MAKLUMAT — Di tengah rimbunnya kawasan hutan di kaki Gunung Anjasmoro, Desa Begaganlimo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, terdapat sebuah pohon berukuran besar yang menjadi salah satu daya tarik alam masyarakat setempat. Pohon tersebut dikenal dengan nama Akar Seribu, sebutan yang muncul karena banyaknya akar yang menjulur dan menyebar di sekitar batang pohon.
Pohon Akar Seribu dikenal masyarakat sebagai pohon Koang atau Talirogo. Sejumlah sumber menyebut pohon tersebut telah berusia ratusan tahun, dengan ukuran yang sangat besar dan akar yang menjadi ciri khasnya. DetikTravel mencatat pohon ini berada di tepi aliran sungai di kawasan Hutan Megolemet dan memiliki tinggi sekitar 30 meter.
Keberadaan pohon tersebut sebenarnya telah diketahui masyarakat secara turun-temurun. Warga sekitar mengenal kawasan tersebut sejak zaman orang tua dan leluhur mereka. Dahulu, pohon berukuran besar itu masih berada di tengah kawasan yang dipenuhi semak dan bambu sehingga belum banyak diketahui masyarakat dari luar desa.
Berawal dari Warga yang Membuka Kawasan
Keberadaan Akar Seribu mulai mendapat perhatian lebih luas setelah sejumlah warga Desa Begaganlimo membersihkan kawasan di sekitar pohon. Berdasarkan sejumlah sumber, pohon tersebut ditemukan oleh warga pada sekitar tahun 2014 dalam kondisi tertutup oleh rumpun bambu. Warga kemudian membersihkan area di sekitarnya hingga keberadaan pohon raksasa tersebut semakin terlihat.
Setelah kawasan dibuka dan mulai dikenal, masyarakat kemudian mengembangkan lokasi tersebut sebagai objek wisata alam. Pada 2015, Akar Seribu mulai ditetapkan sebagai salah satu objek wisata. Popularitasnya semakin meningkat setelah foto dan cerita mengenai keunikan pohon tersebut beredar di media sosial.
Daya tarik Akar Seribu bukan hanya terletak pada ukuran pohonnya, tetapi juga suasana alam yang masih asri. Lokasinya berada di kawasan hutan dengan aliran sungai yang jernih di dekat pohon. Pengunjung harus melewati jalan setapak dan jembatan sebelum mencapai lokasi, sehingga perjalanan menuju Akar Seribu sekaligus memberikan pengalaman wisata alam.
Pohon Raksasa dengan Akar yang Menjulang
Jika dilihat dari dekat, bentuk Akar Seribu cukup berbeda dibandingkan pohon pada umumnya. Batangnya berukuran besar, sementara akar-akarnya tumbuh menjulur dan menyebar di sekitar pohon. Bentuk akar yang tidak beraturan tersebut menjadi daya tarik utama bagi pengunjung.
Pohon ini juga disebut memiliki bentuk yang menyerupai pohon beringin karena akar dan percabangannya yang besar. Sumber lain mencatat bahwa pohon Koang atau Talirogo tersebut memiliki tinggi sekitar 30 meter dan diameter area akar sekitar 10 meter.
Selain pohon yang menjadi ikon utama, perjalanan menuju Akar Seribu menawarkan suasana khas pegunungan. Udara yang sejuk, pepohonan yang rimbun, serta suara aliran sungai membuat perjalanan menuju lokasi menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Kisah yang Hidup di Tengah Masyarakat
Di balik keindahan alamnya, Akar Seribu juga memiliki cerita yang berkembang di tengah masyarakat. Salah satu legenda yang dipercaya masyarakat mengaitkan kawasan tersebut dengan Ronggolawe dan Kerajaan Majapahit.
Menurut cerita yang berkembang, pohon tersebut dipercaya menjadi tempat menghilangnya Ronggolawe ketika menghindari kejaran pasukan Majapahit. Kisah tersebut menjadi bagian dari cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di sekitar kawasan tersebut juga terdapat sejumlah tinggalan yang dikaitkan dengan sejarah lokal, termasuk petilasan Putri Windu Dewi. Di kawasan sekitar juga disebut terdapat reruntuhan batu, yoni, arca, dan Watu Gilang yang semakin memperkuat nuansa sejarah dan budaya di wilayah Begaganlimo.
Namun, berbagai kisah tersebut perlu dipandang sebagai legenda dan cerita masyarakat yang berkembang secara turun-temurun, sehingga tidak seluruhnya dapat dipastikan sebagai fakta sejarah. Keberadaan cerita tersebut tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya dan identitas masyarakat setempat.
Sungai Jernih dan Hutan yang Menjadi Daya Tarik
Salah satu keunikan Akar Seribu adalah keberadaan aliran sungai di dekat pohon. Air sungai yang jernih dan lingkungan yang masih hijau memberikan suasana alami bagi pengunjung.
Perjalanan menuju lokasi juga menjadi pengalaman tersendiri. Pengunjung harus berjalan menyusuri jalan setapak dari area parkir menuju pohon Akar Seribu. DetikTravel pernah mencatat jaraknya sekitar 700 meter dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit, melewati kawasan dengan pemandangan hijau dan aliran Sungai Sooko Bagal.
Kondisi tersebut menjadikan Akar Seribu memiliki karakter sebagai wisata alam yang menawarkan pengalaman perjalanan, bukan sekadar tempat untuk berfoto. Pengunjung dapat menikmati suasana hutan, udara pegunungan, aliran sungai, serta keberadaan pohon raksasa yang menjadi ikon utama.
Menjadi Potensi Wisata Desa Begaganlimo
Keberadaan Akar Seribu menjadi salah satu potensi penting bagi pengembangan wisata Desa Begaganlimo. Kajian mengenai potensi wisata desa juga menempatkan Akar Seribu sebagai salah satu atraksi unggulan yang dapat dikembangkan dalam konsep wisata berbasis alam.
Keunikan pohon, suasana hutan, aliran sungai, serta cerita sejarah dan legenda yang berkembang di masyarakat dapat menjadi satu kesatuan pengalaman wisata. Potensi tersebut juga dapat dikembangkan dengan melibatkan masyarakat sekitar melalui penguatan promosi, penyediaan informasi wisata, penataan akses, serta pengembangan produk lokal.
Bagi masyarakat Desa Begaganlimo, Akar Seribu bukan hanya sebuah pohon besar yang berada di kawasan hutan. Ia merupakan bagian dari cerita, lingkungan, dan potensi desa yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, pengembangan Akar Seribu perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan dan menghormati nilai sejarah serta budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Melalui pengenalan kembali Akar Seribu kepada masyarakat luas, potensi wisata alam Desa Begaganlimo diharapkan semakin dikenal. Dengan pengelolaan yang memperhatikan aspek lingkungan, budaya, dan keterlibatan masyarakat, Akar Seribu dapat terus menjadi salah satu identitas wisata alam yang dimiliki Desa Begaganlimo, Kabupaten Mojokerto.
*) Penulis: Tim KKN-P Kelompok 42 Umsida













