Rektor UMM Prof. Nazarudin Malik: Gerakan Besar Muhammadiyah Harus Diimbangi Publikasi

Rektor UMM

MAKLUMAT — Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Nazarudin Malik menyoroti tantangan media-media berafiliasi Muhammadiyah dalam memperkuat publikasi gerakan organisasi. Menurutnya, media Muhammadiyah perlu menerapkan jurnalisme profetik agar berbagai aktivitas dan nilai Islam berkemajuan dapat menjangkau masyarakat lebih luas.

Nazarudin menegaskan, media Muhammadiyah tidak cukup hanya menyampaikan informasi tentang kegiatan organisasi. Media juga harus mampu menghadirkan pengetahuan keislaman yang mencerahkan sekaligus memperkuat posisi Muhammadiyah di mata publik.

“Islam jangan eksklusif. Media Muhammadiyah harus jadi lokomotif gerakan tajdid bahwa Islam hadir dalam kehidupan,” kata Nazarudin saat membuka Kajian Islam Multidisipliner (KIM) Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM, Jumat (9/10/2026).

Kajian Islam Multidisipliner PSIB UMM tersebut menghadirkan Roni Tabroni dan Maharina Novia Zahro sebagai narasumber, dengan dosen Ilmu Komunikasi UMM, Widiya Yutanti, sebagai moderator.

Menurut Rektor UMM, ekosistem digital harus menjadi ruang untuk mengembangkan pengetahuan agama yang memiliki jiwa dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Melalui jurnalisme profetik, media Muhammadiyah diharapkan tidak hanya mengejar perhatian publik, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai Islam yang memberikan manfaat nyata.

Muhammadiyah Perlu Merebut Narasi Publik

Tantangan publikasi Muhammadiyah juga disoroti Ketua Departemen Humas dan Kerja Sama PP Nasyiatul Aisyiyah, Maharina Novia Zahro. Ia menilai Muhammadiyah kerap terlalu sibuk menjalankan berbagai kegiatan sehingga kurang memberikan perhatian pada publikasi.

Baca Juga  Rektor UMM: Pentingnya Memahami Konteks dalam Transformasi SDM

Padahal, menurut Maharina, kerja nyata dan penyampaian informasi kepada masyarakat merupakan dua hal yang sama pentingnya. Publikasi diperlukan agar masyarakat mengetahui sekaligus merasakan manfaat dari berbagai gerakan Muhammadiyah.

Muhammadiyah, katanya, perlu merebut narasi publik agar kontribusi organisasi tidak berhenti sebagai aktivitas internal, tetapi menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Publikasi tersebut bukan sekadar upaya memamerkan kegiatan, melainkan bagian dari public relations (PR) untuk membangun hubungan dengan masyarakat dan menularkan nilai-nilai kebaikan.

“Dakwah perlu menularkan kebaikan,” ujar Maharina, yang juga menjabat Kepala Humas UMM.

Ia menambahkan, citra positif Muhammadiyah tidak cukup dibangun dengan menampilkan aksi dan kegiatan organisasi. Hal yang lebih penting ialah memastikan nilai-nilai Muhammadiyah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Media Muhammadiyah Jangan Terjebak Perburuan Klik

Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, Dr. Roni Tabroni, menawarkan jurnalisme profetik dan jurnalisme filantropi sebagai pendekatan untuk memperkuat peran media Muhammadiyah.

Jurnalisme profetik yang berkembang di lingkungan media Muhammadiyah menekankan karakter religius, mencerahkan, dan berkemajuan. Pendekatan ini menempatkan kemaslahatan masyarakat sebagai orientasi pemberitaan, bukan sekadar mengejar popularitas.

Roni menilai, media Muhammadiyah perlu bergeser dari logika algoritma yang mengutamakan perhatian audiens, jumlah klik, viralitas, durasi menonton, sensasi, dan kecepatan penyebaran informasi menuju logika profetik.

Baca Juga  Rektor UMM Berharap Aktivis Persyarikatan Bisa Jadi Penerang dalam Konteks Siyasah

Logika profetik mengedepankan kemaslahatan, pencerahan, empati, kepercayaan, relevansi, serta dampak positif bagi masyarakat. Verifikasi informasi atau tabayun juga menjadi prinsip penting untuk menjaga kredibilitas pemberitaan.

Menurut Roni, jurnalisme Islam berkemajuan perlu mengambil jalan tengah antara pemberitaan sensasional yang mengejar perhatian publik dan pemberitaan monoton yang kurang menarik bagi masyarakat.

“Yakni jurnalisme yang membaca isu aktual lewat perspektif Islam, kontekstual tapi tak kehilangan arah, fokus agama, kemanusiaan dan ilmu pengetahuan,” kata dosen Komunikasi Universitas Muhammadiyah Bandung tersebut.

Media Muhammadiyah Harus Peka terhadap Isu Aktual

Roni juga menyoroti pentingnya kecepatan media Muhammadiyah dalam merespons berbagai persoalan yang berkembang di ruang publik. Menurutnya, warga Muhammadiyah membutuhkan perspektif dan panduan ketika menghadapi isu-isu aktual.

Ia mencontohkan, pembaca dapat mengenali arah opini media seperti Tempo terhadap suatu isu. Karena itu, Muhammadiyah perlu lebih aktif menyampaikan pandangan agar warga memiliki rujukan dalam menentukan sikap.

“Harusnya Muhammadiyah memberi arah, karena arah itu ditunggu-tunggu oleh jamaahnya untuk bersikap. Jadi akan bagus sekali warga Muhammadiyah hanya percaya dengan media resminya Muhammadiyah untuk isu apa pun,” ujarnya.

Namun, Roni mengakui media-media berafiliasi Muhammadiyah masih menghadapi sejumlah kelemahan, antara lain persoalan kelembagaan, konten yang monoton, keterbatasan sumber daya manusia (SDM), dan kurangnya kepekaan terhadap isu publik.

Baca Juga  Rektor UMM: Iduladha Harus Menjadi Energi Sosial untuk Kesejahteraan Umat

Untuk mengatasi tantangan tersebut, ia mendorong penguatan kemandirian media melalui model bisnis berkelanjutan, distribusi konten lintas platform, riset audiens, dan upaya meraih pengakuan publik.

Langkah-langkah tersebut dinilai penting agar media Muhammadiyah mampu memperluas jangkauan sekaligus mempertahankan keberlanjutan operasionalnya.

PSIB UMM Siap Menjadi Ruang Pengembangan Gagasan

Sementara itu, Kepala PSIB UMM, Nasrullah, mendorong peserta kajian turut memperkuat upaya public relations dan penyebaran gagasan Muhammadiyah kepada masyarakat.

Menurut Nasrullah, PSIB siap menjadi ruang bagi berbagai kalangan untuk berdiskusi dan membangun wacana yang produktif. Upaya tersebut perlu diperkuat melalui kegiatan diskusi, penelitian, dan publikasi.

“Kita bisa wujudkan PSIB menjadi sampul depan UMM bagi siapa saja yang ingin melihat Muhammadiyah lebih mendalam lagi, asal kita sendiri juga rajin-rajin berdiskusi, meneliti dan menulis publikasi,” pungkasnya.