MAKLUMAT – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi mengalami kekeringan hingga Oktober 2026 akibat curah hujan yang diprediksi berada di bawah normal selama puncak musim kemarau. Pemerintah daerah diminta meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan langkah mitigasi sejak dini.
Koordinator Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG, Supari mengatakan wilayah yang diperkirakan terdampak meliputi Sumatera bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga Papua bagian barat dan selatan.
“ Potensi kekeringan diperkirakan berlangsung pada periode Juli hingga Oktober 2026. Wilayah-wilayah ini diprediksi akan mengalami curah hujan yang rendah, sehingga berpotensi menimbulkan kekeringan,” kata Supari dikutip, Rabu (22/7/2026).
BMKG meminta pemerintah daerah segera meningkatkan kesiapsiagaan agar dampak kekeringan terhadap masyarakat, pertanian, dan ketersediaan air bersih dapat diminimalkan.
Selain itu, BMKG secara rutin menerbitkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis setiap 10 hari sekali. Laporan tersebut berisi identifikasi wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan dalam 10 hari ke depan dan dikirim kepada para gubernur di daerah terdampak.
Ia menjelaskan indikasi kekeringan sebenarnya sudah mulai terlihat sejak Juni 2026. Saat itu sekitar 51 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah normal. Memasuki awal Juli, angkanya meningkat menjadi 70 persen wilayah Indonesia.
BMKG memproyeksikan kondisi tersebut akan semakin meluas pada Agustus hingga September. Pada periode itu sekitar 80 hingga 90 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal.
Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus hingga September. Namun dampak kekeringan masih berpotensi berlangsung hingga Oktober bahkan November di sejumlah wilayah.
“Musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dari biasanya sehingga perlu diantisipasi seluruh lapisan masyarakat,” ujar Supari.
Kekeringan Ancam Air Bersih, Pertanian hingga Karhutla
Prediksi BMKG menjadi peringatan serius bagi pemerintah pusat maupun daerah. Kekeringan berkepanjangan tidak hanya mengancam pasokan air bersih, tetapi juga berpotensi menurunkan produksi pertanian, memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat.
Mitigasi menjadi kunci. Pemerintah daerah perlu memperkuat cadangan air, mengoptimalkan embung dan irigasi, serta menyiapkan distribusi air bersih sebelum puncak musim kemarau tiba. Langkah antisipatif sejak dini akan jauh lebih efektif dibanding penanganan saat krisis sudah meluas.












