Gerung yang Tak Lagi Garang?

Penulis: Dr. Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag. *)

MAKLUMAT — Politik Indonesia sering membuat kita kehabisan bahan untuk terkejut. Orang yang kemarin menggedor pintu kekuasaan, hari ini bisa duduk di ruang tamunya. Tuan rumah menyambut ramah, kursi disediakan, percakapan pun dimulai. Kita yang menonton dari luar hanya bisa bertanya-tanya apakah gedoran tadi akhirnya didengar, atau penggedornya sudah merasa cukup nyaman untuk berhenti mengetuk.

Pertanyaan itu muncul setelah Rocky Gerung dilantik Presiden Prabowo Subianto menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden pada 2 Oktober 2026 lalu. Selama ini, banyak orang mengenalnya sebagai pengkritik dengan lidah tajam dan kalimat yang gampang membuat suasana panas. Sekarang ia ikut memberi pertimbangan kepada presiden. Gerung masuk gedung. Kegarangannya tentu belum bisa dinyatakan hilang hanya karena ia mendapat kursi.

Kritiknya terhadap iuran Tapera pada Juni 2024 memberi contoh konkret. Dalam pernyataan yang diberitakan AyoBandung pada 14 Juni, Rocky menyebut kebijakan itu “pemerasan berbasis hukum oleh negara” dan mempersoalkan dasar keadilannya. Pilihan katanya memperlihatkan keberanian menantang pembenaran pemerintah, terlepas dari apakah kita menyetujui seluruh penilaiannya.

Presiden memang membutuhkan orang yang berani membantah. Seusai pelantikan, Rocky menegaskan bahwa Wantimpres perlu bersikap kritis terhadap kebijakan. Kita pegang pernyataan itu sebagai janji yang kelak dapat diuji, terutama ketika nasihatnya berhadapan dengan keputusan yang merugikan masyarakat.

Ketika Pengkritik Diajak Masuk

Meski begitu, sejarah memberi kita cukup alasan untuk tidak lekas bertepuk tangan. Antonio Gramsci membahas persoalan semacam ini melalui konsep trasformismo. Istilah yang sudah dikenal dalam politik Italia itu ia gunakan untuk membaca penyerapan tokoh-tokoh oposisi ke dalam blok penguasa. Dalam pengalaman Italia setelah penyatuan, termasuk akhir abad kesembilan belas, para penentang bisa kehilangan kepemimpinan tanpa harus kalah dalam pertarungan terbuka.

Baca Juga  Bencana Aceh Belum Usai, Pikiran Belum Tenang, Koperasi Merah Putih Jalan Terus?

Cara kerjanya tidak selalu gaduh. Seorang tokoh diajak masuk, lalu tokoh lain menyusul. Hubungan berubah, tuntutan dilunakkan, dan barisan yang semula lantang pelan-pelan kehilangan tenaga. Kalau dibawa ke obrolan warung kopi, gambarannya sederhana. Orang yang paling cerewet dalam sebuah acara diangkat menjadi panitia. Ia masih boleh mengeluh, tentu saja. Hanya saja, sekarang ia juga harus memikirkan bagaimana acara itu tetap berjalan.

Dalam tulisan ini, Rocky dibahas sebagai pengkritik publik. Analogi trasformismo terbatas pada mekanisme penyerapan pengkritik, bukan penyamaan kedudukannya dengan pemimpin oposisi Italia. Pelantikannya belum membuktikan bahwa ia dijinakkan. Yang perlu diamati ialah apakah kritiknya tetap menyentuh sumber masalah atau perlahan sibuk menjelaskan mengapa pemerintah patut dimaklumi.

Edward Said memberi bekal lain lewat Representations of the Intellectual (1994). Baginya, intelektual perlu memelihara sikap sebagai orang luar dan amatir yang berani menyampaikan kebenaran kepada kekuasaan. Amatir bukan berarti kurang ahli. Yang dimaksud ialah orang yang berpikir dan bertindak karena kepedulian, sehingga pertimbangannya tidak habis diatur oleh karier, imbalan, atau keinginan menyenangkan pihak yang memberinya pekerjaan.

Dalam pembacaan saya, sikap itu masih mungkin dipertahankan meskipun seseorang berada di dalam pemerintahan. Persoalannya terletak pada kebebasan menilai. Bisakah ia mengatakan sebuah keputusan keliru setelah ikut duduk membahasnya? Sanggupkah ia membantah orang yang sudah menyambutnya dengan baik? Mengkritik orang yang jauh terasa lebih mudah. Setelah sering bertemu dan berbagi meja, biasanya kita mulai menemukan banyak alasan untuk memahami.

Baca Juga  "Satu Sekolah Satu Dapur": Perkuat Program MBG

Garang kepada Siapa?

Karena itulah saya menduga Rocky masih akan terdengar garang, tetapi sasaran kegarangannya mungkin menjadi lebih selektif. Dugaan ini berangkat dari perubahan kedudukannya. Kebiasaan berbicara tajam tidak serta-merta lenyap setelah pelantikan. Namun, keberanian menyentuh keputusan penting presiden kini mempunyai harga yang berbeda. Ada hubungan kerja yang harus dijaga dan kesempatan memberi pengaruh yang mungkin enggan dilepaskan.

Dahulu ia bisa menyampaikan kritik kepada publik lalu membiarkan pemerintah menjawab. Sebagai bagian dari lingkungan penasihat presiden, ia berpotensi menghadapi tuntutan untuk menjelaskan keputusan pemerintah, meskipun belum tentu terlibat dalam setiap keputusan. Ketika ikut memberi pertimbangan, orang cenderung merasa perlu membela hasilnya. Keberatan yang dulu mudah diucapkan bisa berubah menjadi penjelasan panjang tentang betapa rumitnya keadaan. Kerumitan memang nyata, tetapi warga yang dirugikan tetap membutuhkan jawaban.

Ada pula godaan yang terdengar masuk akal. Kritik sebaiknya disampaikan diam-diam agar hubungan tetap baik dan nasihat masih didengar. Itu bisa berguna. Masalahnya, publik tidak mempunyai akses untuk memeriksa seberapa keras perdebatan di dalam ruangan. Jika keputusan buruk terus berjalan, cerita tentang keberanian dalam rapat sulit dijadikan pegangan. Orang membutuhkan perubahan yang bisa dirasakan, bukan sekadar keyakinan bahwa seseorang telah berusaha.

Baca Juga  Lebaran dan Kebebasan Jiwa: Menyingkap Mentalitas Dominasi

Yang dipertaruhkan adalah kepentingan warga yang tidak punya jalan masuk ke istana. Ketika kebijakan memberatkan hidup mereka, suara pengkritik membantu membawa keluhan itu ke ruang publik. Jika suara tersebut berpindah ke rapat tertutup, siapa yang meneruskannya ketika nasihat tidak didengar? Kehadiran Rocky di dalam pemerintahan akan berarti jika akses barunya membuat persoalan warga lebih terdengar dan memperoleh tanggapan yang nyata.

Tentu Rocky bisa membantah prediksi ini dengan tindakannya. Ia dapat mempertahankan ukuran yang sama ketika menilai pemerintah maupun lawannya, mengakui kekeliruan tanpa mencari kambing hitam, dan mendorong perbaikan kebijakan. Jika keberatannya terhadap perkara mendasar terus diabaikan, keberanian meninggalkan jabatan akan berbicara lebih keras daripada sindiran. Di situlah kita mengetahui berapa banyak kenyamanan yang bersedia ia pertaruhkan.

Kita belum tahu kepada siapa kegarangan Rocky selanjutnya akan diarahkan. Kalimat pedas belum tentu menunjukkan jarak dari kekuasaan. Ia mungkin tetap mengundang tawa dan membuat lawan debat berkeringat. Namun, ujian sesungguhnya datang ketika orang yang perlu dikritik duduk di ujung meja rapat. Semoga saat itu Gerung masih garang. Sebab, kursi yang nyaman kadang membuat orang lupa mengapa dahulu ia memilih berdiri.***

*) Penulis: Dr. Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag.
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang