Kebakaran di Surabaya Melonjak 77 Persen, Alang-Alang Kering Jadi Ancaman

kebakaran

MAKLUMAT — Kasus kebakaran di Kota Surabaya meningkat pada Agustus 2026. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya mencatat 55 kejadian pada bulan tersebut, naik dari 31 kejadian pada Agustus 2025, atau sekitar 77 persen.

Kepala DPKP Kota Surabaya Laksita Rini Sevriani mengatakan peningkatan itu banyak berkaitan dengan kebakaran alang-alang di lahan terbuka. Kondisi rumput yang mengering selama kemarau ekstrem membuat lahan lebih mudah terbakar. Angin kencang juga dapat mempercepat perambatan api.

“Banyak lahan terbuka di Surabaya yang rumputnya mulai mengering akibat cuaca ekstrem. Kami mengimbau warga untuk tidak membakar sampah di lahan kosong, tidak membakar semak-semak, dan tidak membuang puntung rokok sembarangan di tepi jalan,” ujar Laksita Rini, melansir laman resmi Pemkot Surabaya, Rabu (16/9/2026).

Kebakaran alang-alang terjadi di sejumlah wilayah, seperti Surabaya Barat, Gunung Anyar di Surabaya Timur, hingga kawasan utara. Memasuki September, DPKP mencatat sedikitnya 21 kejadian kebakaran alang-alang. Sebagian besar terjadi di tanah milik pengembang yang belum dibangun.

Laksita mengatakan kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah muncul dan menyebar ketika ada sumber pemicu. Menurut dia, sebagian kejadian justru berawal dari kelalaian yang terjadi dalam aktivitas sehari-hari.

Baca Juga  Pakar ITS Serukan Evaluasi Total Sistem Keselamatan Transportasi Laut

“Banyak kebakaran yang dipicu hal sepele. Mulai dari lupa mematikan kompor saat memasak, korsleting listrik akibat kabel tua atau steker bertumpuk, membuang puntung rokok sembarangan, hingga penggunaan obat nyamuk bakar yang diletakkan dekat kursi busa,” jelasnya.

Selain kebakaran di lahan terbuka, DPKP juga mengingatkan warga terhadap risiko dari penggunaan listrik di rumah. Kabel tua dan steker yang digunakan secara berlebihan dapat memicu korsleting. Warga juga diminta tidak meninggalkan kabel charger yang masih terhubung ke stopkontak tanpa pengawasan.

Perhatian juga diarahkan pada pengisian daya kendaraan listrik dan sepeda listrik. DPKP meminta warga tidak mengisi daya kendaraan tersebut di dalam rumah. Pengisian daya disarankan dilakukan di teras untuk mengurangi risiko jika terjadi korsleting.

“Proses pengisian daya minimal dilakukan di teras untuk meminimalkan risiko jika terjadi korsleting,” imbuh Laksita.

Secara keseluruhan, DPKP mencatat 271 kejadian kedaruratan sepanjang 2025. Sementara itu, hingga pertengahan September 2026, jumlah kejadian kedaruratan sudah mencapai 232 kasus. Angka tersebut setara sekitar 86 persen dari total kejadian pada 2025, meski tahun 2026 belum berakhir.

Di tengah peningkatan kasus tersebut, Laksita menyebut respons warga terhadap potensi kebakaran mulai membaik. Edukasi melalui program Kampung Pancasila membuat warga lebih cepat melaporkan pembakaran sampah maupun api kecil kepada Command Center 112.

Baca Juga  Diterjang Angin Puting Beliung, 10 Rumah Warga Purwoharjo Banyuwangi Rusak

“Alhamdulillah, warga Surabaya sekarang sudah sangat tanggap. Jika ada pembakaran sampah atau api kecil, mereka langsung melapor ke Command Center 112 sehingga petugas bisa bertindak cepat dalam kurun waktu tiga menit pertama sebelum api merambat luas,” katanya.

DPKP meminta masyarakat memeriksa instalasi listrik secara berkala dan mencabut peralatan elektronik yang tidak digunakan ketika meninggalkan rumah. Warga juga diminta menjauhkan sumber api dari jangkauan anak-anak. Saat terjadi kebocoran atau letupan tabung LPG, warga diminta tetap tenang dan segera menutup tabung menggunakan kain atau lap basah.

Laksita berharap warga lebih berhati-hati selama cuaca panas dan berangin. Menurutnya, pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah maupun ketika berada di luar rumah.

“Kami berharap di tengah cuaca ekstrem yang panas dan berangin ini, masyarakat bisa lebih berhati-hati dan meninggalkan kebiasaan yang bisa memicu kobaran api,” pungkasnya.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki