MAKLUMAT — Belum lama ini, saya melihat story WhatsApp salah satu senior dulu di IPM yang saat ini menjadi tenaga pendidik di salah satu kampus Universitas Muhammadiyah. Video berdurasi 30 detik dengan pemandangan panggung besar, sorak-sorai mahasiswa dan gemerlap lighting yang bersinar. Saya pikir beliau hadir di acara shalawatan teman-teman NU, ternyata ini acara konser musik untuk mengakhiri “Ospek” di kampus Muhammadiyah.
Satu pertanyaan yang muncul dalam pikiran, “Kenapa di lingkungan Muhammadiyah, konser musik jadi sunnah (tradisi) dan shalawatan dianggap menyelisihi tradisi (Bidah)?”. Bukan hanya konser musik, kita di Muhammadiyah juga tidak asing dengan penyelenggaraan marching band di sekolah formal, di saat yang sama, menghindari tabuhan hadrah yang biasa mengiringi bacaan shalawat. Aneh sekali!
Apa karena jargon Islam Berkemajuan? Sehingga yang bukan simbol kemodernan kita anggap jumud dan tertolak? “Hadrahan itu kuno, Mas, kalau gitar, drum dan alat musik lainnya baru modern dan sesuai dengan “ruh” Muhammadiyah!” Apakah demikian?
Dalam tulisan ini saya mengajak pembaca untuk berpikir kembali tentang sikap kita melihat ini. Jangan-jangan pikiran kita (karena saya juga bagian dari Muhammadiyah), sudah terlalu lama diisi dengan dikotomi antara dua kutub yang bertentangan. Modern vs Tradisional, Progresif vs Konservatif, Berkemajuan vs Berkemunduran. Atau lebih parahnya, jangan-jangan Anda punya kaidah “Yang penting beda sama NU”?
Ada tiga alasan kenapa hal ini menjadi sangat aneh. Pertama, shalawatan itu memiliki lebih banyak manfaat dibanding konser musik. Seperti pengakuan dari jemaah shalawat yang mendapat sentuhan hidayah saat mereka hadir di majelis tersebut. Jika kita tidak sepakat dengan kemasannya yang terlalu hingar-bingar dan tidak ada kekhusyukan, setidaknya acara shalawatan dapat menyentuh medan dakwah Islam kalangan pedesaan.
Lalu konser musik yang isinya tidak ada kaitan dengan tambahnya iman, di mana sisi manfaatnya? Bukankah ini malah membekali para mahasiswa baru di kampus Muhammadiyah pada kelalaian?
Kedua, Majelis Tarjih Muhammadiyah memang tidak mengharamkan mutlak mendengarkan musik, selama hal tersebut dapat membawa kepada kemaslahatan iman. Seperti mengiringi mars Sang Surya agar hati tergugah dan bersemangat kembali, atau mengundang musisi yang lirik lagunya dapat menyentuh kalbu. Namun, satu hal yang perlu diketahui, bahwa alat musik yang digunakan antara shalawatan dan konser musik, masih lebih “nyunnah” shalawatan, loh!
Duff atau rebana adalah alat musik yang ada di era Rasulullah dan masuk kategori alat yang secara jelas dibolehkan oleh beliau. Sedangkan gitar? Banyak ulama kita mengharamkan! Lalu kenapa kita menghindar untuk menabuh rebana bahkan seolah mem-bidahkannya dan dengan bangga memetik senar gitar yang banyak ulama fikih mengharamkan? Apalagi untuk mengiringi hal yang tidak jelas maslahat dan manfaatnya.
Ketiga, ini semua terjadi di tempat yang diharapkan menjadi oase ilmu pengetahuan di Muhammadiyah, yaitu kampus! Mungkin kita bangga dengan jumlah dan kualitas kampus kita, tapi itu memberi tanggung jawab besar! Bagaimana mungkin, institusi tertinggi tempat berkumpulnya para doktor dan profesor yang menjadi rujukan pengetahuan di Muhammadiyah malah menampilkan hal-hal yang secara jelas tidak ada kaitannya dengan dakwah?
Saya merasa ini hal yang amat sangat aneh! Atau memang saya yang masih lulusan Taruna Melati II IPM, Baitul Arqam Muhammadiyah dan pengajar di Pondok Modern Muhammadiyah Pakusari yang belum sampai pada maksud dari semua ini? Entahlah!
Jika konser musik diselenggarakan di kampus Muhammadiyah yang 80% mahasiswanya adalah orang Katolik, saya masih bisa memaklumi, tapi ini terjadi di Pulau Jawa yang menjadi basis umat Islam terbesar. Belum lagi musisi yang diundang tidak dikenal sebagai musisi lagu religi, bahkan di kampus Islam terbaik sedunia versi uniRank, musisi yang diundang tidak menutup aurat secara sempurna!
Apakah Islam saya yang kurang berkemajuan? Atau ini Islam yang terlalu maju sehingga offside? Banyak pimpinan kita yang mendiamkan ini, seakan-akan menjadi ijmak sukuti di kalangan cendekiawan Muhammadiyah, bahwa konser musik di Muhammadiyah sudah sesuai syariat.
Saya tidak ingin menampilkan hukum fikih tentang musik dan lain-lainnya, takut-takut saya dianggap kaku dan tidak kontekstual. Saya hanya mengajak para pembaca yang budiman untuk menggunakan akal sehatnya, atas landasan apa ini semua dilakukan di lingkungan organisasi Islam terbesar dan terkaya sedunia? Di tempat yang diharapkan jadi oase pengetahuan dan moralitas, justru menawarkan kegiatan-kegiatan yang secara implisit malah membawa kader Muhammadiyah pada kelalaian.
Belum lagi isu kualitas kader muda Muhammadiyah yang bangga membawa panji Islam di dalam logo organisasi, pandai mendorong orang untuk menolak bidah dan dengan bangga mengaku Islam reformis dan modern, namun di sisi lain masih harus belajar ngaji Iqra dan tata cara wudu yang baik.
Apakah ini yang dimaksud dengan Islam Berkemajuan itu?
*) Penulis: M. Yusmi Ridho
Sekretaris Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Wonosari











