Dari Mana Datangnya Integritas?

Integritas. (Ilustrasi: Canva)

MAKLUMAT — Pertanyaan tentang dari mana datangnya integritas telah lama menjadi perdebatan di berbagai disiplin ilmu, mulai dari psikologi, pendidikan, hingga etika.

Ada yang beranggapan bahwa kejujuran adalah sifat bawaan, bentuk dari kecenderungan genetik yang membuat sebagian orang cenderung lebih lurus dan patuh pada nilai. Namun ada pula yang meyakini bahwa integritas adalah bentukan lingkungan, hasil dari contoh, pola asuh, kebiasaan, dan nilai yang ditanamkan sejak kecil.

Penulis: Dr. Rika Sa'diyah, M.Pd. *)
Penulis: Dr. Rika Sa’diyah, M.Pd. *)

Di tengah dua pandangan itu, muncul pula perspektif ketiga yang semakin relevan di era modern, bahwa integritas pada akhirnya adalah pilihan sadar individu.

Tiga lapisan ini, genetik, didikan, dan pilihan, sebenarnya tidak berdiri sendiri, tetapi berinteraksi membentuk karakter seseorang.

Secara genetik, penelitian psikologi menunjukkan bahwa beberapa aspek kepribadian memang memiliki komponen hereditas. Temperamen dasar seperti kecenderungan untuk menghindari risiko, sensitivitas terhadap rasa bersalah, atau kemampuan mengendalikan impuls dapat dipengaruhi oleh faktor biologis.

Seseorang yang sejak kecil memiliki kecenderungan takut melanggar aturan mungkin tampak “lebih jujur”, bukan karena lebih bermoral, tetapi karena lebih sensitif terhadap konsekuensi. Namun komponen biologis ini tidak dapat menjelaskan integritas secara keseluruhan. Nilai moral tidak dapat diwariskan layaknya warna rambut atau tinggi badan. Genetik hanya memberikan “landasan”, bukan isi atau arah. Integritas membutuhkan konten nilai, dan konten itu datang dari lingkungan.

Baca Juga  Bakal Diluncurkan 14 Juli di 100 Titik Awal, Sekolah Rakyat Akan Dimulai dengan Cek Kesehatan

Di sinilah didikan memainkan peran besar, lingkungan keluarga, sekolah, dan komunitas membentuk standar moral yang diterima seseorang.

Anak yang tumbuh dalam keluarga yang mencontohkan kejujuran dan keterbukaan lebih mudah memahami bahwa integritas bukan sekadar aturan, tetapi praktik hidup. Sebaliknya, anak yang melihat ketidakjujuran sebagai sesuatu yang biasa akan menginternalisasi pola tersebut tanpa merasa bersalah.

Pendidikan formal pun turut membentuk nilai melalui pembiasaan, mengembalikan barang temuan, tidak menyontek, meminta izin, atau bertanggung jawab terhadap tugas. Kebiasaan-kebiasaan kecil itu menanamkan kerangka berpikir tentang benar dan salah, yang lama kelamaan melekat sebagai karakter.

Namun faktor lingkungan tidak selalu konsisten, ada orang yang tumbuh di keluarga dengan nilai kuat tetapi tetap memilih jalan yang menyimpang. Ada pula yang tumbuh dalam lingkungan penuh ketidakjujuran tetapi mampu tetap teguh dan menjadi sosok berintegritas tinggi. Inilah titik masuk bagi dimensi ketiga, pilihan.

Pada akhirnya, integritas adalah keputusan sadar untuk bertindak sesuai nilai, meski ada kesempatan untuk berbuat sebaliknya. Integritas bukan sesuatu yang otomatis terjadi sebagai efek genetika atau didikan, ia muncul dalam situasi ketika individu harus memilih antara kemudahan dan kejujuran, antara kepentingan diri dan prinsip.

Baca Juga  Pejabat Publik Tak Harus Berkurban? Menakar Batas Etika, Hukum, dan Syariat

Dalam banyak kasus, integritas justru tampak paling jelas ketika seseorang diuji oleh kesempatan untuk berbuat curang tanpa diketahui siapa pun.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam pedoman pendidikan karakter menyatakan bahwa “integritas merupakan perpaduan antara kejujuran, tanggung jawab, dan komitmen moral yang diwujudkan secara konsisten dalam tindakan sehari-hari” (Kemdikbudristek, 2020).

Definisi ini menegaskan bahwa integritas bukan warisan biologis, melainkan hasil interaksi antara nilai, pengalaman, dan keputusan personal. Sementara itu, penelitian psikologi moral menunjukkan bahwa kebiasaan melakukan tindakan jujur dari waktu ke waktu membentuk pola internal yang kemudian menjadi karakter (Narvaez & Lapsley, 2014).

Karakter bukan bawaan lahir, melainkan hasil praktik berulang yang secara perlahan membangun identitas moral seseorang. Pertanyaannya kemudian, jika integritas adalah interaksi antara tiga factor, genetik, didikan, dan pilihan, bagaimana pendidikan dapat berperan?

Jawabannya adalah menciptakan ruang di mana siswa dapat mengalami, mempraktikkan, dan memilih nilai-nilai integritas secara sadar.

Pendidikan tidak dapat mengubah genetik, tetapi dapat memperkuat kemampuan menahan impuls, berpikir etis, dan mengambil keputusan. Pendidikan juga dapat menyediakan lingkungan yang memodelkan integritas, sehingga siswa memiliki rujukan moral yang sehat, yang terpenting, pendidikan harus memberi kesempatan bagi siswa untuk memilih bertindak jujur, bukan hanya menghafal teori tentang kejujuran.

Baca Juga  Dirjen Pendidikan Islam Kemenag: Guru adalah Kurikulum yang Hidup

Pada akhirnya, integritas tidak dapat dipastikan dengan tes, sensor, atau algoritma apa pun. Integritas hanya dapat dilihat melalui konsistensi tindakan, terutama ketika tidak ada yang melihat. Mungkin benar bahwa sebagian kecil kecenderungan jujur berasal dari temperamen bawaan.

Mungkin benar bahwa didikan memberi landasan moral. Namun pada saat yang paling penting, integritas adalah pilihan, dan “Pendidikan”, pada esensinya, adalah membantu manusia memilih yang benar meski tidak mudah.

____________________________

*) Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan di laman resmi Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dengan judul “INTEGRITAS: Genetik, Didikan, atau Pilihan?”