Abu Vulkanik Anak Krakatau Bergerak ke Sumatera Barat, Kemenhub Sebut Penerbangan Soekarno-Hatta Masih Aman

Abu Vulkanik Anak Krakatau

 

MAKLUMAT — Sebaran abu vulkanik Anak Krakatau terpantau meluas ke sejumlah wilayah di Sumatera dan Jawa. Berdasarkan analisis citra RGB Himawari-9 pada Sabtu (5/9/2026) pukul 19.00 WIB, teridentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik dengan ketinggian mencapai 50.000 kaki. Informasi tersebut disampaikan akun Instagram BMKG Lampung berdasarkan data PVMBG, VAAC Darwin, dan analisis citra satelit Himawari-9.

Dua Klaster Abu Vulkanik

Klaster pertama teridentifikasi dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki. Sebarannya bergerak ke arah tenggara-selatan, mencakup sebagian wilayah Banten dan Jawa Barat serta perairan di sekitarnya.

Klaster kedua memiliki sebaran dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki. Abu vulkanik bergerak ke arah barat daya-barat laut, mencakup sebagian wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Barat. Sebaran abu juga terpantau di Selat Sunda bagian selatan serta Samudera Hindia di sebelah barat Lampung dan Banten.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by BMKG Lampung (@bmkglampung)

Soekarno-Hatta Tetap Beroperasi Normal

Di tengah meluasnya sebaran abu vulkanik tersebut, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan memastikan operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta tetap aman, normal, dan lancar.

Baca Juga  Abu Anak Krakatau Masuk Jakarta, Bandara Soekarno-Hatta Ditutup, 33 Penerbangan Terdampak

Informasi aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau diterima Ditjen Perhubungan Udara melalui laporan Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Berdasarkan ASHTAM Nomor VAWR3739 yang diterbitkan pukul 09.10 WIB, sebaran abu vulkanik berada sekitar 31,4 kilometer dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Sebaran tersebut juga terpantau sekitar 18,5 kilometer dari Bandara Pondok Cabe dan 31,4 kilometer dari Bandara Halim Perdanakusuma.

Meski demikian, hasil pengamatan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta menggunakan paper test VA hingga saat ini belum mendeteksi keberadaan abu vulkanik.

Kemenhub Pantau Arah Sebaran Abu

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa mengatakan keselamatan penerbangan menjadi prioritas dalam menghadapi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

“Kami terus melakukan pemantauan dan koordinasi secara intensif dengan seluruh pihak terkait untuk memastikan keselamatan penerbangan serta kelancaran operasional bandar udara,” ujar Lukman dikutip dari Info Publik.

Ditjen Perhubungan Udara berkoordinasi dengan BMKG, AirNav Indonesia, pengelola bandar udara, dan maskapai penerbangan untuk memantau perkembangan kondisi vulkanik.

Pemantauan terutama diarahkan terhadap kemungkinan perubahan arah dan sebaran abu vulkanik yang dapat memengaruhi wilayah operasional penerbangan.

Maskapai dan seluruh pemangku kepentingan penerbangan juga diminta meningkatkan kewaspadaan serta mengikuti informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Baca Juga  Erupsi Anak Krakatau Disertai Gemuruh, Badan Geologi: Status Level III

Informasi tersebut disampaikan antara lain melalui NOTAM (Notice to Airmen) dan ASHTAM (volcanic ash advisory) yang menjadi acuan dalam pengambilan keputusan operasional penerbangan.

Warga Diminta Kurangi Aktivitas Outdoor

BMKG Lampung mengimbau warga yang berada di sekitar wilayah sebaran abu vulkanik untuk meningkatkan kewaspadaan.

Masyarakat diminta menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama di wilayah yang berada dalam jalur sebaran abu.

Sementara itu, perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan pergerakan abu vulkanik terus dipantau melalui data pengamatan gunung api, laporan meteorologi, serta citra satelit.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemantauan secara berkelanjutan karena arah dan cakupan sebaran abu dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer.***