Revolusi Islam dan Rakyat Indonesia

Agiel Laksamana Putra, saat perayaan kemenangan Revolusi Islam yang diselenggarakan di Aula Kampus Ahlul Bayt International University, cabang Qom, pada 10 Februari 2026. (Foto: Dok./ IST)

MAKLUMAT — Tepat hari ini, 47 tahun yang lalu, adalah hari paling penting dalam sejarah modern Iran. Pada hari ini, 22 Bahman (bulan ke-11 dalam kalender matahari Iran) masyarakat Iran merayakan kemenangan Revolusi Islam 1979. Saat itu, revolusi yang dipimpin Ruhullah Imam Khomeini berhasil menggulingkan rezim monarki Shah Pahlevi yang dianggap brutal, korup, dan boros dalam menjalankan pemerintahan.

Sesaat setelah Revolusi Islam pecah, kemenangan itu sedikit banyak berdampak pada negara-negara lain. Peristiwa 22 Bahman bukan hanya mengubah peta politik Iran, tetapi juga geopolitik kawasan, hingga dunia. Semangat revolusi memantik masyarakat tertindas di negara lain untuk melakukan hal yang sama, tak terkecuali di Indonesia.

Banyak mahasiswa di Indonesia pada waktu itu masih ingat betul bagaimana diktator Suharto menindas protes mahasiswa pada tahun 1974. Juga, ketika Indonesia menginvasi Timor Timur pada tahun 1975, setelah provokasi AS. Tidak mengherankan jika setelah mendengar berita tentang Revolusi Islam—yang terkadang ditulis di Indonesia sebagai “Revolusi Iran” atau “Revolusi 1979″—banyak yang menghela napas kagum dan jantung mereka berdebar. Mereka merasa bangga meskipun bukan warga negara Iran.

Membicarakan Revolusi Islam dan dampaknya terhadap Indonesia memang merupakan topik yang berlapis-lapis dan kompleks. Tetapi saya akan mencoba menjelaskannya sesingkat mungkin.

Baca Juga  Ketika Konstitusi Dikalahkan "Sentralisasi Terselubung"

Jika orang Iran berkunjung ke Indonesia, mereka tidak perlu heran jika bertemu dengan orang Indonesia bernama “Reza Pahlavi”; di kota Palembang, nama ini sangat umum. Selain itu, ada juga nama “Khomeini”, dan bahkan lebih jarang, nama-nama seperti “Akbar Rafsanjani”.

Apakah mereka pendukung dinasti Pahlavi atau keturunan orang-orang Mazandaran? Mungkinkah mereka lahir di bawah pemerintahan Khomeini atau Rafsanjani? Tidak. Tetapi orang tua mereka pasti pernah mendengar berita revolusi, setidaknya sekali atau dua kali di radio atau televisi hitam putih mereka.

Ini adalah contoh yang sangat, sangat sederhana!

Kemudian, pada tahun 1980-an, penerbitan karya-karya intelektual Iran seperti Dr. Ali Shariati, Ayatollah Nasser Makarem Shirazi, dan tentu saja, Ayatollah Morteza Motahari berkembang pesat di Indonesia. Semua ini, bersamaan dengan rezim Suharto yang represif, membantu memperkuat ide-ide revolusioner.

Pada saat yang sama, saudara-saudari Syiah di Indonesia juga memperkuat identitas mereka. Tak lama setelah revolusi pada tahun 1980-an, kelahiran tokoh Muslim Syiah muncul dengan dikirimnya pelajar ke Iran, salah satunya di Madrasah “Hujjatiyeh” di kota Qom.

Memasuki milenium baru, “Yayasan Raushan Fikr” didirikan pada tahun 1995, yang berorientasi pada filsafat Islam. Setelah jatuhnya Suharto, dua organisasi Syiah juga lahir: “Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia” pada tahun 2000 dan “Ahlul Bait Indonesia” pada tahun 2011. Begitu pun kelahiran hauzah-hauzah yang memperkaya Indonesia dengan keaktifan intelektual saudara-saudari Syiah.

Baca Juga  Mereka yang Pulang Terakhir

Kenangan hari-hari setelah perang 12 hari masih segar dalam ingatan kita, publik Indonesia kembali memandang penting Iran dalam keberaniannya melawan Zionis Israel. Hal ini memperkuat posisi Iran sebagai sekutu bersama Indonesia dalam perjuangan membela umat Islam, khususnya dalam isu Palestina.

Dalam pembukaan Undang Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia, tertulis kalimat “Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan”. Ini berarti bahwa Indonesia dan Iran memiliki tujuan bersama dalam memerangi ketidakadilan dan menegakkan keadilan di dunia.

Tidak mungkin untuk mengungkapkan sepenuhnya peran Revolusi Islam dalam pandangan Indonesia. Revolusi ini tidak hanya mengubah simbol singa dan matahari era Pahlavi menjadi simbol “Allah”, seperti halnya dulu pejuang kemerdekaan Indonesia juga merobek warna biru bendera Belanda, sehingga menjadi bendera merah putih Indonesia.

Namun, dampak terbesarnya adalah “potensi kerja sama”; karena keduanya adalah negara dengan mayoritas Muslim. Di Indonesia, terdapat juga organisasi Islam besar seperti “Muhammadiyah” yang telah sering berhubungan dengan perwakilan negara Iran maupun organisasi-organisasi Syiah di Indonesia. Inilah ‘harta karun’ Revolusi Islam pada 22 Bahman yang telah ditemukan dan masih dapat diberdayakan!

Tulisan ini, juga saya sampaikan dalam perayaan kemenangan Revolusi Islam yang diselenggarakan 10 Februari 2026 di Aula Kampus Ahlul Bayt International University, cabang Qom. Kebetulan, mewakili mahasiswa Indonesia, kami diminta untuk berpidato menyampaikan dampak revolusi Islam di negara kami.

Baca Juga  Jepang Lumat Indonesia 6-0 di Laga Terakhir Kualifikasi Piala Dunia