MAKLUMAT — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Terpadu (KKN-T) Kelompok 20 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar penyuluhan tentang stimulasi tumbuh kembang balita di Posyandu Desa Banjarwungu, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (18/7/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program kerja bidang kesehatan yang dijalankan mahasiswa selama masa pengabdian di desa. Penyuluhan dilakukan sebagai upaya mendukung pencegahan stunting sejak dini melalui edukasi kepada para orang tua.
Penyuluhan dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan rutin Posyandu balita yang diikuti para ibu yang membawa anak untuk penimbangan dan pemeriksaan kesehatan bulanan. Sekitar 20 ibu balita hadir dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Dalam penyuluhan itu, mahasiswa KKN Terpadu Kelompok 20, Nabillah Putri Tavia dan David Aditya Pratama, menyampaikan materi mengenai stimulasi tumbuh kembang balita sesuai tahapan usia. Materi yang diberikan meliputi stimulasi motorik kasar dan halus, kemampuan berbahasa, hingga perkembangan sosial-emosional anak.
Penyampaian materi dilakukan secara interaktif melalui sesi tanya jawab dan simulasi praktik langsung bersama balita. “Jadi kami bersama-sama melatih balita meraih mainan untuk motorik halus, tepuk tangan, atau berjalan untuk melatih motorik kasar,” terang Nabillah.
Selain itu, mahasiswa juga memberikan edukasi mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang, pemberian ASI eksklusif, serta pemantauan berat dan tinggi badan balita secara berkala di Posyandu sebagai langkah deteksi dini risiko stunting.
“Kami mengajarkan cara sederhana menstimulasi anak di rumah, seperti mengajak berkomunikasi aktif, bermain edukatif, dan membacakan buku cerita bergambar,” ujar David.
Bidan Posyandu Desa Banjarwungu, Yuli, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, penyuluhan yang diberikan mahasiswa membantu upaya tenaga kesehatan dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pencegahan stunting.
“Kami terbantu dengan adanya penyuluhan ini. Kehadiran mahasiswa mendukung upaya kami dalam mengedukasi masyarakat agar lebih paham cara mencegah stunting sejak dini, tidak hanya mengandalkan pemeriksaan rutin saja,” ujar Yuli.
Ia berharap kegiatan edukasi serupa dapat terus berlanjut meski masa KKN mahasiswa telah berakhir, mengingat pentingnya penyampaian informasi secara berkesinambungan kepada masyarakat.
Salah seorang peserta penyuluhan, Sari, mengaku memperoleh pengetahuan baru setelah mengikuti kegiatan tersebut. Warga Desa Banjarwungu itu mengatakan selama ini dirinya datang ke Posyandu hanya untuk menimbang berat badan anak.
“Ternyata setelah ikut penyuluhan ini, saya baru tahu kalau ngajak anak ngobrol, main bareng, sampai bacain buku cerita bergambar itu juga penting buat perkembangan otaknya. Sekarang saya jadi lebih paham cara mencegah stunting, tidak cuma soal makanan saja,” ujar Sari.
Ia menambahkan bahwa penjelasan mengenai pentingnya ASI eksklusif dan gizi seimbang turut memperluas wawasannya. Selama ini, ia mengaku hanya memperoleh informasi seadanya dari lingkungan sekitar tanpa penjelasan yang memadai dari tenaga kesehatan maupun pihak yang berkompeten.***
*) Penulis: Kristy













