Dana Khumus, Literasi, dan Perkembangan Iran

MAKLUMAT — Republik Islam Iran, sumber angarannya ada dua: budgeter dan non-budgeter. Untuk budgeter, kontribusi sektor migas (minyak/gas) hanya sekitar 23 persen. Sejatinya, yang terbesar adalah kontribusi sektor iudstri dan jasa sekitar 50 persen, terutama real estate dan jasa profesional 14 persen, perdagangan, restoran dan hotel 12 persen, serta jasa publik 10 persen. Pertanian dan peternakan besarnya 10 persen.

Ini artinya, secara struktur ekonomi, ekonomi Iran tergolong cukup terdiversifikasi. Meski merupakan salah satu produsen minyak utama dunia.

Di sektor moneter, Bank Sentral (Bank Markazi Jomhouri Islami) tidak menggunakan benchmark interest rate, galibnya terjadi di negara-negara lain. Otoritas mengesahkan law for usury-free banking, yang mewajibkan seluruh sistem perbankan nasional, untuk beroperasi tanpa sistem bunga.

Yang menggelitik, untuk non-budgeter. Selain ada sumber zakat, ada yang menarik dan tidak ada di negara manapun, yakni kewajiban khumus (seperlima atau 20 persen). Ini kewajiban finansial dalam Islam dengan merujuk Qur’an Surat al-Anfal: 41.

“Ketahuilah, sesungguhnya apa pun yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlimanya untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnusabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad) pada hari al-furqān (pembeda), yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Mewajibkan penyisihan 20 persen dari harta perolehan tertentu. Umumnya, khumus diterapkan pada rampasan perang. Namun, dalam tradisi Syiah dan kebijakan pemerintah di Iran, mencakup surplus pendapatan tahunan, harta karun, mineral, hasil laut, pertanian, Perkebunan dan lainnya. Bahkan, secara individual warga, juga penghasilan yang berlebih, misal, dari honor, keuntungan, dan profesi-profesi yang lain.

“Dana hasil pengumpulan khumus, juga diperuntukkan biaya pendidikan. Biaya sekolah di Iran ditanggung negara, terutama pendidikan dasar dan menengah.”

Dana hasil pengumpulan khumus, juga diperuntukkan biaya pendidikan. Biaya sekolah di Iran ditanggung negara, terutama pendidikan dasar dan menengah. Untuk Universitas, dipungut biaya, kecuali untuk Fakultas Kedokteran dan sastra Persia.

Baca Juga  Perang, Keadilan, dan Islam Berkemajuan: Perspektif Muhammadiyah atas Konflik Global

Fakultas Kedokteran dibebaskan seluruh pungutan biayanya. Tujannya, agar setelah menjadi dokter, mereka tidak memungut biaya terlalu tinggi kepada pasien. Untuk membantu pasien yang membutuhkan. Dana khumus, juga digunakan membiayai penerbitan buku, yang ditulis para ulama. Di Iran, atmosfir keilmuan tumbuh subur.

Buku-buku bermutu selalu terbit tiap saat. Begitu juga jurnal-jurnal berbasis riset, terutama STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematic) berkecambah di mana-mana. Mereka rutin melakukan olimpiade Fisika dan Matematika. Tidak heran, jika tingkat IQ masyarakat Iran tertinggi nomor empat dunia. Hanya sayang, karena Iran di embargo, maka tidak bisa mengikuti ajang-ajang prestisius internasional, termasuk international conference. Makanya, kita jarang menemukan partsipan dari Iran di ajang-ajang itu. Kalau pun ada, pasti diutus oleh negara-negara lain tempat mereka berdomisili.

Buku, jurnal, dan aktivitas riset yang sungguh banyak jumlahnya, semua dibiayai dana khumus. Maka, komunitas ilmiah Iran, tentu tidak akan mau ditipu dan dieksploitasi oleh jurnal asing, yang katanya bereputasi internasional, misalnya dari yang terindeks Scopus, WoS, SCIE/SSCI, DOAJ, PubMed, IEEE Xplore, Index Copernicus, JSTOR, dan sebagainya.

“Setiap Masjid selalu dilengkapi perpustakaan raksasa. Kolehsi buku di masjid bukan hanya ratusan judul, melainkan sampai puluhan ribu judul.”

Yang khas di Iran, setiap Masjid selalu dilengkapi perpustakaan raksasa. Koleksi buku di masjid bukan hanya ratusan judul, melainkan sampai puluhan ribu judul. Bahkan masjid di Masyhad, memiliki koleksi tidak kurang 2.500.000 judul buku.

Baca Juga  Bangsa Bisa Mati: Indonesia Harus Sehat!

Dana khumus tidak diserahkan langsung ke pemerintah. Tapi dikelola lembaga keagamaan atau perwakilan Marja’ Taqlid (ulama otoritas tertinggi). Pembayaran khumus, kerap dilakukan melalui kantor-kantor perwakilan Ayatollah (marja’ taqlid), baik secara fisik di kota-kota maupun secara online. Banyak juga yang menyerahkan khumus melalui kantor Waliyyul Faqih. Suplus anggran khumus ini, bisa juga membiayai untuk pertahanan dan keamanan negara.

_________________

*) Artikel ini sudah pernah dipublikasikan dengan judul “Alokasi Dana Khumus di Iran” di laman Langit7