MAKLUMAT — Ketua Dewan Pers Republik Indonesia Prof Komarudin Hidayat MA PhD menegaskan pentingnya pers yang berkualitas di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, masyarakat membutuhkan informasi yang akurat, selektif, dan berbobot, bukan sekadar informasi yang cepat beredar.
Hal itu ia sampaikan ketika menghadiri Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 yang diinisiasi Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, dan diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Komaruddin menyampaikan apresiasi terhadap Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi yang dalam kegiatan itu juga menerima Kartu Wartawan Utama Khusus dari Dewan Pers, atas kiprah dan dedikasinya dalam bidang jurnalistik selama 42 tahun melalui berbagai tulisan, pemikiran, dan gagasan-gagasannya seputar Islam dan peradaban.
Komaruddin menilai, kehadiran tokoh intelektual sekaligus wartawan seperti Haedar Nashir sangat penting di tengah dunia pers yang menurutnya mulai kehilangan banyak wartawan dengan kapasitas intelektual dan kebudayaan.
“Saya senang Haedar Nashir menjadi wartawan. Di saat dunia pers kehilangan tokoh-tokoh wartawan sekaligus intelektual dan budayawan, kehadiran beliau memberikan pencerahan,” ujarnya.
Pers dan Perkembangan Teknologi Digital
Komarudin mengungkapkan, saat ini profesi wartawan mengalami perubahan seiring perkembangan teknologi digital. Produksi jurnalistik, kata dia, kini tidak lagi hanya dilakukan melalui perusahaan media konvensional, tetapi juga berkembang dalam berbagai bentuk dan platform.
Ia juga menyoroti istilah wartawan tanpa surat kabar alias WTS, yang menurutnya kian menggambarkan semakin terbukanya ruang bagi siapa saja untuk memproduksi dan menyebarkan informasi. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan persoalan mengenai kualitas dan kebenaran informasi yang beredar.
Ia menjelaskan bahwa tradisi literasi dan tabayyun dalam Islam sangat kuat, termasuk melalui berbagai klasifikasi berbagai sanad hadis. Dalam konteks informasi hari ini, Komaruddin menilai banyak beredar berita dhaif.
“Berita hari ini banyak yang dhaif dan palsu. Padahal masyarakat membutuhkan informasi seperti membutuhkan udara dan minuman,” sorotnya.
Menurut Komarudin, ketergantungan masyarakat terhadap informasi semakin kuat. Handphone yang kini juga bertransformasi menjadi smartphone, merupakan benda utama yang bahkan bakal dicari pertama kali oleh hampir setiap orang ketika bangun tidur.
“Begitu bangun tidur, bukan minum yang dicari, tetapi handphone. Dalam rapat pun sering kali kita masih memegang handphone,” tandas mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.
menurut Komaruddin, kondisi tersebut membuat kemampuan masyarakat dalam memilah informasi menjadi semakin penting. Informasi yang keliru dapat membentuk persepsi yang salah dan memengaruhi kehidupan masyarakat.
Sebab itu, Komarudin mengingatkan bahwa prinsip verifikasi telah lama dikenal dalam tradisi Islam melalui konsep tabayyun, yang mengajarkan pentingnya memeriksa kebenaran suatu informasi yang diterima sebelum mempercayai atau menyebarkannya kepada orang lain.
“Manusia dari dulu berkembang ketika ada berita yang beredar. Karena itu, dalam Islam ada tradisi tabayyun, yaitu melakukan verifikasi,” katanya.
Dalam menerima informasi, Komarudin membiasakan untuk melihat terlebih dahulu sumber informasi. Kredibilitas sumber, menurut dia, menjadi salah satu faktor penting dalam menilai kualitas informasi.
Sebab itu, lanjutnya, pers tidak cukup hanya menyampaikan berita dengan cepat, tetapi juga perlu memastikan informasi memiliki dasar yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pers dalam Kehidupan Demokrasi
Lebih lanjut, Komarudin menegaskan bahwa pers memiliki posisi penting dalam kehidupan demokrasi. Menurut dia, pers dapat menjadi cermin masyarakat sekaligus cermin pemerintah.
Melalui pers, kata dia, aspirasi masyarakat dapat disampaikan kepada pemerintah. Sebaliknya, masyarakat dapat mengetahui bagaimana pemerintah menjalankan kekuasaannya.
Ia menyebut terdapat sejumlah kecenderungan sikap pemerintah terhadap pers. Ada pemerintah yang tidak menyukai kritik di ruang publik, sementara ada pula yang memahami pers sebagai mitra sekaligus kepanjangan tangan masyarakat.
Komarudin mengingatkan bahwa ketika pers dibatasi, arus informasi tidak serta-merta berhenti. Informasi akan mencari saluran lain, terutama melalui media sosial. Sebab itu, ia mengibaratkan pers seperti penjaga keamanan masyarakat yang memberikan peringatan sebelum persoalan berkembang menjadi lebih besar.
“Pers itu vital, seperti tukang ronda. Sebelum ada kemalingan, kentongan sudah dibunyikan,” tandas Komaruddin.
Ke depan, ia berharap pers Indonesia ke depan semakin kritis sekaligus berkualitas. Selain itu, ia juga mendorong regenerasi wartawan yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis jurnalistik.
Menurutnya, dunia pers membutuhkan lebih banyak intelektual yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat, rakyat, dan bangsa. Komaruddin berharap, ke depan muncul sosok-sosok jurnalis intelektual lain seperti Haedar Nashir.
“Kita berharap ini segera disusul. Jangan hanya Haedar saja. Pers harus diisi para intelektual yang mencintai rakyat dan bangsanya,” ucapnya.
Pers dan Literasi: Tradisi Muhammadiyah
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Ketua MPI PP Muhammadiyah Prof Dr Muchlas MT menegaskan bahwa pers dan literasi merupakan bagian penting dari perjalanan gerakan Muhammadiyah.
Muhammadiyah, kata dia, tidak hanya berkembang melalui kelembagaan dan amal usaha, tetapi juga melalui gagasan yang disebarkan melalui pers dan tradisi literasi. “Pers dan literasi Muhammadiyah berangkat dari sebuah kesadaran,” ujar Muchlas.
Tradisi pers Muhammadiyah memiliki sejarah panjang, di mana salah satu tonggaknya adalah melalui terbitnya Suara Muhammadiyah pada tahun 1915 sehingga merupakan media tertua yang masih eksis di Indonesia hari ini. Jejak tersebut kemudian diikuti dengan lahir dan tumbuhnya berbagai media Muhammadiyah dan Aisyiyah.
“Pers merupakan tradisi Muhammadiyah yang menyertai perjalanan Muhammadiyah sejak berdiri. Muhammadiyah berkembang bukan hanya karena bertambah besar secara kelembagaan dan amal usaha, tetapi juga karena gagasan,” tegasnya.
Menurut Muchlas, literasi kemudian menjadi bagian yang melekat dalam gerakan Muhammadiyah. Sejak tahun 2024, Muhammadiyah menetapkan 13 Agustus sebagai Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah.
Meski begitu, ia mewanti-wanti supaya momentum tersebut tidak sekadar berhenti sebagai agenda atau peringatan rutin tahunan semata, melainkan menjadi momentum untuk mengevaluasi dan memperkuat tradisi literasi Muhammadiyah.
“Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk melakukan evaluasi terhadap tradisi literasi Muhammadiyah,” tegas sosok yang juga dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tersebut.
Media Afiliasi Muhammadiyah
Menurut Muchlas, tradisi literasi yang sehat membutuhkan pers yang sehat. Di tengah perubahan ekosistem media, ia meminta agar seluruh jejaring media afiliasi Muhammadiyah senantiasa menjaga kualitas jurnalistik sekaligus beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Semangat tersebut antara lain diwujudkan melalui Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah #3 yang menjadi ruang untuk memperkuat kapasitas dan jejaring media-media Muhammadiyah.
Lebih jauh, Muchlas juga mengapresiasi pemberian Kartu Wartawan Utama Khusus kepada Haedar Nashir. Ia menyebut, sosok Ketua Umum PP Muhammadiyah yang juga Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu bukan hanya pemimpin organisasi dan cendekiawan muslim, tetapi juga memiliki perjalanan panjang, kompetensi, dan dedikasi tinggi di bidang jurnalistik.
Menurut Muchlas, pemberian kartu tersebut merupakan bentuk pengakuan terhadap perjalanan dan konsistensi Haedar dalam dunia jurnalistik selama puluhan tahun. “Ini merupakan pengakuan atas proses dan konsistensi beliau dalam dunia jurnalistik selama puluhan tahun,” ujarnya.
Ia berharap penghargaan tersebut dapat menjadi dorongan bagi media afiliasi Muhammadiyah untuk terus menjaga kualitas jurnalistik dan menghadirkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Semoga penghargaan ini menjadi inspirasi bagi media afiliasi Muhammadiyah untuk terus menghadirkan jurnalistik yang akurat, jernih, santun dalam bahasa, dan membawa kemaslahatan,” tandas Muchlas.***













