FSPPB: Reintegrasi Pertamina Pangkas Biaya, Memungkinkan BBM Murah

MAKLUMAT — Reintegrasi Pertamina dari hulu hingga hilir tidak hanya menyangkut perubahan struktur perusahaan. Menurut Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB), integrasi tersebut memungkinkan harga BBM murahkarena sejumlah biaya dan proses yang muncul di sepanjang rantai bisnis dapat disederhanakan.

“Integrasi diperlukan agar proses penyediaan BBM, mulai minyak mentah hingga sampai ke konsumen, berada dalam satu sistem yang saling terhubung. Supaya apa? Supaya ada efisiensi,” kata Presiden FSPPB Arie Gumilar dalam pernyataannya, Kamis (1/10/2026).

Matai rantai yang dimaksud Arie meliputi pekerjaan di sektor hulu, kilang, transportasi, penyimpanan, distribusi, dan penyaluran kepada masyarakat. Dalam struktur yang terintegrasi, menurut FSPPB, kebutuhan minyak mentah dari hulu dapat langsung dihubungkan dengan kebutuhan kilang. Hasil pengolahan dikoordinasikan dengan transportasi, penyimpanan dan distribusi tanpa harus melalui rantai koordinasi yang panjang antarbadan usaha.

“Dampaknya bukan hanya pada struktur organisasi, tetapi juga mengurangi biaya yang muncul dalam setiap mata rantai tersebut,” ujar dia.

Salah satu komponen biaya tersebut adalah biaya transaksi dan koordinasi antarbadan usaha. Ketika fungsi berada dalam entitas yang berbeda, proses pengadaan, kontrak, administrasi, pengangkutan dan pembayaran harus dikelola melalui mekanisme antarbadan usaha. Sebaliknya kalau fungsi tersebut berada dalam satu sistem terintegrasi, prosesnya jauh lebih sederhana.

Baca Juga  FSPPB Sebut Harga BBM Bisa Rp5.000, Pertanyakan Konsumen Beli hingga Rp15.000

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro juga menjelaskan bahwa penyatuan fungsi kilang, perkapalan dan pemasaran dapat membuat proses operasional lebih sederhana.

Komaidi mencontohkan kebutuhan pengangkutan minyak yang dapat dikoordinasikan langsung antara fungsi pemasaran dan perkapalan ketika berada dalam satu sistem. “Integrasi akan membuat saling mendukung. Jadi, kalau satu rumah kan ibaratnya ketika ada pekerjaan, bisa dikerjakan bareng. Jadi lebih sederhana prosesnya,” kata Komaidi.

Dari Biaya Operasional ke Harga BBM

Berdasarkan simulasi FSPPB, biaya minyak mentah atau crude oil dihitung sekitar Rp566 per liter. Biaya pengolahan sekitar Rp1.486 per liter, sedangkan logistik, distribusi, perkapalan dan pemasaran sekitar Rp1.500 per liter. Dengan demikian, total simulasi sebelum pajak dan pungutan mencapai sekitar Rp3.552 per liter.

Setelah ditambahkan pajak dan pungutan sekitar Rp853 per liter, total dalam simulasi FSPPB mencapai sekitar Rp4.405 per liter.

Harga tersebut memang baru simulasi. Namun demikian, simulasi itu bisa menunjukkan bagian proses mana yang bisa dipangkas. Misalnya, fungsi yang sama tidak perlu digandakan pada beberapa entitas. Proses administrasi antarbadan usaha dapat dikurangi. Koordinasi pengangkutan dapat dilakukan dalam satu sistem. Penggunaan fasilitas penyimpanan dapat direncanakan berdasarkan kebutuhan seluruh rantai pasok. Distribusi juga dapat disesuaikan dengan sumber pasokan dan kebutuhan wilayah.

Baca Juga  FSPPB Sebut Harga BBM Bisa Rp5.000, Pertanyakan Konsumen Beli hingga Rp15.000

Reintegrasi Pertamina memungkinkan konsumen membeli BBM dengan harga lebih rendah dari saat ini. Sebab integrasi memangkas rantai penyediaan BBM, yang tentunya mengurangi biaya sehingga berpengaruh pada kebijakan penentuan harga. Itu sebabnya, Arie Gumilar menegaskan tujuan besar FSPPB bukan hanya menurunkan harga BBM.

Menurut dia, BBM murah sangat mungkin terwujud dengan sendirinya bila mata rantai hulu sampai hilir minyak diperbaiki. Inilah salah satu alasan FSPPB menyuarakan pengembalian Pertamina sebagai perusahaan minyak nasional yang mengelola seluruh rantai bisnis secara terintegrasi melalui Rancangan Undang-Undang Minyak Bumi dan Gas (RUU Migas).

“Penggabungan hilir merupakan langkah awal yang baik, namun perjuangan kami tetap pada reintegrasi total Pertamina sebagai perusahaan negara yang terintegrasi dari hulu ke hilir,” ujar Arie.