MAKLUMAT — Serangan rudal yang menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (10/10) siang, menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya. Serangan yang dikaitkan dengan kelompok Houthi tersebut juga memicu penghentian sementara operasional bandara dan pembatalan sedikitnya 291 penerbangan dalam kurun 24 jam.
Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) menyampaikan jumlah korban tersebut pada Ahad (11/10) dini hari. Korban meninggal dunia terdiri atas empat warga negara Arab Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Palestina, Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, dan Sudan.
“Serangan tersebut juga menyebabkan 309 orang lainnya terluka, termasuk sejumlah orang yang berada dalam kondisi kritis,” demikian pernyataan GACA seperti dilansir Arab News, Ahad (11/10) WIB.
Beberapa jam setelah serangan di Riyadh, juru bicara Koalisi Pendukung Legitimasi di Yaman, Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, mengumumkan bahwa sebuah proyektil jatuh di dekat Bandara Internasional King Fahd di Dammam, Arab Saudi bagian timur. Ia menyampaikan informasi tersebut melalui platform X tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.
Insiden itu menambah kekhawatiran terhadap keselamatan penerbangan sipil Arab Saudi di tengah meluasnya konflik regional yang bermula pada 28 Februari.
Serangan Berulang Sasar Bandara dan Pesawat
Serangan pada Sabtu bukan insiden pertama yang menargetkan fasilitas penerbangan Arab Saudi dalam rangkaian konflik tersebut. Pada Selasa (6/10) lalu, seorang perempuan asal Maroko dan seorang perempuan asal Aljazair dilaporkan tewas dalam serangan terhadap Bandara Internasional Abha di Provinsi Asir, dekat perbatasan Yaman.
Sehari kemudian, serangan terhadap bandara Riyadh menewaskan seorang pria asal Sudan. Pada Kamis, dua serangan kembali terjadi di Bandara Internasional King Khalid.
Menurut GACA, serangan pertama menghantam fasilitas bandara dan menewaskan dua warga negara Arab Saudi. Serangan berikutnya mengenai pesawat Saudia yang sedang berada di darat dan menewaskan pilot Kapten Hamoud Ali AlKalthami.
Direktur Utama Saudia, Ibrahim Al-Omar, menyampaikan penghormatan kepada AlKalthami. Ia menggambarkan perjalanan karier sang pilot sebagai pengabdian yang dilandasi dedikasi dan ketulusan.
Serangkaian serangan tersebut menyebabkan korban jiwa dan luka-luka, termasuk di kalangan warga negara asing.
Pada Rabu (7/10), serangan terhadap bandara Riyadh juga dilaporkan menewaskan seorang pria asal Sudan. Rangkaian kejadian ini memicu kecaman internasional dan desakan agar Houthi menghentikan serangan terhadap infrastruktur sipil.
291 Penerbangan Dibatalkan
GACA menyatakan operasional Bandara Internasional King Khalid dihentikan sementara setelah serangan pada Sabtu untuk memungkinkan otoritas menilai kerusakan yang terjadi.
“Serangan ini terjadi di tengah serangan terang-terangan yang terus berlangsung terhadap fasilitas penerbangan sipil di kerajaan,” demikian pernyataan GACA.
Situs pelacak penerbangan FlightAware mencatat sedikitnya 291 penerbangan di bandara Riyadh dibatalkan dalam kurun 24 jam sebelum laporan tersebut diterbitkan.
Sebelum serangan terbaru, sejumlah maskapai, termasuk Air India, FlyDubai, Lufthansa Group, dan Pakistan International Airlines, telah menghentikan sementara penerbangan dari dan menuju Riyadh serta sejumlah bandara lain di Arab Saudi untuk jangka waktu berbeda-beda.
Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) juga memperluas panduannya mengenai wilayah udara Arab Saudi. Lembaga tersebut memperingatkan bahwa Houthi memiliki kemampuan menyerang sasaran yang lebih jauh ke dalam wilayah kerajaan, termasuk Riyadh, dengan fokus yang semakin besar terhadap infrastruktur penerbangan.
Menurut EASA, serangan rudal dan pesawat nirawak, termasuk upaya pencegatan terhadap ancaman tersebut, meningkatkan risiko pesawat sipil salah diidentifikasi.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi meminta warga yang tidak dapat mencapai tujuan mereka di kerajaan tersebut akibat gangguan penerbangan untuk menghubungi perwakilan diplomatik Arab Saudi di negara tempat mereka berada guna meminta bantuan.
Sementara itu, pihak Bandara Internasional King Khalid mengimbau penumpang menghubungi maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara.
Serangan Houthi Picu Kecaman Internasional
Serangan terhadap bandara Riyadh dan fasilitas penerbangan lainnya menuai kecaman dari berbagai negara dan organisasi internasional.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengutuk serangan yang menewaskan 12 orang dan melukai ratusan warga sipil tersebut.
“Serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil merupakan pelanggaran hukum internasional. Serangan ini harus segera dihentikan,” kata Guterres melalui platform X.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney juga mengecam serangan tersebut. Ia menegaskan tidak ada tujuan politik maupun militer yang dapat membenarkan penargetan warga sipil secara sengaja.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyebut serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur penting sebagai tindakan yang sama sekali tidak dapat diterima. Pakistan juga menegaskan komitmennya terhadap keamanan dan kedaulatan Arab Saudi.
Kuwait, Bahrain, Qatar, Yordania, Palestina, Siprus, Mesir, Oman, Somalia, dan Uruguay turut menyampaikan kecaman atau solidaritas kepada Arab Saudi. Bangladesh secara khusus mengecam serangan yang menewaskan dua warga negaranya.
Bahrain mendesak Dewan Keamanan PBB, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), dan masyarakat internasional mengambil langkah tegas untuk menghentikan serangan serta meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang terlibat.
Komisi Hak Asasi Manusia Independen Permanen Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) juga mengecam serangan terhadap Bandara Internasional Abha, Bandara Internasional King Khalid, dan sebuah pesawat sipil. Komisi tersebut mendesak PBB dan organisasi internasional maupun regional mengambil tindakan untuk mencegah serangan serupa.
Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem Mohamed Albudaiwi, menyerukan tindakan internasional yang serius untuk mencegah serangan Houthi. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga menyatakan serangan terhadap infrastruktur sipil tidak dapat diterima.
Arab Saudi Tegaskan Yaman Tak Boleh Jadi Basis Serangan
Di tengah meningkatnya serangan, Koalisi Pendukung Legitimasi di Yaman mengumumkan pada Jumat bahwa pihaknya melancarkan operasi berskala besar terhadap Houthi dan menghancurkan lebih dari 130 sasaran.
Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi dilaporkan meningkatkan serangan terhadap sejumlah wilayah Arab Saudi, termasuk Riyadh, Abha, Khamis Mushayt, Jazan, dan Najran.
Koalisi juga menyatakan kelompok tersebut bulan lalu mencoba menyerang Makkah dan menghantam stasiun distribusi listrik yang memasok Masjid Nabawi di Madinah.
Perwakilan Tetap Arab Saudi untuk PBB, Abdulaziz Alwasil, mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB pada Jumat bahwa Riyadh tidak akan membiarkan wilayah Yaman digunakan sebagai landasan peluncuran serangan terhadap Arab Saudi maupun untuk mengancam pelayaran di Laut Merah.
Uruguay turut menyoroti ancaman terhadap pelayaran komersial di Laut Merah dan Selat Bab Al-Mandab. Negara tersebut menekankan pentingnya melindungi kapal dan awaknya, menjaga kebebasan navigasi, serta mematuhi Konvensi PBB tentang Hukum Laut.
Serangkaian serangan terhadap bandara dan pesawat sipil kini memperbesar kekhawatiran terhadap keselamatan penerbangan di kawasan tersebut. Desakan internasional agar serangan dihentikan terus menguat, sementara dampak konflik terhadap penerbangan dan keamanan regional masih menjadi perhatian.***












