciousness. Seseorang yang sedang makan bersama keluarganya, misalnya, tidak semestinya secara fisik berada di ruang makan tetapi pikirannya berada di kantor, media sosial, atau persoalan pekerjaan. Seseorang yang sedang berbicara dengan anaknya tidak seharusnya sibuk dengan telepon genggam. Seseorang yang sedang beribadah tidak semestinya tubuhnya berada di tempat ibadah sementara pikirannya berkelana ke mana-mana.

Kesadaran untuk benar-benar hadir merupakan bagian penting dari kualitas kehidupan manusia. Di tengah dunia yang semakin cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak justru menjadi bentuk kemajuan. Wasathiyah mengajarkan kita keseimbangan. Mindfulness mengajarkan kita kehadiran. Islam Berkemajuan mengajarkan kita agar kemajuan tersebut diarahkan kepada kemaslahatan. Ketiganya dapat bertemu dalam satu gagasan: manusia tidak boleh kehilangan dirinya ketika mengejar kemajuan.

Baca Juga  Dari Anak Petani Menjadi Pembelajar: Ketika Pendidikan Mengubah Batas

Menjadi Manusia yang Berdaya dan Bermakna

Kelima dimensi tersebut bukanlah konsep yang sepenuhnya asing bagi Indonesia. Ia hidup dalam Pancasila. Ia selaras dengan tujuan syariat (maqāṣid al-syarī‘ah) yang menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Ia juga sejalan dengan perkembangan pemikiran pembangunan manusia, mulai dari Human Development yang dipopulerkan Amartya Sen dan Mahbub ul Haq hingga gagasan Human Flourishing dalam filsafat dan psikologi positif. Namun, Indonesia memiliki kesempatan untuk merumuskan paradigma pembangunan yang lahir dari identitasnya sendiri.

Paradigma yang menggabungkan kemajuan ilmu pengetahuan dengan kekuatan keluarga, teknologi dengan etika, ekonomi dengan spiritualitas, produktivitas dengan kesehatan, serta individualitas dengan kebermanfaatan sosial. Inilah titik temu yang menarik antara Paradigma Pembangunan Manusia Paripurna dan Islam Berkemajuan. Islam Berkemajuan tidak mengajak manusia mundur dari modernitas. Ia justru mengajak manusia menguasai modernitas tanpa diperbudak olehnya.

Kita boleh menggunakan AI, tetapi jangan sampai kehidupan kita dikendalikan algoritma. Kita boleh mengejar karier, tetapi jangan sampai kehilangan keluarga. Kita boleh mengejar kekayaan, tetapi jangan kehilangan keadilan. Kita boleh membangun kota-kota modern, tetapi jangan kehilangan kepedulian terhadap tetangga. Kita boleh menjadi bangsa yang produktif, tetapi jangan kehilangan kemampuan untuk beristirahat, merenung, beribadah, dan bersyukur. Itulah wasathiyah dalam praktik pembangunan.

Indonesia Emas 2045 tidak boleh hanya menjadi proyek ekonomi, ia harus menjadi proyek peradaban. Ukuran keberhasilan bangsa ini tidak boleh berhenti pada pertanyaan, “Berapa besar PDB kita?” Ukuran tersebut harus diperluas menjadi: Apakah rakyat Indonesia semakin sejahtera dan bahagia? Apakah keluarga Indonesia semakin kuat? Apakah generasi mudanya semakin berilmu sekaligus berintegritas? Apakah teknologi membuat manusia semakin berdaya, bukan semakin terasing? Apakah masyarakat semakin peduli kepada sesamanya? Apakah ilmu pengetahuan membuat manusia semakin bijaksana? Apakah pembangunan membuat kita semakin dekat kepada Tuhan?

Jika jawabannya adalah “ya”, maka Indonesia benar-benar sedang menuju Indonesia Emas.

Namun, jika yang bertambah hanya angka pertumbuhan ekonomi sementara manusia kehilangan arah hidupnya, kita sesungguhnya hanya sedang membangun kemakmuran tanpa peradaban.

Tahun 2045 tinggal kurang dari dua dekade lagi. Indonesia masih memiliki kesempatan untuk memilih. Apakah kita ingin menjadi bangsa yang sekadar kaya? Ataukah menjadi bangsa yang benar-benar maju karena manusianya tumbuh secara utuh? Paradigma Pembangunan Manusia Paripurna menawarkan sebuah jawaban: kemajuan harus membuat manusia semakin manusiawi.

Sebab, tujuan pembangunan bukan menciptakan manusia yang hanya mampu bekerja lebih keras, berproduksi lebih banyak, atau menguasai teknologi lebih canggih. Tujuan akhirnya adalah melahirkan manusia yang lebih berilmu, lebih berintegritas, lebih sehat, lebih tenang, lebih mencintai keluarganya, lebih bermanfaat bagi sesama, dan lebih dekat kepada Tuhannya.

Dalam bahasa Islam Berkemajuan, inilah manusia yang tidak hanya maju secara intelektual dan material, tetapi juga tumbuh dalam iman, akhlak, ilmu, dan amal. Sebab pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang berhasil membangun ekonomi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang berhasil memuliakan manusia. Dan mungkin, di situlah sesungguhnya makna terdalam dari Indonesia Emas: bukan sekadar ketika Indonesia menjadi negara besar, melainkan ketika manusia Indonesia menjadi manusia yang besar—besar ilmunya, besar akhlaknya, besar manfaatnya, dan besar kemanusiaannya.***

*) Penulis: Mohd. Agoes Aufiya
Dosen Ilmu Hubungan Internasional UMM; Wakil Ketua LHKP PDM Kabupaten Malang; Ketua PCIM India 2020-2022