MAKLUMAT – Badan Riset dan Inovasi Nasional BRIN) mendorong perguruan tinggi melahirkan riset berdampak bagi industri dan masyarakat. Hal ini ditegaskan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, saat berkunjung ke Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Sabtu (4/7/2026).
Arif Satria menegaskan, riset di perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada publikasi ilmiah. Penelitian harus menghasilkan inovasi yang mampu meningkatkan daya saing nasional.
“Hasil publikasi ilmiah perguruan tingi diharapkan bisa diserap industri untuk memberi dampak bagi peningkatan perekonomian masyarakat,” jelasnya.
Di hadapan puluhan dosen Umsura, Arief menyampaikan program jangka panjang GII (global innovation index) pada 2029 di urutan 49. Sementara pada 2025 lalu, GII Indonesia berada di urutan 55, melompat 30 peringkat pada 2020.
Menurut Arif, Indonesia harus bertransformasi menuju innovation-driven economy. Yakni pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada riset, inovasi, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia.
Tantangan terbesar riset nasional saat ini adalah menjembatani kesenjangan antara laboratorium dan dunia industri. Hasil penelitian harus bisa dihilirisasi menjadi produk, teknologi, maupun bisnis yang dimanfaatkan masyarakat.
“Nah, itu diperlukan kolaborasi yang lebih kuat antara dunia pendidikan dan dunia industri, dengan keterlibatan pemerintah,” ujarnya menambahkan.
Sejauh ini BRIN telah membuka skema pendanaan yang dapat diakses perguruan tinggi meliputi Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM), Program Riset Inovasi Strategis (PRIS), Matching Fund RIIM Startup, dan alih teknologi hingga Hilirisasi inovasi.
Sementara itu, Rektor Umsura, Prof., Mundakir menyampaikan bahwa penguatan ekosistem riset menjadi salah satu fokus utama Umsura. Selama dua tahun terakhir, Umsura mencatat peningkatan dalam jumlah hibah penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga pendanaan riset dari berbagai skema kompetitif nasional.
“Sepanjang 2025–2026 jumlah proposal program kreativitas mahasiswa (PKM) yang didanai meningkat, hibah penelitian naik dari 56 menjadi 66 judul,” ujar Mundakir.
Secara keseluruhan, hibah penelitian, pengabdian, dan PKM yang diperoleh Umsura mencapai 248 judul pada 2025 dan 111 judul pada 2026, sesuai periode pendanaan yang berjalan.
Mundakir juga memaparkan sederet penghargaan yang telah diraih Umsura dalam bidang riset dan pengabdian masyarakat. Pada ajang BIMA Award 2025, Umsura meraih Silver Winner untuk kategori penelitian serta Gold Winner pada kategori pengabdian kepada masyarakat.
Penghargaan dari BRIN, Umsura juga masuk 10 besar perguruan tinggi penerima Grant RIIM pada periode 2022–2023.
“Sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga riset nasional diperlukan agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Mundakir menambahkan.
Paparan juga menunjukkan konsistensi Umsura dalam mengikuti skema pendanaan BRIN RIIM Kompetisi. Setelah memperoleh 15 proposal pada 2023, Umsura mendapatkan pendanaan melalui dua proposal pada 2025 dan meningkat menjadi tiga proposal pada 2026, menandakan keberlanjutan kualitas riset yang dikembangkan sivitas akademika.












