MAKLUMAT —Producer & Host Maklumat Podcast Rista Erfiana Giordano mengatakan kemampuan komunikasi publik menjadi bagian penting dalam kepemimpinan perempuan. Menurutnya, seorang pemimpin perlu mampu menyampaikan gagasan dengan cara yang membuat orang lain memahami pesan yang dibawa.
Hal itu ia sampaikan dalam Sekolah Politik Perempuan yang diadakan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur pada Sabtu (26/9/2026) di Amaris Hotel Darmo Surabaya.
“Pemimpin yang baik bukan hanya punya gagasan, tetapi mampu membuat orang lain memahami, percaya, dan mau bergerak bersama,” ujar perempuan yang juga adalah Redaktur Senior Maklumat.id tersebut.
Rista menjelaskan, komunikasi seorang pemimpin berhadapan dengan beragam pihak, mulai dari masyarakat, konstituen, media, pemerintah hingga pengguna media sosial. Karena itu, perempuan yang ingin terlibat dalam kepemimpinan perlu memahami apa yang disampaikan, kepada siapa pesan ditujukan, dan bagaimana cara menyampaikannya.
Ia kemudian mencontohkan isu keamanan perempuan. Menurut Rista, pernyataan seperti “meningkatkan perlindungan perempuan” masih terlalu umum. Pesan tersebut akan lebih mudah dipahami jika dikaitkan dengan kebutuhan konkret, seperti keamanan perempuan saat pulang kerja, kuliah, atau menggunakan transportasi umum.
“Jangan hanya sebut masalah, tunjukkan kebutuhan dan solusi nyata,” ujarnya.
Dalam sesi tersebut, Rista juga mengajak peserta menggunakan satu pesan utama dalam setiap kesempatan berbicara. Pesan itu dapat disusun dengan melihat persoalan, data yang relevan, dampak yang muncul, lalu solusi yang bisa diperjuangkan. Ia mengingatkan peserta agar tidak memenuhi komunikasi dengan terlalu banyak angka atau istilah yang sulit dipahami.
Menurutnya, data perlu membantu audiens memahami persoalan. Karena itu, satu data sebaiknya diikuti makna dan solusi yang jelas. Pendekatan tersebut dapat digunakan dalam pidato, wawancara media, rapat organisasi maupun komunikasi melalui media sosial.
“Angka ini bukan sekadar persentase. Di baliknya ada suara perempuan yang belum terwakili,” jelasnya.
Rista juga membahas cara menyampaikan kritik dalam ruang publik. Ia mendorong peserta mengarahkan kritik pada kebijakan atau gagasan, bukan menyerang pribadi seseorang. Kritik juga perlu disertai alasan yang jelas dan disampaikan dengan tetap menjaga kesantunan.
Dalam komunikasi persuasif, ia mengenalkan unsur logika dan data, pengalaman serta perasaan, dan kredibilitas pembicara. Menurutnya, meyakinkan orang lain tidak sama dengan memaksa mereka menerima pendapat. Pembicara perlu memberi ruang agar audiens memahami pesan sebelum mempertimbangkannya.
“Tegas tidak harus kasar. Santun tidak berarti lemah.” tegasnya.
Selain materi tentang penyusunan pesan, Rista memberikan sejumlah teknik dasar public speaking. Peserta diajak memperhatikan suara, intonasi, jeda, kontak mata, dan gerak tubuh ketika berbicara di depan umum. Ia juga menyarankan peserta mengingat gagasan utama daripada menghafalkan teks kata demi kata.
Untuk menguji materi, peserta mengikuti simulasi pidato selama tiga menit per kelompok. Salah satu kasus yang diberikan berkaitan dengan perempuan pelaku UMKM yang menghadapi kendala dalam pelatihan, pemasaran digital, permodalan, dan pendampingan usaha.
Rista meminta peserta menyusun pidato dengan alur pembuka, masalah, data, dampak dan solusi, lalu penutup. Ia juga mengingatkan agar peserta tidak mengarang data ketika menyampaikan persoalan publik.
“Komunikasi publik bukan soal siapa paling pintar bicara, soal membuat gagasan kita dipahami orang lain,” katanya.
*) Penulis: M Habib Muzaki













