Bagaimana Menyikapi Peringatan Dini Cuaca Ekstrem? Begini Penjelasan Kepala Stamet Kelas I Juanda

Peringatan Dini

MAKLUMAT — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk wilayah Jawa Timur, Sabtu, (7/2/2026).

Berdasarkan pembaruan pukul 08.50 WIB, hujan sedang hingga lebat yang berpotensi disertai kilat/petir dan angin kencang diperkirakan mulai terjadi sekitar pukul 09.00 WIB.

Wilayah yang berpotensi terdampak lebih awal berada di Kabupaten Sumenep, khususnya Kecamatan Batang Batang. BMKG menyebutkan, kondisi ini berpeluang meluas ke sejumlah wilayah lain di Pulau Madura.

Daerah yang masuk dalam potensi terdampak meliputi Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, termasuk wilayah perkotaan hingga pesisir. Kondisi cuaca ekstrem tersebut diperkirakan berlangsung hingga pukul 12.00 WIB.

BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi genangan air, pohon tumbang, gangguan lalu lintas, serta aktivitas luar ruang. Warga juga diminta menghindari tempat terbuka saat terjadi petir dan rutin memantau informasi cuaca melalui kanal resmi.

Di tengah meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo (Stamet), Taufiq Hermawan, sekaligus Koordinator BMKG se-Jawa Timur, menyoroti masih kuatnya pola pikir keliru masyarakat dalam menyikapi peringatan dini cuaca.

Hal itu disampaikan Taufiq saat menjadi narasumber dalam kegiatan wawancara dan edukasi cuaca ekstrem di SD Muhammadiyah 4 Pucang, Surabaya. Menurutnya, cuaca ekstrem bukan fenomena biasa dan memiliki potensi bahaya serius bagi keselamatan.

Baca Juga  Suhu Gahar Panggang Sejumlah Kota, BMKG Ingatkan Ancaman Hujan Badai Mendadak

“Kesalahan yang paling sering terjadi adalah mengabaikan peringatan dini cuaca. Padahal informasi BMKG disusun melalui analisis ilmiah untuk membantu masyarakat mengantisipasi risiko bencana hidrometeorologi,” ujarnya kepada Maklumat.id, Kamis (5/2/2026).

Taufiq menjelaskan, masih banyak warga yang tetap menjalankan aktivitas seperti biasa meskipun peringatan dini telah dikeluarkan. Akibatnya, respons baru muncul setelah bencana terjadi.

“Selama ini masyarakat cenderung bergerak setelah kejadian. Padahal itu sudah masuk tahap pertolongan. Yang seharusnya diperkuat adalah antisipasi sebelum kejadian,” tegasnya.

Ia menambahkan, BMKG secara rutin telah menyampaikan peringatan dini cuaca ekstrem. Namun, informasi tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan tindakan konkret di tingkat masyarakat.

“Ketika BMKG mengeluarkan peringatan dini, seharusnya langsung ada penyesuaian aktivitas dan langkah antisipasi. Ini yang masih kurang,” katanya.

Taufiq menekankan bahwa kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan mengetahui prakiraan cuaca, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata, seperti menghindari area rawan, meningkatkan kewaspadaan lingkungan, dan memprioritaskan keselamatan.

Ia pun mengajak masyarakat untuk mengubah pola pikir dari reaktif menjadi preventif. Dengan langkah tersebut, risiko dan dampak cuaca ekstrem diyakini dapat ditekan.

“Kita berharap ke depan, setiap peringatan cuaca ekstrem langsung diikuti dengan langkah antisipasi yang jelas. Ini tanggung jawab bersama,” pungkasnya.***

Baca Juga  Mudik Lebaran 2026, Puguh Ingatkan Waspada Cuaca Ekstrem dan Rawan Banjir-Longsor di Jatim