Wagub Jatim Emil Dardak Beber Strategi Sekat Bakar Tangani Karhutla

MAKLUMAT – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) mengandalkan pembuatan sekat bakar untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas, terutama di kawasan pegunungan dengan medan curam yang sulit dijangkau petugas. Strategi ini diperkuat dengan patroli dan pengerahan personel gabungan untuk melokalisasi pergerakan api.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, penanganan karhutla menghadapi kendala akses menuju sejumlah titik api. Kondisi geografis yang terjal membuat pemadaman secara langsung tidak selalu memungkinkan.

“Kata kuncinya adalah patroli. Ada lokasi kebakaran yang bisa dijangkau dan ada yang tidak bisa dijangkau. Yang tidak bisa dijangkau, fokus kita adalah antisipasi dengan membuat sekat bakar agar api tidak melebar ke permukiman warga maupun memperluas area kebakaran,” ujar Emil di Gedung DPRD Jatim, Surabaya, Senin (19/10/2026).

Menurut Emil, sekat bakar berfungsi membatasi pergerakan api agar tidak merambat ke kawasan lain. Langkah ini menjadi salah satu upaya pencegahan, khususnya di lokasi yang sulit diakses melalui jalur darat.

Karhutla dilaporkan melanda sejumlah kawasan pegunungan dan perbukitan di Jawa Timur, antara lain Gunung Bromo di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Gunung Arjuno, Gunung Ringgit di Situbondo, Gunung Argopuro, serta Pusung Lingker di Probolinggo.

Baca Juga  Pastikan Anak Tak Putus Sekolah, Emil Dardak: Bukan Tambah Kursi Negeri, Tapi Beasiswa di Sekolah Swasta

BMKG Juanda juga mencatat sejumlah wilayah dengan tingkat kewaspadaan tinggi terhadap karhutla, yakni Probolinggo, Mojokerto, Bondowoso, Jember, dan Pasuruan.

Berdasarkan pemetaan titik api sejak Agustus hingga Oktober 2026, sebanyak 79 persen berada di kawasan konservasi, 14 persen di wilayah Perum Perhutani, dan 7 persen di Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo yang menjadi kewenangan Pemprov Jatim.

Untuk mengendalikan kebakaran, Pemprov Jatim mengerahkan personel gabungan yang terdiri atas 53 anggota Manggala Agni Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, polisi hutan (polhut), dan relawan terlatih. Mereka bertugas melakukan pemadaman sekaligus membuat sekat untuk membatasi penyebaran api.

Emil menegaskan, keselamatan petugas harus menjadi prioritas dalam setiap operasi penanganan karhutla. Hal itu penting mengingat medan yang sulit dan risiko tinggi selama proses pemadaman.

“Kombinasi antara Polisi Hutan, Manggala Agni, dan relawan terlatih bahu-membahu melakukan pemadaman serta penyekatan. Namun, saya tegaskan kata kuncinya: keselamatan petugas adalah prioritas nomor satu, tidak boleh ada petugas yang menjadi korban,” tegasnya.

Pemprov Jatim juga terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait kemungkinan dukungan pemadaman melalui udara atau water bombing. Emil mengakui, alokasi armada udara nasional saat ini masih berfokus pada penanganan karhutla di Kalimantan dan Sumatera.

Baca Juga  Wagub Jatim: Politisi Mengejar Kemenangan, Negarawan Membangun Legacy

Meski demikian, koordinasi terus dilakukan untuk membuka peluang bantuan udara apabila kondisi kebakaran di Jawa Timur membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Karhutla di kawasan TNBTS dan Probolinggo sebelumnya mengakibatkan empat orang dari unsur petugas meninggal dunia saat proses pemadaman. Sejumlah korban lainnya mengalami luka bakar serius.

Emil menyampaikan, dua korban luka bakar masih menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Kondisi keduanya dilaporkan sangat kritis dan terus dipantau oleh tim medis.

“Dua korban kondisinya masih sangat kritis di RSUD dr. Soetomo. Setiap hari kami terus memantau update perkembangan medisnya karena luka bakarnya cukup serius. Pemantauan dan perawatan intensif di ICU terus dilakukan oleh tim dokter, mari kita doakan yang terbaik untuk kesembuhan mereka,” pungkasnya.