Indonesia Sedang Diuji atau Diazab?

MAKLUMAT — Ibu Pertiwi sedang berduka. Kawasan sebelah utara, Kalimantan dan Sumatera, sedang pengap oleh asap kebakaran hutan dan lahan. Asapnya sudah bergerak ke negeri tetangga, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Filipina. Di selatan, Jakarta, Lampung, Banten dan Jawa Barat, sedang berjibaku dengan abu vulkanik erupsi Gunung Api Anak Krakatau.

Di belahan Indonesia timur, dampak gempa bumi Flores berkekuatan magnitudo 7,7 belum pulih sepenuhnya. Ibarat orang kena pukulan hook, Flores belum siuman dari pingsan akibat gempa dahsyat itu. Gunung-gunung seperti bangun dari tidurnya. Gunung Semeru, Ili Lewotolok, dan Gunung Ibu, meletus hampir bersamaan. Alam seolah memberi peringatan kepada bangsa ini. Indonesia sedang diuji atau diazab?

Penulis:Edi Purwanto*

Bila merujuk ajaran Islam, barangkali Indonesia sedang berada dalam fase istidraj, sebuah istilah dalam agama Islam yang berarti jebakan berupa kenikmatan duniawi. Secara sederhana, istidraj terjadi ketika seseorang terus berbuat dosa dan melupakan Tuhan, tetapi hidupnya justru terlihat semakin sukses, kaya, dan bahagia. Kenikmatan itu bukan hadiah atau berkah, melainkan hukuman yang ditunda agar semakin jauh dari kebenaran.

Pertanyaannya kemudian, apa yang membuat kita merasa sedang menikmati kelimpahan? Indonesia hari ini dikaruniai kekayaan luar biasa. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan, total aset negara Republik Indonesia mencapai Rp14.600,98 triliun.

Belum lagi kekuatan ekonominya. Menurut proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF), nilai Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Indonesia berada di angka US$1,54 triliun, atau sekitar Rp24.000 triliun lebih.

Indonesia juga memiliki kekayaan alam yang luar biasa: nikel, tembaga, emas, gas alam, batu bara, tanah yang subur, laut yang luas, hutan tropis, keanekaragaman hayati, hingga kekayaan budaya.

Baca Juga  RI Fokus Dorong Gencatan Senjata Setelah Terpilihnya Pemimpin Baru Hamas

Potensi sumber daya alamnya bahkan diperkirakan mencapai lebih dari Rp200.000 triliun jika seluruh cadangan tersebut dihitung dalam nilai ekonomi.

Kekayaan itu tidak berhenti pada sumber daya alam. Indonesia memiliki Raja Ampat dan Bunaken, Komodo dan orangutan, terumbu karang, serta warisan budaya seperti Borobudur, wayang, batik, dan pencak silat yang diakui dunia.

Jadi, kalau kekayaan adalah ukuran nikmat, Indonesia jelas bukan negeri yang kekurangan nikmat.

Tetapi di balik limpahan kekayaan itu, ada ironi. Negeri yang begitu kaya juga harus berhadapan dengan persoalan yang menggerogoti kekayaannya dari dalam: korupsi.

Berbagai kasus korupsi dengan nilai kerugian mencapai ratusan triliun rupiah menunjukkan betapa besar kebocoran yang terjadi. Di antaranya kasus tata niaga timah dengan nilai kerugian sekitar Rp300 triliun, tata kelola minyak mentah dan produk kilang Pertamina sekitar Rp285 triliun, BLBI sekitar Rp138 triliun, serta kasus Duta Palma sekitar Rp104,1 triliun.

Modusnya pun berulang: penyuapan dan gratifikasi, manipulasi pengadaan barang dan jasa, serta penyalahgunaan anggaran.

Pelakunya datang dari berbagai latar belakang, mulai dari pihak swasta dan korporasi, aparatur sipil negara, anggota legislatif, hingga kepala daerah.

Kekayaan sedemikian besar, tetapi kebocoran juga sedemikian besar.

Pada titik ini, pertanyaan tentang istidraj kembali menemukan tempatnya.

Secara sederhana, tanda-tanda istidraj dapat dilihat ketika ibadah semakin luntur tetapi harta semakin makmur; kesenangan dunia terasa semakin besar, tetapi hati justru semakin jauh dari Tuhan; dan keberhasilan membuat seseorang semakin sombong, seolah semuanya lahir dari kekuatannya sendiri.

Baca Juga  Dari Bencana ke Bencana

Istidraj seperti seseorang yang diberi tali sangat panjang saat memanjat pohon. Ia merasa semakin bebas bergerak dan semakin tinggi naik, padahal tanpa disadari ia sedang berada semakin dekat dengan kejatuhan.

Sebaliknya, nikmat yang menjadi berkah justru membuat seseorang semakin dekat kepada Tuhan, rendah hati, bersyukur, gemar berbagi, dan menggunakan hartanya untuk kebaikan.

Singkatnya: jika nikmat membuat kita semakin jauh dari Tuhan, itulah yang patut ditakuti. Jika nikmat membuat kita semakin dekat dan bersyukur, itulah berkah.

Hari ini, Indonesia sedang dirundung duka. Bencana alam datang silih berganti. Dari gempa bumi magnitudo 7,7, kebakaran hutan dan lahan, hingga yang terbaru erupsi Gunung Anak Krakatau.

Indonesia kaya akan sumber daya alam, keanekaragaman hayati, dan budaya yang melimpah.

Jika Allah mengazab Indonesia, secara teologis hal itu berada sepenuhnya dalam kehendak-Nya. *Kun fayakun. *Tsunami dapat datang sewaktu-waktu. Gunung-gunung dapat meletus. Dalam sekejap, peradaban yang dibangun nusantara dapat luluh lantak.

Dalam sejarah Islam, Al-Qur’an menceritakan berbagai kaum terdahulu yang membangkang, berbuat zalim, dan menolak ajakan para nabi. Karena kesombongan dan kemaksiatan yang melampaui batas, mereka mendapatkan azab sebagai pelajaran bagi umat manusia.

Kaum Nabi Nuh AS, misalnya, menolak dakwah dan tetap menyembah berhala. Mereka kemudian ditenggelamkan oleh banjir besar.

Kaum ‘Ad, umat Nabi Hud AS, dikenal sombong karena kekuatan dan kemegahan mereka. Mereka kemudian dihancurkan oleh angin yang sangat dahsyat.

Baca Juga  27 Tahun Lengsernya Soeharto, Akhir Orba di Tengah Krisis Ekonomi, Politik, dan Demonstrasi 1998

Kaum Tsamud, umat Nabi Saleh AS, menolak kebenaran dan membunuh unta yang menjadi mukjizat. Mereka kemudian dihancurkan oleh azab yang dahsyat.

Kaum Nabi Luth AS melakukan kemaksiatan dan menolak peringatan nabi mereka. Kota mereka kemudian dihancurkan.

Kaum Madyan dan Ashabul Aikah, umat Nabi Syuaib AS, dikenal melakukan kecurangan dalam perdagangan. Mereka juga mendapatkan azab setelah menolak peringatan.

Fir’aun dan pengikutnya menindas Bani Israil dan menolak kebenaran yang dibawa Nabi Musa AS. Mereka akhirnya ditenggelamkan.

Dan Karun, yang terkenal karena kekayaannya, justru menjadi contoh bagaimana harta dapat membuat seseorang sombong dan lupa kepada Allah. Ia akhirnya dibenamkan bersama rumah dan kekayaannya ke dalam bumi.

Kisah-kisah itu bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Ia menjadi pengingat bahwa kekayaan, kekuasaan, dan kemajuan tidak dengan sendirinya menjadi tanda bahwa manusia sedang berada dalam keadaan yang diridai Tuhan. Maka pertanyaannya kembali kepada kita: Apakah limpahan nikmat membuat Indonesia semakin dekat kepada Tuhan, atau justru semakin jauh?

Kita tentu tidak berhak memastikan bahwa bencana adalah azab atau kenikmatan adalah istidraj. Namun, semua itu layak menjadi bahan renungan. Ujian adalah cara Allah mengangkat derajat dan menghapus dosa, sedangkan azab adalah hukuman atas kezaliman dan kemaksiatan yang terus dilakukan.

Semoga bencana yang menerpa Indonesia menjadi ujian yang mendekatkan kita kepada Allah, bukan azab atas kemaksiatan yang terus dilakukan. Naudzubillah min dzalik.***