Kisah El Nino Menggulingkan Raja, Jangan Sampai Terjadi di Indonesia

El Nino

MAKLUMAT — Pada 21 Januari 1793, Louis XVI berdiri di depan guillotine. Sekitar 20.000 orang menyaksikan eksekusi raja Prancis tersebut. “Saya mati tanpa bersalah atas semua kejahatan yang dituduhkan kepada saya. Saya memaafkan semua orang yang telah berperan dalam kemalangan saya,” ucapnya sebelum dihukum mati. Beberapa saat kemudian, kepala Louis XVI jatuh.

Tentu, Louis XVI tidak jatuh karena El Nino. Revolusi Prancis merupakan akumulasi persoalan politik, ekonomi, sosial, ketimpangan, dan krisis pangan. Namun, sejarah menunjukkan satu hal penting: ketika tekanan alam bertemu dengan persoalan ekonomi dan lemahnya pengelolaan negara, krisis bisa berkembang menjadi persoalan sosial dan politik. Di sinilah El Nino perlu dilihat lebih serius.

El Nino dan Krisis Masa Lalu

Jauh sebelum manusia mengenal satelit cuaca, masyarakat sudah memahami bahwa hujan menentukan kehidupan. Mengutip laman Nautilus, peradaban Moche di pesisir Peru menjadi salah satu contohnya. Mereka membangun kota, mengembangkan pertanian dengan irigasi, dan memanfaatkan sumber daya laut. Kemudian iklim berubah.

Hujan menghilang dalam periode panjang. Persediaan pangan menipis. Setelah itu, kondisi berbalik. Hujan turun sangat deras dan banjir menghantam ladang serta permukiman.

Baca Juga  Mengapa Fenomena Strawberry Moon Tampak Lebih Rendah di Langit?

Sistem kehidupan Moche mendapat tekanan berulang. Kekeringan, banjir, kelaparan, dan konflik akhirnya ikut melemahkan pusat-pusat kekuasaan mereka.

Pelajarannya sederhana: manusia dapat mengatur banyak hal, tetapi tidak dapat mengatur hujan.

Contoh lain terjadi di India pada 1876–1877. Gangguan pola monsun yang berkaitan dengan El Nino memperparah kondisi kekeringan dan gagal panen. Jutaan orang meninggal dalam tragedi kelaparan tersebut.

Namun, perubahan iklim bukan satu-satunya penyebab. Kebijakan ekonomi, perdagangan, harga pangan, dan kondisi kolonial turut menentukan besarnya dampak.

Artinya, bencana alam bisa menjadi jauh lebih buruk ketika bertemu dengan masyarakat yang sudah rentan.

El Nino Bukan Sekadar Cuaca Panas

El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik tropis yang dapat mengubah pola cuaca dunia.

Dampaknya bisa berupa kekeringan di satu wilayah dan hujan ekstrem di wilayah lain.

Karena itu, El Nino bukan sekadar persoalan suhu udara.

Ia bisa menjadi persoalan air, kemudian pangan, harga, dan akhirnya persoalan sosial.

Indonesia perlu memperhatikan perkembangan ini.

BMKG memperkirakan musim kemarau 2026 secara umum berakhir pada pertengahan hingga akhir Oktober. Namun, sejumlah wilayah mengalami periode kemarau yang lebih panjang.

Baca Juga  Komisi IV DPR Minta Kementan Percepat Mitigasi Hadapi El Nino, Jaga Produksi Pangan Nasional

BMKG juga memprediksi El Nino bertahan hingga awal 2027. Peluang intensitas moderat mencapai 98 persen, sedangkan peluang mencapai kategori kuat sebesar 62 persen.

Berdasarkan pemutakhiran BMKG per Juni 2026, musim kemarau diperkirakan berlangsung 30–280 hari di Sumatra, 110–300 hari di Jawa, serta 190–290 hari di Bali, NTB, dan NTT.

Sebanyak 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau berdasarkan prakiraan BMKG periode 14–20 Agustus 2026.

Kondisi atmosfer yang lebih kering berarti risiko kekurangan air dan kebakaran hutan serta lahan perlu diantisipasi.

Jangan Tunggu Krisis

Ketika El Nino menguat, persoalannya bukan hanya air.Lahan pertanian bisa kehilangan pasokan. Produksi pangan dapat terganggu. Kebakaran hutan dan lahan lebih mudah terjadi. Jika produksi turun, harga pangan berpotensi meningkat. Lalu siapa yang paling merasakan dampaknya?

Masyarakat yang memiliki cadangan uang dan pangan mungkin masih memiliki ruang untuk bertahan. Namun, keluarga berpenghasilan rendah biasanya memiliki pilihan yang lebih terbatas.

Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya memberikan peringatan ketika kekeringan sudah terjadi. Sumber air harus dijaga. Ketahanan pangan diperkuat. Risiko kebakaran ditekan. Masyarakat rentan harus mendapat perlindungan.Masyarakat juga perlu menghemat air dan tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Baca Juga  Cuaca Ekstrem Meluas, ASDP Perketat Keselamatan Pelayaran

Dari Guillotine ke Sawah

Louis XVI tidak jatuh karena El Nino. Moche tidak runtuh hanya karena perubahan iklim. Jutaan orang di India juga tidak meninggal semata-mata karena hujan tidak turun. Ada politik. Ada ekonomi. Ada kebijakan. Ada ketimpangan. Tetapi iklim dapat memperbesar masalah yang sudah ada. Ketika masyarakat sudah rapuh, kekeringan bisa menjadi pukulan berat. Ketika harga pangan tinggi, gagal panen bisa menjadi masalah besar. Ketika air semakin sulit, konflik dapat muncul. Itulah pelajaran penting dari sejarah.

El Nino tidak datang membawa guillotine. Tetapi pemerintah yang terlambat mengantisipasi dampaknya bisa menghadapi krisis yang jauh lebih besar daripada sekadar persoalan cuaca.

Alam berubah mengikuti hukumnya. Manusia yang menentukan seberapa besar dampaknya. Semoga Indonesia tidak terlambat membaca tanda-tanda alam.***