MAKLUMAT — Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Mhd Lailan Arqam menyoroti persoalan yang dihadapi anak-anak di era digital, yang menurutnya tidak terselesaikan hanya dengan menyalahkan gawai (gadget) ataupun kemajuan teknologi.
Perkembangan teknologi digital dinilai telah mengubah cara anak-anak memperoleh informasi, belajar, berinteraksi, hingga menentukan figur yang mereka jadikan panutan. Kondisi tersebut membuat keluarga menghadapi tantangan baru dalam menjalankan fungsi pendidikan dan pembentukan karakter anak.
Lailan menyoroti adanya krisis keteladanan, yang menurutnya menjadi persoalan mendasar yang dihadapi di tengah perkembangan dan kemajuan teknologi yang pesat saat ini. Ia menyoroti berbagai persoalan sosial yang melibatkan anak, mulai dari kekerasan hingga kejahatan seksual.
Menurut dia, perkembangan teknologi membuat sumber pengaruh yang dihadapi anak semakin beragam. Jika sebelumnya anak lebih banyak berinteraksi dengan keluarga, guru, dan teman sebaya, kini mereka juga memperoleh pengaruh dari berbagai platform digital.
“HP ada di dalamnya YouTube, TikTok, game, influencer, ada AI (artificial intelligence),” ujar Lailan, saat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Ahad (30/8/2026).
Anak-anak saat ini, kata dia, memiliki banyak sumber yang dapat memengaruhi cara berpikir dan perilaku mereka. Perubahan tersebut sekaligus menggeser posisi orang tua dan guru yang sebelumnya menjadi sumber utama pengetahuan bagi anak.
Anak kini dapat mencari jawaban atas berbagai pertanyaan melalui mesin pencari, media sosial, maupun kecerdasan buatan. Sebab itu, Lailan mendorong para orang tua supaya menyesuaikan pola pendidikan dengan kondisi tersebut.
Bahkan, lanjutnya, untuk menjawab pertanyaan sederhana dari anak, orang tua perlu memiliki pengetahuan yang memadai dan mampu menjelaskannya dengan bahasa yang sesuai usia. Jika orang tua tidak memberikan penjelasan yang tepat, anak dapat mencari informasi sendiri melalui internet yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan maupun usianya.
Lailan mencontohkan anak yang penasaran mengenai asal-usul dirinya. Pertanyaan tersebut kini dapat dengan mudah dijawab melalui Google atau AI. Tanpa pendampingan orang tua, anak berpotensi menemukan informasi atau gambar yang belum semestinya mereka akses.
Dalam kesempatan itu, Lailan juga mengungkapkan data UNICEF yang disebutnya menunjukkan bahwa sekitar 99,4 persen anak Indonesia menggunakan internet dengan rata-rata penggunaan sekitar lima jam per hari.
Meski begitu, ia menekankan bahwa tingginya penggunaan teknologi tidak serta-merta menjadikan teknologi sebagai sumber persoalan.
“Kita enggak bisa menyalahkan teknologi ataupun gawainya, karena bukan itu akar dari masalahnya,” sorot Lailan.
Menurutnya, teknologi merupakan bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Persoalan yang perlu diperhatikan adalah relasi antara manusia dan teknologi, termasuk siapa yang mengendalikan dan siapa yang dikendalikan.
Orang tua, kata Lailan, perlu melihat apakah anak menggunakan teknologi sebagai alat atau justru perhatian anak telah dikendalikan oleh teknologi. Ketika anak lebih banyak mendapatkan pengaruh dari layar dibandingkan keluarga, persoalannya tidak lagi sebatas durasi penggunaan gawai, tetapi menyangkut pendidikan dan keteladanan.
Tiga Krisis Anak di Era Digital
Lebih lanjut, Lailan menyebut setidaknya terdapat tiga krisis yang dapat muncul ketika anak kehilangan sosok teladan, yakni: krisis otoritas, krisis identitas, serta krisis perhatian.
Krisis otoritas, kata dia, muncul ketika anak lebih mempercayai figur yang mereka lihat di media sosial dibandingkan orang tua. Influencer atau figur publik dapat menjadi rujukan perilaku anak, termasuk ketika perilaku yang ditampilkan tidak sesuai dengan nilai yang ingin ditanamkan keluarga.
Sementara itu, ia menjelaskan bahwa krisis identitas dapat terjadi ketika anak membangun penilaian negatif terhadap dirinya karena terus membandingkan diri dengan orang lain di ruang digital.
Dalam kondisi tersebut, ia mendorong pada orang tua untuk senantiasa membantu anak mengenali nilai positif dalam dirinya. Penanaman nilai keislaman juga perlu dilakukan secara konkret agar anak memahami bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Lailan mencontohkan konsep takwa yang perlu dijelaskan melalui perilaku sederhana, seperti berkata baik, bersikap lembut, menjaga kebersihan, dan membangun kebiasaan positif.
Kemudian, krisis perhatian, menurut Lailan berkaitan dengan kebiasaan mencari pengakuan melalui media sosial. Jumlah tanda suka, komentar, maupun tayangan dapat menjadi ukuran penerimaan diri bagi seseorang. Menurutnya, kebutuhan terhadap validasi yang berlebihan dapat terbawa hingga dewasa dan memengaruhi relasi seseorang dengan keluarga maupun lingkungan sosial.
Pentingnya Keteladanan
Sebab itu, Lailan menekankan pentingnya pola pendidikan yang mengedepankan kasih sayang. Pendidikan anak tidak cukup dilakukan melalui larangan dan perintah, tetapi membutuhkan cinta, perhatian, dialog, pembiasaan, dan pengarahan.
“Anak-anak kita itu bukan membutuhkan remote control, tapi dia butuh role model,” tegasnya.
Orang tua, menurut Lailan, perlu menjadi figur yang dapat dilihat dan ditiru secara langsung oleh anak. Keteladanan tersebut dapat ditunjukkan melalui berbagai aktivitas sehari-hari, seperti beribadah, bersikap santun, berdialog, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, hingga menunjukkan cara menggunakan teknologi secara sehat.
Ia mengingatkan orang tua agar tidak menuntut anak melakukan sesuatu yang tidak mereka contohkan sendiri. Ia juga mengutip Surah Ash-Shaff ayat 2-3 yang mengecam orang-orang yang mengatakan sesuatu tetapi tidak mengerjakannya.
Salah satu contohnya adalah ketika orang tua meminta anak segera melaksanakan salat setelah azan berkumandang, sementara orang tua sendiri masih sibuk dengan telepon genggam. Ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan tersebut, kata Lailan, dapat menjadi persoalan dalam pendidikan anak.
Keteladanan, lanjutnya, perlu dibangun melalui hal-hal sederhana. Rasulullah saw. menjadi teladan dalam berbagai peran, baik sebagai suami, pemimpin, anggota masyarakat, orang berilmu, maupun panglima.
Karena itu, menurut Lailan, sekolah terbaik, fasilitas pendidikan terbaik, dan berbagai teori pendidikan tidak akan cukup apabila anak tidak memperoleh contoh yang baik di rumah.
Anak yang belajar salat di sekolah, misalnya, dapat mengalami kebingungan apabila tidak melihat orang tuanya melaksanakan salat di rumah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan perilaku anak tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah.
Ketika terjadi persoalan yang melibatkan pelajar, masyarakat kerap menghubungkannya dengan sekolah. Padahal, keluarga memiliki peran besar karena rumah merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak.
Lailan kemudian mengajak orang tua dan guru membangun kerja sama dalam mendidik anak. Menurutnya, menjadi ayah dan ibu juga merupakan tanggung jawab pendidikan yang tidak dapat dialihkan sepenuhnya kepada sekolah.
Keteladanan juga perlu dibangun di lingkungan masyarakat. Masyarakat, kata Lailan, memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan perilaku yang baik kepada anak-anak di sekitarnya dan tidak bersikap acuh ketika melihat persoalan yang menimpa anak lain.
Mendorong Lima Keteladanan
Lebih jauh, Lailan mengajak keluarga untuk “merebut kembali” ruang keteladanan yang semakin luas di era digital. Menurutnya, hal itu dapat dilakukan melalui setidaknya lima bidang.
Pertama, keteladanan dalam ibadah dengan membiasakan anak melihat orang tua melaksanakan salat dan membaca Al-Qur’an.
Kedua, keteladanan dalam penggunaan teknologi dengan membuat aturan mengenai waktu dan ruang penggunaan gawai serta memperhatikan konten yang dikonsumsi anak.
Ketiga, keteladanan dalam mengelola emosi, termasuk menunjukkan kepada anak bagaimana meminta maaf, berdialog, dan menyikapi perbedaan pendapat.
Keempat, keteladanan dalam literasi dengan menghadirkan budaya membaca dan belajar di rumah.
Kelima, keteladanan dalam kepedulian sosial melalui kegiatan nyata seperti menjenguk orang sakit, bersedekah, dan membantu tetangga.
Selain itu, Lailan juga mendorong keluarga membangun kebiasaan sederhana, salah satunya menyediakan waktu setidaknya 10 menit setiap hari untuk berbicara dengan anak tanpa gangguan telepon genggam.
Makan bersama juga dapat menjadi ruang dialog keluarga. Orang tua dapat menanyakan aktivitas anak di sekolah, mendengarkan ceritanya, dan membangun komunikasi tanpa gangguan layar.
Keluarga, lanjut Lailan, juga dapat membiasakan salat berjamaah, membaca Al-Qur’an bersama, menceritakan kisah para nabi dan orang-orang yang berhasil memperbaiki kehidupannya, serta menanyakan apa yang dilihat dan dilakukan anak di internet tanpa langsung menghakimi.
Evaluasi, menurut Lailan, juga perlu diarahkan kepada orang tua sendiri. Mereka perlu bertanya apakah perilaku yang selama ini ditunjukkan layak ditiru oleh anak. “Yang harus pertama berubah bukanlah anak kita, tapi kita sebagai orang tua,” tandasnya.
Menurut Lailan, tantangan pendidikan anak di era digital bukan sekadar membatasi apa yang dilihat melalui layar. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan anak memiliki figur nyata yang dapat menjadi rujukan ketika mereka mengalihkan pandangan dari layar.
Ia kembali menekankan keteladanan sebagai salah satu fondasi pendidikan dan perubahan sosial. “Teladan, teladan, teladan. Pokoknya keteladanan itu adalah hal yang paling dasar, paling utama dalam segala situasi yang ada,” katanya.
Lailan berharap, keluarga dapat melahirkan generasi yang berkemajuan dan unggul, sekaligus tetap menjaga iman, amal, dan akhlak sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.***













