MAKLUMAT – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan lelucon tentang nama Muhammad yang umum digunakan umat Islam saat berkampanye di Dalton, Georgia, Jumat (16/10) waktu setempat. Trump mengklaim seseorang memiliki peluang 65 persen untuk benar jika menebak nama orang Timur Tengah dengan menyebut “Mohammad”.
“Jika Anda ragu dengan nama seseorang dari Timur Tengah, cukup katakan ‘Mohammad’,” ujar Trump dikutip dari video Al Jazeera, Ahad (18/10).
“Anda punya peluang sekitar 65 persen. ‘Halo, Mohammad.’ Saya sudah melakukannya selama bertahun-tahun. Saya tidak pernah salah,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika Trump membahas situasi politik Iran dan berspekulasi mengenai siapa yang akan menjadi presiden negara itu berikutnya.
Trump menyebut Iran sebagai satu-satunya negara yang tidak seorang pun ingin menjadi presidennya. Ia kemudian berpura-pura bertanya kepada sejumlah orang bernama Mohammad apakah mereka bersedia menduduki jabatan tersebut.
Padahal, Masoud Pezeshkian masih menjabat sebagai Presiden Iran sejak 2024.
Retorika Trump terhadap Muslim Kembali Disorot
Lelucon Trump tersebut muncul di tengah kritik berulang dari kelompok advokasi Muslim dan pegiat hak asasi manusia terhadap pernyataannya mengenai umat Islam, imigran, dan kelompok minoritas etnis.
Selama kampanye pemilihan paruh waktu Amerika Serikat, Trump meningkatkan retorika yang menyasar warga Amerika keturunan Somalia dan Muslim. Di antara tokoh yang menjadi sasaran pernyataannya adalah Abdul El-Sayed, kandidat Muslim dari Partai Demokrat untuk Senat AS, serta Ilhan Omar, anggota DPR AS dari Partai Demokrat yang berasal dari Somalia dan datang ke Amerika Serikat sebagai pengungsi.
Nama Muhammad, dengan berbagai variasi ejaan seperti Mohammad dan Mohammed, memang sangat umum digunakan di kalangan umat Islam. Banyak keluarga Muslim memberikan nama tersebut kepada anak laki-laki mereka sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad.
Namun, klaim Trump mengenai peluang 65 persen untuk menebak nama seseorang dari Timur Tengah tidak disertai bukti statistik dalam pernyataan yang dikutip Reuters.
Trump Kembali Tegaskan Iran Tak Boleh Memiliki Senjata Nuklir
Dalam kesempatan yang sama, Trump kembali menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah diizinkan memiliki senjata nuklir.
Pernyataan itu disampaikan sekitar tujuh bulan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran. Salah satu tujuan operasi tersebut adalah melumpuhkan program nuklir Teheran.
Sementara itu, laporan tahunan Council on American-Islamic Relations (CAIR) yang dirilis pada 2026 mengaitkan peningkatan Islamofobia di Amerika Serikat, antara lain, dengan kebijakan pengetatan imigrasi dan tindakan terhadap demonstrasi pro-Palestina selama masa jabatan kedua Trump.
Laporan tersebut menambah sorotan terhadap dampak retorika dan kebijakan politik terhadap kehidupan komunitas Muslim di Amerika Serikat.***












