1.700 Orang Keracunan MBG dalam Tiga Hari

keracunan mbg

MAKLUMAT – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali diterpa kasus keracunan makanan. Dalam tiga hari, lebih dari 1.700 siswa dan warga di sejumlah daerah dilaporkan jatuh sakit setelah mengonsumsi makanan Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kasus terbaru terjadi di Jawa Tengah. Sebanyak 777 siswa dan 25 guru SMAN 1 Lasem, Rembang, Jawa Tengah diduga keracunan MBG. Para siswa mengeluhkan diare, hingga toilet sekolah tak mampu menampung antrean, Rabu (2/9/2026).

Kepala sekolah Juhartutik mengatakan petugas pencicip makanan sempat menemukan sebagian ayam dalam kondisi berlendir sebelum makanan dibagikan.

“Makanan yang berlendir sudah dipisahkan. Operator dapur menyebut makanan tersebut dimasak sekitar pukul 03.00 dan baru dikonsumsi siswa pada siang hari,” kata Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik dikutip, Jumat (4/9/2026).

Menurut Juhartutik, sebagian besar korban kemudian diperbolehkan pulang. Namun, 15 siswa dan guru harus mendapat perawatan di rumah sakit, menurut dokter setempat Joko Paryanto.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono memastikan pemerintah menangani kasus tersebut secara serius. Pernyataan itu disampaikan dalam rapat bersama parlemen yang membahas pelaksanaan program MBG.

Sidoarjo, Nganjuk hingga Agam Ikut Terdampak

Kasus keracunan MBG juga muncul di sejumlah daerah lain. Di Sidoarjo, Jawa Timur, sebanyak 664 siswa dilaporkan mengalami keracunan pada Selasa (1/9/2026). Dapur yang diduga berkaitan dengan kasus tersebut kemudian menghentikan operasionalnya pada Rabu (2/9/2026).

Baca Juga  Anang Supriatna Tegaskan Surat Edaran Penghentian Pengumpulan Data MBG Bukan Hentikan Penyidikan

Sehari kemudian, kasus kembali muncul di Nganjuk, Jawa Timur, dengan 49 orang terdampak. Sementara di Agam, Sumatera Barat, sebanyak 237 orang dilaporkan mengalami keracunan.

Jika digabungkan dengan kasus di Lasem, jumlah korban dalam rangkaian kejadian tersebut telah melampaui 1.700 orang hanya dalam tiga hari.

Anggota DPR RI Charles Honoris menilai rentetan kasus tersebut tidak bisa dipandang sebagai kejadian terpisah.

“Ini merupakan kegagalan sistem,” tulis Charles melalui akun Instagram-nya.»

Charles juga mengutip data dinas kesehatan yang menyebut sekitar 50.000 orang telah terdampak kasus keracunan makanan hingga 1 September 2026.

Keamanan Pangan Jadi Sorotan

MBG merupakan salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah mengalokasikan sekitar US$12,94 miliar untuk menjalankan program yang menyasar puluhan juta penerima manfaat tersebut. Namun, persoalan keamanan pangan terus menjadi tantangan.

Kasus keracunan berulang membuat rantai pasok, penyimpanan makanan, proses memasak, waktu distribusi, hingga pengawasan dapur menjadi titik yang harus diperketat.

Dalam kasus Lasem, misalnya, makanan dimasak pada dini hari dan baru dikonsumsi siang hari. Jarak waktu tersebut menjadi perhatian penting dalam memastikan makanan tetap aman dikonsumsi.

Kepuasan Publik Ikut Tertekan

Baca Juga  80 Kepala Desa Terpilih di Sidoarjo Resmi Dilantik, Bupati Subandi Minta Fokus Bangun Desa

Persoalan keamanan pangan juga berpotensi memengaruhi penerimaan masyarakat terhadap MBG.

Survei Saiful Mujani Research and Consulting pada Juli 2026 menunjukkan hanya sekitar sepertiga masyarakat menyatakan puas terhadap program tersebut.

Kasus keracunan makanan menjadi salah satu faktor yang ikut memengaruhi tingkat kepuasan publik.

MBG Tak Cukup Hanya Kejar Target Penerima

Rentetan kasus keracunan menunjukkan bahwa keberhasilan MBG tidak bisa hanya diukur dari seberapa banyak makanan yang berhasil dibagikan. Keamanan makanan harus menjadi ukuran utama.

Program yang menyasar puluhan juta anak membutuhkan sistem pengawasan berlapis, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, penyimpanan, pemeriksaan makanan, pengemasan hingga distribusi ke sekolah.

Kasus di Lasem juga menunjukkan pentingnya pengendalian waktu. Makanan yang dimasak terlalu dini kemudian dikonsumsi berjam-jam setelahnya membutuhkan standar penyimpanan dan pengawasan suhu yang ketat.

Karena itu, setiap kejadian keracunan harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh. Pemerintah tidak cukup hanya menghentikan dapur yang bermasalah setelah korban berjatuhan.

MBG harus memastikan makanan yang bergizi sekaligus aman sebelum sampai ke meja anak-anak.