Generasi Sandwich Makin Terjepit, Ini Solusi dari Muhammadiyah

generasi sandwich

MAKLUMAT — Fenomena generasi sandwich (sandwich generation) semakin menjadi tantangan keluarga ketika seseorang harus memenuhi kebutuhan anak sekaligus merawat orang tua lanjut usia. Muhammadiyah memandang persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan membebankan seluruh tanggung jawab kepada anak, tetapi membutuhkan kemandirian keluarga dan dukungan negara.

Istilah generasi sandwich diperkenalkan Dorothy A. Miller pada 1981 untuk menggambarkan orang dewasa yang berada di antara dua tanggung jawab besar: membesarkan anak dan merawat orang tua yang memasuki usia lanjut.

Persoalan ini semakin relevan seiring meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia. Harapan hidup yang lebih panjang membuat kebutuhan terhadap layanan kesehatan, dukungan finansial, dan pendampingan emosional pada masa tua ikut meningkat.

Muhammadiyah telah mengingatkan persoalan tersebut dalam Muktamar ke-48 di Surakarta pada 2022. Muhammadiyah mendorong pemerintah dan masyarakat menyiapkan berbagai program agar warga lanjut usia tetap aktif dan produktif.

Kegiatan sosial, keagamaan, kebudayaan, ekonomi hingga pariwisata dapat menjadi ruang bagi warga senior untuk tetap berkontribusi. Langkah ini penting agar usia lanjut tidak selalu dipandang sebagai kelompok yang sepenuhnya bergantung kepada keluarga.

Merawat Orang Tua Adalah Tanggung Jawab

Di tingkat keluarga, Muhammadiyah menempatkan kewajiban anak terhadap orang tua sebagai bagian penting dalam kehidupan keluarga.

Baca Juga  Milad ke-113 Muhammadiyah, Ketua PSI Surabaya Apresiasi Peran Besar untuk Umat dan Bangsa

Melalui Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah, hasil Musyawarah Nasional Tarjih ke-28 di Palembang pada 2014, Muhammadiyah menegaskan kewajiban anak memenuhi kebutuhan dan merawat orang tua ketika memasuki usia lanjut.

Prinsip tersebut sejalan dengan konsep birr al-walidayn, yakni berbuat baik kepada kedua orang tua. Al-Qur’an juga menegaskan perintah tersebut, salah satunya dalam QS Luqman ayat 14.

Dengan demikian, merawat orang tua bukan sekadar persoalan ekonomi. Ada dimensi moral dan keagamaan yang melekat di dalamnya.

Namun, tanggung jawab tersebut tidak berarti orang tua harus sepenuhnya bergantung kepada anak sepanjang hidup.

Tiga Tingkatan Tanggung Jawab

Dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah, persoalan generasi sandwich dapat dilihat melalui konsep kebermaksudan norma yang terbagi menjadi tiga tingkatan: ḍarūriyyāt, ḥājjiyāt, dan taḥsīniyyāt.

Pada tingkat ḍarūriyyāt, kebutuhan orang tua bersifat mendasar dan menyangkut keberlangsungan hidup. Dalam kondisi ini, anak memiliki tanggung jawab kuat untuk memastikan orang tua memperoleh kebutuhan dasar, termasuk perawatan yang diperlukan.

Berikutnya, ḥājjiyāt berkaitan dengan kebutuhan yang membuat kehidupan dapat berjalan secara normal. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, kehidupan tetap berlangsung, tetapi dengan tekanan yang lebih berat.

Baca Juga  Track Record Busyro Muqoddas, Eks Ketua KPK yang Terpilih Jadi Anggota Dewan Pers

Sementara taḥsīniyyāt berada pada tingkat pelengkap. Perhatian, kasih sayang, penghormatan, dan pendampingan kepada orang tua tetap penting, tetapi tidak harus membuat anak menanggung ketergantungan yang berat.

Karena itu, idealnya keluarga bergerak dari kondisi ketergantungan pada level ḍarūriyyāt dan ḥājjiyāt menuju hubungan yang lebih sehat pada level taḥsīniyyāt.

Bagaimana Memutus Rantai Generasi Sandwich?

Ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan keluarga untuk mengurangi tekanan generasi sandwich.

1.Buka komunikasi keluarga. Anak dan orang tua perlu membicarakan kondisi keuangan, kebutuhan kesehatan, pembagian tanggung jawab, serta rencana masa depan secara terbuka.

2.Ajarkan kemandirian kepada anak. Pendidikan tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik. Anak perlu belajar mengelola uang, mengambil keputusan, bekerja, dan bertanggung jawab terhadap kehidupannya.

3.Bangun perencanaan keuangan. Generasi sandwich perlu mengendalikan pengeluaran, menghindari utang konsumtif, serta menyusun rencana keuangan jangka panjang.

4.Orang tua perlu menyiapkan masa tua. Dana pensiun dan perencanaan finansial sejak dini dapat mengurangi ketergantungan kepada anak.

5.Siapkan perlindungan kesehatan. Biaya kesehatan menjadi salah satu sumber tekanan terbesar bagi keluarga. Perlindungan kesehatan yang memadai dapat membantu keluarga menghadapi kebutuhan medis yang tidak terduga.

6.Bangun dana darurat. Tabungan cadangan membuat keluarga tidak langsung kehilangan stabilitas ketika menghadapi kebutuhan mendesak.

Baca Juga  Sejarah Desember 1911: "Sekolah Kafir" Kiai Dahlan yang Menjadi Solusi Umat Islam

7.Siapkan investasi jangka panjang. Investasi yang direncanakan secara bijak dapat membantu memperkuat ketahanan finansial keluarga sekaligus mempersiapkan kebutuhan masa depan.

Jangan Hanya Menuntut Anak Berbakti

Persoalan generasi sandwich tidak bisa diselesaikan dengan meminta anak lebih berbakti kepada orang tua. Tanggung jawab keluarga harus berjalan dua arah.

Anak memang memiliki kewajiban merawat orang tua. Tetapi orang tua juga perlu mempersiapkan masa tua agar tidak menciptakan ketergantungan yang sebenarnya bisa dicegah.

Di sisi lain, negara memiliki peran penting. Peningkatan jumlah lansia membutuhkan sistem kesehatan, jaminan sosial, ruang aktivitas, serta program pemberdayaan yang membuat warga senior tetap produktif.

Jika seluruh beban diletakkan di pundak anak, generasi sandwich akan terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Solusinya bukan memutus hubungan antara anak dan orang tua, melainkan memutus ketergantungan yang tidak perlu. Berbakti kepada orang tua tetap menjadi nilai utama, tetapi harus berjalan bersama perencanaan finansial, kemandirian, dan dukungan sosial.

Dengan cara itu, merawat orang tua tidak lagi dipandang semata sebagai beban, tetapi sebagai bagian dari hubungan keluarga yang sehat dan bermartabat.