MAKLUMAT — Ada banyak hal yang dapat dipelajari dari dunia akademik: tentang ilmu, ketekunan, ketelitian, dan pencarian kebenaran. Namun, mungkin ada pelajaran yang lebih sunyi—tentang bagaimana ilmu membentuk cara kita menjaga amanah, menghadapi pilihan, dan menempatkan diri.
At-Taubah mengajarkan bahwa perjalanan itu tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kejujuran, keberanian untuk kembali, dan kemampuan menyerahkan hasil kepada Allah.
Ilmu dan Amanah
Menjadi akademisi berarti berada dalam ruang yang dekat dengan pengetahuan dan kepercayaan. Ada ilmu yang dipelajari, dikembangkan, dan dibagikan; ada pula kesempatan, tanggung jawab, dan kewenangan yang menyertai setiap peran.
Karena itu, perjalanan akademik sesungguhnya tidak hanya membentuk kapasitas intelektual. Ia juga perlahan memperlihatkan karakter. Ada saat ketika kita diberi kesempatan, ada saat ketika harus mengambil keputusan, dan ada saat ketika sesuatu yang kita yakini benar tidak selalu menjadi pilihan yang paling mudah. Pada ruang-ruang seperti inilah ilmu menemukan makna yang lebih luas: bukan hanya apa yang kita ketahui, tetapi bagaimana pengetahuan tersebut membentuk cara kita hidup.
Kejujuran yang Menjadi Pilihan
At-Taubah banyak berbicara tentang kejujuran dan kesetiaan. Salah satu pelajaran pentingnya adalah bahwa kejujuran tidak selalu hadir dalam keadaan yang nyaman. Ada kejujuran yang mudah diucapkan ketika tidak ada konsekuensi, tetapi ada pula kejujuran yang membutuhkan keberanian karena menuntut kita menghadapi keadaan sebagaimana adanya.
Dalam kehidupan akademik, kejujuran menjadi fondasi yang menjaga ilmu tetap bermartabat. Bukan hanya tentang kebenaran yang kita temukan, tetapi juga tentang bagaimana kita membawa diri ketika berhadapan dengan manusia lain. Ada ketenangan tertentu ketika seseorang tidak perlu membangun terlalu banyak cerita untuk mempertahankan dirinya. Cukup berkata benar, menjalankan amanah, dan membiarkan kebenaran memiliki jalannya sendiri.
Keberanian untuk Kembali
At-Taubah kemudian menghadirkan kisah tiga orang yang tertinggal dari perjalanan menuju Tabuk. Mereka memilih untuk berkata jujur meskipun kejujuran tersebut membawa konsekuensi. Al-Qur’an menggambarkan keadaan mereka dengan sangat kuat: bumi yang luas terasa sempit dan diri mereka sendiri terasa sesak. Hingga akhirnya mereka menyadari bahwa tidak ada tempat berlindung dari Allah kecuali kepada-Nya. Kemudian Allah menerima taubat mereka (QS. At-Taubah: 117-118).
Di sini taubat terasa lebih dalam daripada sekadar memperbaiki kesalahan. Ia adalah keberanian untuk kembali kepada kebenaran setelah menyadari bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki: mengakui keadaan, menerima konsekuensi, dan tetap berharap kepada Allah.
Menariknya, setelah kisah tersebut, Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119).
Seakan-akan perjalanan taubat membawa manusia kembali kepada kejujuran: menjadi benar dalam perkataan, pilihan, dan cara menjalani hidup.
Ketika Al-Qur’an Menjadi Cermin
Barangkali bagian paling menarik dari membaca Al-Qur’an adalah ketika kisah tentang manusia lain perlahan berubah menjadi pertanyaan untuk diri sendiri.
Ketika melihat ketidakjujuran, bagaimana dengan kejujuran kita? Ketika merasa tidak dihargai, bagaimana kita memperlakukan orang lain? Ketika memperoleh posisi, apakah posisi tersebut membuat kita semakin dekat dengan amanah atau justru semakin jauh darinya?
Dalam dunia akademik, pertanyaan-pertanyaan tersebut mengingatkan bahwa setiap posisi membawa ruang untuk bercermin. Gelar, jabatan, karya, dan pencapaian hanyalah bagian dari perjalanan. Yang ikut berjalan bersama kita adalah karakter yang terbentuk selama menjalaninya.
Belajar Melepaskan Hasil
Namun, manusia tetap memiliki batas. Kita dapat memilih cara bekerja, menjaga prinsip, dan memperlakukan orang lain dengan baik. Tetapi kita tidak dapat menentukan bagaimana orang lain menilai kita, bagaimana sebuah keputusan akan berakhir, atau kapan sebuah usaha akan mendapatkan hasil.
Di sinilah tawakkal menjadi indah. Tawakkal bukan meninggalkan ikhtiar. Ia adalah melakukan bagian kita dengan sungguh-sungguh, kemudian melepaskan kebutuhan untuk mengendalikan seluruh hasilnya.
Ada ketenangan ketika kita menyadari bahwa tugas manusia adalah berusaha dengan benar, sementara hasil akhirnya berada dalam pengetahuan Allah.
Cukuplah Allah Bagiku
At-Taubah kemudian ditutup dengan sebuah ayat yang sangat indah: Hasbiyallahu la ilaha illa huwa, ‘alayhi tawakkaltu, wa huwa rabbul-‘arsyil-‘azhim.
“Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada Tuhan selain Dia. Kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (QS. At-Taubah: 129).
“Cukuplah Allah bagiku” membawa ketenangan setelah manusia melakukan bagiannya.
Kemudian hadir kata Rabb. Seberapa tinggi pun posisi seseorang di hadapan manusia, ia tetap seorang hamba di hadapan Rabb-nya. Gelar, jabatan, dan kepakaran tidak mengubah posisi tersebut.
Lalu Al-Qur’an menyebut Rabbul-‘Arsyil-‘Azhim—Rabb pemilik ‘Arsy yang agung. Di sinilah perspektif manusia seolah diperluas. Persoalan yang terasa begitu besar dalam ruang kecil kehidupan kita ditempatkan kembali dalam keluasan kekuasaan Allah.
Ada keindahan retoris di sana: sebuah deklarasi kekuasaan yang disampaikan dengan keindahan bahasa. Satu frasa tentang ‘Arsy yang agung seakan mengingatkan bahwa tidak ada persoalan manusia yang lebih besar daripada kekuasaan Rabb-nya.
Mungkin itulah salah satu pelajaran paling indah yang dapat dibawa seorang akademisi dari At-Taubah: tetap memilih kejujuran, berani kembali ketika menyadari kekeliruan, lalu belajar melepaskan hasil melalui tawakkal.
Sebab pada akhirnya, kita tidak harus mengendalikan seluruh cerita. Kita hanya perlu memastikan bahwa bagian yang menjadi milik kita, kita jalani dengan sebaik-baiknya.
Selebihnya, hasbiyallahu.
Cukuplah Allah bagiku.***
*) Penulis: Vritta Amroini Wahyudi
Ph.D. Candidate, Biotechnology Program, Chulalongkorn University, Thailand; Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM); Pengurus LPH-KHT PWM Jawa Timur













