MAKLUMAT — Militer Amerika Serikat menggempur lebih dari 30 target ISIS di Suriah sepanjang Februari 2026. Serangan negeri adidaya ini sebagai bagian dari upaya mempertahankan tekanan terhadap jaringan ISIS. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut operasi dilakukan antara 3–12 Februari, menyasar infrastruktur, gudang senjata, serta jaringan logistik kelompok tersebut. “Pasukan AS melakukan “10 serangan terhadap lebih dari 30 target ISIS di Suriah untuk mempertahankan tekanan militer tanpa henti,” kata CENTCOM dalam keterangan resmi, Ahad (15/2/2026).
Selain itu, lima serangan tambahan pada akhir Januari juga menghantam situs komunikasi, simpul logistik penting, dan fasilitas penyimpanan senjata ISIS. Operasi ini merupakan kelanjutan Operasi Hawkeye Strike, yang diluncurkan setelah penyergapan di Palmyra pada 13 Desember 2025. Serangan tersebut diketahui menewaskan dua tentara AS dan seorang penerjemah sipil.
Menurut CENTCOM, selama dua bulan operasi, lebih dari 50 militan ISIS tewas atau ditangkap, sementara lebih dari 100 target infrastruktur dihantam menggunakan ratusan amunisi presisi.
Ribuan Tahanan ISIS Dipindah
Di tengah operasi militer yang menyasar 30 target ISIS, AS juga memindahkan lebih dari 5.700 tersangka ISIS dari 61 negara dari Suriah ke Irak. Pemindahan tahanan menurut laporan Arab News, dilakukan setelah situasi keamanan penjara di Suriah berubah akibat perebutan wilayah oleh pemerintah Damaskus dari pasukan pimpinan Kurdi.
Langkah ini menunjukkan Washington masih aktif mengelola risiko kebangkitan ISIS, meski kelompok tersebut telah kehilangan wilayah kekhalifahan sejak 2019. Serangan dan pemindahan tahanan menunjukkan ISIS masih dianggap ancaman keamanan global pada 2026, dengan sel aktif di Timur Tengah, Afrika, dan Asia.
Operasi juga terjadi saat AS mulai menarik sebagian pasukannya, termasuk konfirmasi penarikan dari pangkalan Al-Tanf dekat perbatasan Suriah-Yordania-Irak. Situasi ini menandakan strategi baru Washington: mengurangi kehadiran permanen, tetapi tetap mempertahankan kemampuan serangan presisi terhadap sisa jaringan ISIS.
ISIS—juga dikenal sebagai Daesh atau Negara Islam—pernah menguasai wilayah luas Irak dan Suriah antara 2014 hingga 2019. Meski kekhalifahan teritorial runtuh, kelompok ini kini beroperasi sebagai jaringan rahasia dengan ribuan anggota dan afiliasi di berbagai kawasan. Koalisi internasional yang dipimpin AS sejak 2014 terus melakukan operasi militer, pemblokiran pendanaan, serta upaya kontra-radikalisasi untuk menekan kebangkitan kembali kelompok tersebut.***












