Bagaimana Cara Menyikapi Informasi di Menfess? Ini Kata Wapres BEM UNAIR

menfess

MAKLUMAT — Menfess atau mention and confess telah menjadi salah satu ruang bagi pengguna media sosial untuk menyampaikan informasi, cerita, maupun curahan hati secara anonim. Fenomena ini juga hadir di lingkungan mahasiswa dan kerap menjadi tempat bertukar informasi di media sosial.

Wakil Presiden BEM Universitas Airlangga (UNAIR), Shintya Iftitah Dzikrullah, mengatakan menfess pada dasarnya dapat menjadi wadah bagi pengguna media sosial yang ingin menyampaikan sesuatu tanpa membuka identitas. Pengguna juga dapat memperoleh tanggapan dari publik melalui unggahan tersebut.

“Menfess itu kan secara general memang difungsikan sebagai media bertukar informasi, dibungkus secara anonim,” kata Shintya kepada wartawan Maklumat.id pada Selasa (8/9/2026).

Menurut Shintya, menfess memberi kesempatan kepada pengguna yang ingin bercerita tetapi memilih untuk tidak membuka identitasnya. Setelah pesan dibagikan, pengguna dapat melihat respons dari orang lain. Interaksi tersebut membuat menfess menjadi salah satu alternatif ruang yang disukai warganet.

“Teman-teman di sosial media itu terkadang ingin curhat tapi secara anonim dan ingin mendapatkan respons dari publik, itu lumayan menjadi wadah buat mereka yang membutuhkan,” ujarnya.

Di lingkungan mahasiswa, menfess kemudian menjadi bagian dari keseharian bermedia sosial. Informasi yang muncul dapat menjadi bahan pembicaraan dan diketahui oleh lebih banyak orang. Cara tersebut membuat sebuah informasi dapat berpindah dengan cepat di antara pengguna.

Baca Juga  IMM Aceh Dorong Implementasi ESG dalam Aktivitas Pertambangan

Meski demikian, Shintya mengingatkan bahwa informasi yang beredar tetap perlu disikapi dengan pertimbangan. Terlebih ketika pembahasan menyangkut isu yang sensitif.

Namun ia yakin bahwa mahasiswa memiliki kemampuan berpikir kritis yang dapat digunakan untuk memahami informasi sebelum mengambil kesimpulan.

“Jangan sampai pada akhirnya mahasiswa itu hanya menyerap informasi itu secara mentah-mentah. Gunakanlah privilege kita sebagai mahasiswa yang memiliki kapasitas critical thinking untuk mengolah informasi,” jelasnya.

Shintya mengatakan mahasiswa dapat memeriksa apakah informasi yang diterima benar-benar valid. Informasi tersebut kemudian dapat dipertimbangkan secara logis sebelum disampaikan kembali kepada orang lain.

Ia menilai hal tersebut penting karena pengirim pesan dalam menfess menggunakan identitas anonim. Namun, anonimitas tidak berarti informasi atau kritik yang disampaikan dapat begitu saja diabaikan. Setiap informasi tetap perlu dilihat dan dipertimbangkan berdasarkan isinya.

Dalam banyak hal, menfess juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik. Kritik tersebut dapat ditujukan kepada organisasi mahasiswa maupun pihak kampus ketika mahasiswa merasa ada hal yang perlu disampaikan.

Karena itu, Shintya menilai kritik tidak semestinya diabaikan hanya karena disampaikan melalui akun anonim. Anonimitas perlu dilihat sebagai cara penyampaian, sementara isi kritik tetap perlu diperhatikan dan ditanggapi secara proporsional.

Baca Juga  Media Sosial dan Hustle Culture: Tekanan Baru untuk Generasi Z

Shintya lalu menekankann bahwa keberadaan menfess tetap dapat dimanfaatkan sebagai ruang komunikasi selama mahasiswa mampu menyikapi informasi yang diterimanya dengan baik.

“Jadi lebih ke gimana caranya kita menghadapi menfess itu secara bijak, bisa menggunakan critical thinking kita,” katanya.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki