Kronologi Empat Petugas Tewas Karhutla Bromo Versi Kementerian Kehutanan

Kronologi empat petugas tewas karhutla Bromo

MAKLUMAT — Kronologi empat petugas tewas karhutla Bromo bermula dari kebakaran ladang warga pada Selasa (13/10/2026), yang sempat dinyatakan padam sehari kemudian. Namun, asap kembali terlihat pada Kamis (15/10/2026). Dalam upaya pemadaman lanjutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, empat petugas dan mitra pemadaman meninggal dunia, sedangkan dua personel mengalami luka bakar berat.

Menurut keterangan resmi Kementerian Kehutanan, tiga korban ditemukan meninggal dunia di lokasi kebakaran. Satu korban lainnya, Hendra Rony Wagiyanata, meninggal setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Tongas.

Empat korban meninggal dunia tersebut adalah Sukaris, PNS Operator Layanan Operasional TNBTS; Wisnu Yuda Pratama dan Sefriel Ardiansyah, staf PT Mitra Indo Permai; serta Hendra Rony Wagiyanata, personel Manggala Agni TNBTS.

Sementara itu, dua korban luka bakar berat, Munawi dari Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Suraji, petugas keamanan PT Mitra Indo Permai, dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Kronologi karhutla Bromo: kebakaran pertama dilaporkan 13 Oktober

Kementerian Kehutanan menjelaskan, petugas TNBTS menerima informasi kebakaran pada Selasa (13/10/2026) sekitar pukul 14.23 WIB. Informasi tersebut disampaikan Kepala Desa Ngadas mengenai kebakaran ladang warga di sekitar Blok Pusung Dawa, Grid A83, yang berbatasan dengan kawasan taman nasional di Desa Ngadirejo, Kabupaten Probolinggo.

Baca Juga  Komisi IV DPR Ingatkan Bahaya Pemutihan Massal Sawit Ilegal di Kawasan Hutan
Foto petugas yang meninggal dunia akibat karhutla Gunung Bromo. Foto:TNBTTS-BKSDA Jateng

Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas TNBTS menuju lokasi dan berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk meminta bantuan personel. Warga bersama perangkat desa, termasuk Kepala Desa Ngadirejo, turut membantu pemadaman.

Lokasi kebakaran yang jauh dari sumber air dan sulit dijangkau mesin penyemprot membuat pemadaman dilakukan secara manual menggunakan alat gebyok.

Api kemudian merambat masuk ke kawasan TNBTS yang memiliki medan terjal dan sulit dijangkau.

Upaya pemadaman berhasil mengendalikan api pada Rabu (14/10/2026) pukul 11.45 WIB. Petugas melanjutkan pemantauan hingga malam hari dan memastikan tidak ada lagi api maupun asap di lokasi.

Asap kembali muncul, petugas dikerahkan

Pada Kamis (15/10/2026) sekitar pukul 09.20 WIB, petugas di Posko Karhutla Cemoro Lawang melihat asap tebal dari lokasi kebakaran sebelumnya.

Empat petugas jaga segera menuju lokasi untuk melakukan pemadaman. Karena api membesar, mereka meminta tambahan personel, termasuk dari PT Mitra Indo Permai (MIP), pemegang Perizinan Berusaha Sarana Wisata Alam (PSWA), dan Masyarakat Peduli Api.

Personel tambahan dikerahkan untuk membuat sekat bakar agar api tidak meluas ke kawasan Mentigen, Kabupaten Probolinggo. Tim dibagi menjadi dua regu yang bergerak dari sisi kiri dan kanan kobaran api.

Baca Juga  Benahi Koordinasi Pusat-Daerah, Menhut Raja Juli Sebut Bakal Dirikan Puskorwil dan Gakkum di Tiap Provinsi

Sekitar pukul 13.00 WIB, angin kencang menyertai kebakaran dan menyebabkan enam personel terjebak di tengah kobaran. Lima personel lainnya berhasil menyelamatkan diri karena berada di sisi yang berlawanan dengan arah pergerakan api.

Empat petugas meninggal dunia

Setelah api mereda, petugas melakukan pencarian terhadap personel yang terjebak. Sekitar pukul 13.30 WIB, tiga orang ditemukan meninggal dunia di lokasi kejadian.

Ketiganya adalah Sukaris, PNS Operator Layanan Operasional pada Seksi PTN Wilayah I TNBTS; Wisnu Yuda Pratama, staf PT Mitra Indo Permai; dan Sefriel Ardiansyah, staf perusahaan yang sama.

Hendra Rony Wagiyanata, personel Manggala Agni TNBTS, mengalami luka berat dan dievakuasi ke RSUD Tongas untuk menjalani perawatan intensif. Namun, setelah mendapat perawatan sekitar tiga jam, ia dinyatakan meninggal dunia.

Keempat jenazah kemudian dibawa ke RSUD Tongas bersama pihak Polres Probolinggo untuk menjalani proses pemeriksaan.

Dua korban luka bakar berat dirujuk ke Surabaya

Selain empat korban meninggal dunia, dua personel mengalami luka bakar berat dalam kejadian tersebut.

Kementerian Kehutanan mengidentifikasi kedua korban sebagai Munawi, anggota Masyarakat Peduli Api, dan Suraji, petugas keamanan PT Mitra Indo Permai. Keduanya dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Baca Juga  Gandeng UM Bengkulu Kelola Hutan, Menhut: Agar Memberi Manfaat pada Masyarakat

Balai Besar TNBTS terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, aparat terkait, dan pihak lainnya untuk menangani korban serta mendampingi keluarga.

Kemenhut evaluasi keselamatan pemadaman

Kementerian Kehutanan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan menegaskan pentingnya keselamatan personel dalam operasi pengendalian karhutla, terutama di kawasan dengan medan terjal, vegetasi kering, serta kondisi angin yang dapat berubah sewaktu-waktu.

Kementerian menyatakan evaluasi terhadap kronologi kejadian dan pelaksanaan operasi pemadaman akan dilakukan bersama pihak terkait. Evaluasi tersebut ditujukan untuk memperkuat perlindungan keselamatan petugas dan relawan dalam operasi berikutnya.

Peristiwa ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran di sekitar kawasan hutan. Penggunaan api di area yang berdekatan dengan hutan perlu memperhitungkan risiko penjalaran, terutama ketika cuaca kering dan angin bertiup kencang.

Hingga keterangan resmi tersebut disampaikan, evaluasi masih menjadi bagian dari tindak lanjut. Belum ada kesimpulan dalam materi sumber mengenai penyebab pasti munculnya kembali api ataupun adanya kelalaian dalam operasi pemadaman.***