MAKLUMAT — BMKG memperingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat dan angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia pada 13–19 Oktober 2026. Di sisi lain, musim kemarau masih mendominasi sebagian besar wilayah sehingga risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu diwaspadai.
Pada 13–15 Oktober 2026, BMKG menetapkan status Siaga untuk potensi hujan lebat hingga sangat lebat di Sumatera Utara.
Informasi tersebut disampaikan dalam keterangan resmi BMKG yang dikutip pada Selasa (13/10). Sementara itu, pada 16–19 Oktober 2026, peringatan serupa berlaku untuk Aceh, Sumatera Barat, dan Papua Pegunungan.
Potensi angin kencang juga mengancam sejumlah wilayah, termasuk Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, peningkatan hujan dengan intensitas sedang diprakirakan terjadi di sejumlah daerah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa musim kemarau tidak serta-merta menghilangkan potensi hujan dengan intensitas tinggi. Dinamika atmosfer regional dan lokal masih dapat memicu pertumbuhan awan hujan.
Titik Panas Karhutla Masih Tinggi
Ancaman karhutla masih menjadi perhatian di tengah kondisi kering yang mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.
Berdasarkan pemantauan pada 11 Oktober 2026, Papua Selatan mencatat titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi terbanyak, yakni 482 titik. Sumatera Selatan berada di urutan berikutnya dengan 234 titik, disusul Kalimantan Tengah sebanyak 213 titik.
Titik panas juga terdeteksi di Kalimantan Barat sebanyak 71 titik, Kalimantan Timur 30 titik, Kepulauan Bangka Belitung 23 titik, Lampung 19 titik, Jambi 16 titik, Maluku Utara 15 titik, dan Kalimantan Selatan 15 titik.
Pengamatan melalui citra satelit Himawari juga memperlihatkan sebaran asap di sebagian Sumatera bagian tengah hingga selatan, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, serta sebagian Papua.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena wilayah dengan curah hujan rendah dan tutupan lahan kering lebih rentan terhadap karhutla. Namun, titik panas merupakan indikasi anomali suhu yang masih perlu diverifikasi dan tidak otomatis membuktikan adanya kebakaran di setiap lokasi.
Hujan Lebat Masih Berpotensi Terjadi Saat Kemarau
Dinamika atmosfer masih mendukung pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Faktor yang berpengaruh antara lain aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG).
Aktivitas gelombang atmosfer tersebut dapat mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah yang dilaluinya. Pola perlambatan dan pertemuan angin di sejumlah daerah juga dapat meningkatkan pemusatan massa udara.
Selain itu, suhu permukaan laut yang relatif hangat di perairan sekitar Indonesia bagian barat turut mendukung ketersediaan uap air untuk pembentukan awan.
Pada periode 9–11 Oktober 2026, curah hujan harian tertinggi dalam data yang dicantumkan tercatat di Sumatera Barat, yakni 231 milimeter per hari. Aceh mencatat 198 milimeter per hari, Kalimantan Barat 132 milimeter per hari, Papua 118 milimeter per hari, Sumatera Utara 110 milimeter per hari, dan Jawa Barat 72,8 milimeter per hari.
Data tersebut menunjukkan bahwa hujan dengan intensitas signifikan masih dapat terjadi meskipun sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam kondisi relatif kering.
Sebagian Besar Wilayah Indonesia Masih Kering
Hasil pemantauan perkembangan musim pada Dasarian III September 2026 menunjukkan baru sekitar 5,7 persen wilayah Indonesia atau 40 Zona Musim (ZOM) yang memasuki musim hujan.
Untuk periode Dasarian I–III Oktober 2026, curah hujan secara umum diprakirakan berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni 0–150 milimeter per dasarian.
Pada Dasarian II Oktober, curah hujan kategori rendah, yaitu kurang dari 50 milimeter per dasarian, diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Sumatera, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian tengah hingga selatan, sebagian besar Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, serta sejumlah wilayah Papua.
Meski demikian, kondisi kering dalam skala dasarian tidak meniadakan potensi hujan dalam skala harian. Hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat atau petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal.
Rincian Peringatan Dini Cuaca 13–19 Oktober 2026
Periode 13–15 Oktober 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, BMKG memperingatkan potensi peningkatan hujan intensitas sedang di sejumlah wilayah.
Wilayah tersebut meliputi Aceh, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Lampung, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Peringatan dini BMKG mencakup:
- Siaga hujan lebat hingga sangat lebat: Sumatera Utara.
- Angin kencang: Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua Selatan.
Periode 16–19 Oktober 2026
Cuaca di Indonesia umumnya masih didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Peningkatan hujan intensitas sedang perlu diwaspadai di Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.
Adapun peringatan dini BMKG meliputi:
- Siaga hujan lebat hingga sangat lebat: Aceh, Sumatera Barat, dan Papua Pegunungan.
- Angin kencang: Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Papua Selatan.
BMKG Imbau Masyarakat Waspadai Kekeringan dan Karhutla
BMKG mengimbau masyarakat untuk mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering selama musim kemarau.
Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, terutama pada siang hari, disarankan menjaga kecukupan cairan tubuh dan menggunakan tabir surya untuk mengurangi paparan sinar matahari.
Selain itu, masyarakat dan pemerintah daerah diminta menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan karhutla.***













