MAKLUMAT – Creative sustainability menjadi persoalan paling mendasar bagi mahasiswa baru. Ide ini ditularkan pegiat lingkungan dari Kampung Edukasi Sampah, Edi Priyanto Jumat (28/8/2026).
Di hadapan 1.300 mahasiswa baru Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN Satu) yang tengah mengikuti Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK), creative sustainability menjadi opsi untuk menjawab persoalan lingkungan.
Menurut Edi, masalah lingkungan bisa menjadi ruang berkreasi, berinovasi, dan menciptakan manfaat. “Sustainability bukan soal isu lingkungan. Di dalamnya juga mencakup cara berpikir, cara hidup, dan bagaimana menciptakan nilai,” ujar Edi Priyanto, dikutip Minggu (30/8/2026).
Menurutnya, mahasiswa memiliki tiga modal besar untuk mengambil peran di dalamnya. Modal itu meliputi pengetahuan, kreativitas, dan pengaruh. Sementara perubahan tidak selalu dimulai dari program besar atau teknologi yang mahal.
Laboratorium Ekonomi Sirkular
“Justru perubahan kerap berawal dari keresahan sederhana di sekitar kita. Tinggal berani melakukan sesuatu yang positif secara konsisten atau tidak,” tegasnya.
Ia mencontohkan sampah di lingkungan kampus yang terdiri atas sisa makanan, botol dan gelas plastik, kertas, kardus hingga banner kegiatan. Selama pola pikir yang digunakan masih sebatas pakai lalu buang, sampah akan terus menjadi persoalan. Karena itu, creative sustainability perlu dimulai dengan mengubah cara pandang.
Menjadi narasumber tunggal, ia memperkenalkan circular campus, yakni menjadikan kampus sebagai laboratorium sederhana penerapan ekonomi sirkular. Yakni meminimalkan sampah hingga benar-benar tak ada yang terbuang.
Sampah organik bisa diolah menjadi kompos untuk kebun. Banner bekas kegiatan dapat dikumpulkan dan di-upcycle menjadi merchandise yang memiliki nilai ekonomi.
“Jangan buru-buru bertanya bagaimana membuangnya. Tanyakan apakah masih bisa dimanfaatkan? Ini penting untuk meminimalkan sampah” lanjut pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah itu.
Sampah sisa makanan menjadi perhatian paling pokok dalam diskusi ini. Sejauh ini sampah terbesar adalah sisa makanan yang dihasilkan manusia. Berdasarkan data Kementerian Lingkungn Hidup dan Kehutanan, hingga Juli 2026 produksi sampah sisa makanan (food waste) di Jawa Timur diperkirakan 4,95 juta ton.
Menurutnya sisa makanan bisa diolah dengan berbagai cara seperti komposter, takakura, maupun menggunakan lalat black soldier fly (BSF). Hasil pengolahan dari BSF bisa dioptimalkan untuk pakan ternak atau perikanan yang bernilai tinggi.
Kegiatan yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Edi mendorong mahasiswa mengembangkan berbagai inovasi sederhana.
Greenpreneur Campus
Bisa dengan totebag atau pouch dari tekstil bekas, program refill, green merchandise organisasi mahasiswa, kompos dari sampah kantin, kebun kampus, pengumpulan minyak jelantah, bank sampah mahasiswa, green event kit, hingga sistem rental atau perpustakaan barang yang jarang digunakan.
“Inovasi tidak selalu harus menghasilkan produk. Inovasi lingkungan juga dapat berbentuk jasa maupun system,” tegasnya.
Dari sana mahasiswa berpeluang mengembangkan konsep greenpreneur, yaitu usaha yang tidak semata mengejar keuntungan, tetapi mampu mengintegrasikan tiga unsur: profit, people, dan planet layak secara ekonomi, memberikan manfaat kepada masyarakat, sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan.
Mahasiswa tidak harus menunggu memiliki modal besar menciptakan inovasi. Kreativitas, pengetahuan, smartphone, media sosial, jejaring, organisasi, komunitas, dosen, dan kampus, waktu dan energi adalah modal untuk menciptakan kreativitas dan kolaborasi.













