BMKG Prediksi Wilayah Berpotensi Hujan pada 20–26 Oktober 2026, Ini Daftarnya

MAKLUMAT — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sejumlah wilayah Indonesia berpotensi mengalami peningkatan curah hujan pada 20–26 Oktober 2026. Meski cuaca di sebagian besar wilayah diprediksi cerah berawan hingga hujan ringan, hujan sedang hingga lebat serta angin kencang masih berpeluang terjadi di sejumlah daerah.

Pada periode 20–22 Oktober 2026, peningkatan hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.

Dalam prakiraan cuaca Indonesia sepekan ke depan dikutip Kamis (22/10), BMKG juga mencantumkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat dengan status siaga di Aceh dan Sumatera Utara.

Sementara itu, potensi angin kencang perlu diwaspadai di Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Papua, dan Papua Selatan.

Wilayah Berpotensi Hujan pada 23–26 Oktober 2026

Pada periode 23–26 Oktober 2026, peningkatan hujan dengan intensitas sedang diprakirakan berpotensi terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

Baca Juga  Gempa NTT Belum Reda, Terjadi 1.624 Gempa Susulan, Korban Tewas Tembus 68 Orang

Adapun potensi hujan lebat hingga sangat lebat dengan status siaga diprakirakan terjadi di Aceh dan Papua Pegunungan.

BMKG juga mengingatkan potensi angin kencang di Aceh, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.

Masyarakat di wilayah-wilayah tersebut perlu mengikuti pembaruan prakiraan cuaca dan peringatan dini karena kondisi atmosfer dapat berubah. Hujan lebat yang terjadi secara lokal dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang.

Dinamika Atmosfer Mendukung Pertumbuhan Awan Hujan

Peluang hujan di sejumlah wilayah dipengaruhi dinamika atmosfer regional dan lokal. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, dan Gelombang Kelvin berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.

Selain itu, sirkulasi siklonik di Laut Andaman, Laut Cina Selatan, dan perairan utara Kalimantan Barat, serta pengaruh tidak langsung Siklon Tropis Champi di sebelah timur Filipina, turut memengaruhi pola pergerakan angin regional.

Pertemuan dan perlambatan angin di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Papua berpotensi mendukung pemusatan massa udara dan pembentukan awan hujan.

Meski demikian, BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia masih mengalami curah hujan kategori rendah hingga menengah pada periode dasarian III Oktober hingga dasarian II November 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa peluang hujan tidak merata dan dapat berbeda antardaerah.

Baca Juga  Cuaca Ekstrem Mengancam Pilkada Serentak 2024 di Jawa Timur

Cuaca Panas dan Risiko Karhutla Tetap Perlu Diwaspadai

Di tengah peluang hujan lokal, cuaca panas dan kondisi kering masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia. Suhu maksimum mencapai 38,5 derajat Celsius di Jawa Barat pada 17 Oktober 2026. Pada tanggal yang sama, Lampung dan Jawa Tengah mencatat suhu maksimum 38 derajat Celsius, sedangkan Jawa Timur mencapai 38 derajat Celsius pada 16 Oktober 2026.

Pemantauan pada 19 Oktober 2026 juga menunjukkan peningkatan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di beberapa provinsi. Di Kalimantan Tengah, jumlahnya meningkat dari 157 menjadi 937 titik, sedangkan di Kalimantan Barat naik dari 31 menjadi 231 titik dibandingkan hari sebelumnya.

Peningkatan titik panas juga tercatat di Sumatera Selatan, dari 19 menjadi 66 titik, serta Jawa Timur, dari 10 menjadi 36 titik.

Karena itu, masyarakat diimbau menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan. Warga juga diminta tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan yang mudah terbakar.

Masyarakat perlu menjaga kecukupan cairan tubuh saat beraktivitas di tengah cuaca panas, memantau informasi cuaca terbaru, serta mewaspadai potensi genangan, longsoran material, sambaran petir, dan angin kencang ketika hujan terjadi.***

Baca Juga  Mengapa Jakarta Sering Dilanda Banjir? Ini Tiga Penyebab Utama yang Terus Berulang