MAKLUMAT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga mempersempit habitat satwa endemik seperti orangutan, bekantan, dan burung rangkong.
Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi NasDem, Rajiv meminta pemerintah menjadikan perlindungan satwa sebagai bagian penting dalam penanganan karhutla.
Menurut Rajiv, Kalimantan memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Kawasan tersebut menjadi habitat berbagai satwa dan tumbuhan langka, termasuk orangutan, bekantan, burung rangkong, pohon ulin, serta beragam spesies anggrek.
“Karhutla bukan hanya membakar pepohonan, tetapi juga menghancurkan sumber makanan, air, dan habitat satwa,” kata Rajiv kepada wartawan, Kamis (3/9/2026).
Satwa Terancam Meski Api Padam
Rajiv mengingatkan ancaman karhutla terhadap satwa tidak berakhir setelah petugas memadamkan api. Hilangnya hutan membuat satwa yang berhasil menyelamatkan diri kesulitan mendapatkan makanan dan tempat berlindung.
Kondisi itu juga dapat meningkatkan konflik antara satwa dan manusia. Satwa yang kehilangan habitat berpotensi masuk ke perkebunan, hutan sekunder, hingga permukiman warga untuk mencari makanan.
Karena itu, pemerintah perlu mengubah pola penanganan karhutla. Penanganan tidak boleh hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah meluas, tetapi harus mengutamakan pencegahan berbasis risiko.
Pemerintah juga perlu melibatkan kementerian terkait, aparat penegak hukum, pemerintah daerah, pemegang konsesi, masyarakat adat, serta warga di sekitar kawasan hutan.
“Setiap titik panas harus segera diverifikasi dan ditelusuri sumbernya sebelum berkembang menjadi kebakaran besar,” tegas Rajiv.
Perlindungan Satwa Harus Masuk Sistem Karhutla
Rajiv meminta Kementerian Kehutanan bersama Kementerian Lingkungan Hidup menyiapkan protokol khusus untuk menyelamatkan satwa terdampak karhutla.
Protokol tersebut antara lain mencakup pemetaan habitat dan koridor satwa, pembentukan tim penyelamatan, layanan kesehatan satwa, penyediaan habitat sementara, serta pemantauan kondisi satwa setelah kebakaran.
Perlindungan juga tidak cukup dilakukan di kawasan konservasi. Pemerintah harus memperkuat koridor ekologis dan areal preservasi agar satwa tetap memiliki jalur untuk berpindah dan mencari sumber makanan.
Kerja sama dengan pemegang konsesi dan masyarakat sekitar hutan juga menjadi bagian penting dalam upaya tersebut.
“Jangan sampai kita hanya menyelamatkan hutan dari api, tetapi kehilangan kekayaan hayati yang ada di dalamnya,” tandas Rajiv.
Karhutla Bukan Sekadar Soal Api
Karhutla Kalimantan menunjukkan bahwa dampak kebakaran tidak berhenti pada luas lahan yang terbakar atau pekatnya asap. Ketika habitat rusak, satwa kehilangan rantai kehidupan yang menopang keberlangsungan mereka.
Masalah berikutnya adalah efek berantai. Hilangnya sumber makanan dapat mendorong satwa keluar dari habitatnya dan mendekati kawasan manusia. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut berpotensi memicu konflik baru sekaligus mempercepat penurunan populasi satwa langka.
Karena itu, keberhasilan penanganan karhutla semestinya tidak hanya diukur dari seberapa cepat api dipadamkan. Pemerintah juga perlu memastikan habitat pulih, koridor ekologis tetap terhubung, dan satwa terdampak mendapat penanganan.












