Dari Tujuh Siswa, Andrik Cahyono Merintis Masa Depan Madrasah

Andrik Cahyono saat menyampaikan motivasi kepada peserta didik di sekolah. (Foto: Dok. Pribadi)

MAKLUMAT — Perjalanan MI Program Khusus Al Ishlah di Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan, menjadi bagian penting dari kiprah Andrik Cahyono dalam dunia pendidikan.

Ia yang terlibat sejak proses perintisan pada 2021, turut menyaksikan madrasah tersebut memulai penerimaan siswa pada 2022 dengan tujuh peserta didik, kemudian berkembang menjadi sekitar 28 siswa pada tahun kedua, berdasarkan keterangan dalam catatan perjalanan yang disampaikan.

Andrik menyebut, perkembangan tersebut bukan sekadar pertambahan jumlah peserta didik. Ada kepercayaan orang tua, tanggung jawab pendidik, serta harapan masyarakat yang perlu dijaga melalui proses pembelajaran dan pengelolaan lembaga secara berkelanjutan.

Perjalanan tersebut, kata dia, sekaligus menjadi ruang belajar dalam memadukan kepemimpinan, pengabdian, dan kemandirian ekonomi.

Andrik merupakan putra Jumikun dan Sulami. Ia menempuh pendidikan di SDN 3 Watupatok, SMPN 1 Bandar, Pondok Pesantren Al Ishlah, hingga STAINU Pacitan. Pengalaman belajar di sekolah dan pesantren menjadi bagian dari pembentukan karakter serta pandangannya mengenai arti kedisiplinan, tanggung jawab, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pendidikan, dalam pandangan Andrik, tidak berhenti pada pencapaian akademik. Pengetahuan perlu disertai karakter dan kemauan untuk memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Pemikiran tersebut kemudian menemukan ruang penerapannya ketika ia mulai terlibat dalam pengembangan lembaga pendidikan.

Merintis Usaha Sejak Kuliah

Sebelum memusatkan perhatian pada pengembangan madrasah, Andrik telah belajar membangun kemandirian melalui usaha. Ketika masih kuliah, ia merintis layanan percetakan banner dan berbagai kebutuhan digital. Ia melihat adanya peluang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kecamatan Bandar, khususnya layanan percetakan yang menurut pengalamannya saat itu belum banyak tersedia.

Usaha tersebut dijalankan melalui proses bertahap. Andrik harus mencari pelanggan, menerima pesanan, memenuhi kebutuhan konsumen, dan menjaga kepercayaan terhadap layanan yang diberikan. Dalam prosesnya, ia juga belajar menyelesaikan pekerjaan secara mandiri dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga  Apriandhika Zhafran, Murid SMAMIO Gresik Raih Silver Medal di Olimpiade Matematika Internasional

Pengalaman berwirausaha membentuk pemahamannya bahwa membangun usaha tidak cukup mengandalkan keberanian memulai. Konsistensi, pelayanan, kemampuan mengelola waktu, serta tanggung jawab terhadap pelanggan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha.

Bekal tersebut turut memengaruhi cara Andrik memandang pengembangan madrasah. Baik dalam bisnis maupun pendidikan, kepercayaan tidak dapat diperoleh hanya melalui janji. Kepercayaan perlu dibangun melalui tindakan nyata, proses yang terjaga, dan kesediaan untuk terus melakukan perbaikan.

Ambil Bagian dalam Perjuangan Pendidikan

Pada 2021, Andrik bersama rekan-rekannya mulai merintis MI Program Khusus Al Ishlah. Langkah tersebut menjadi titik penting dalam perjalanannya karena ia tidak lagi hanya berhadapan dengan tantangan membangun usaha, tetapi juga tanggung jawab untuk ikut mengembangkan lembaga pendidikan.

Dalam proses perintisan itu, Andrik menyebut Yudi Hermawan dan Ali Muhtarom sebagai sosok yang memberikan motivasi, arahan, dan teladan. Ia memandang keduanya sebagai figur penting dalam proses belajar memahami pengelolaan pendidikan dan menghadapi berbagai tantangan selama membangun madrasah.

Perjalanan tersebut mengajarkannya bahwa lembaga pendidikan tidak dapat tumbuh hanya dengan gagasan seorang pendiri. Diperlukan kerja sama, kesamaan tujuan, pembagian tanggung jawab, dan kemampuan menjaga semangat ketika menghadapi keterbatasan.

Andrik juga menyadari bahwa proses belajar menjadi pemimpin tidak selalu berlangsung melalui pengalaman yang mudah. Ada keputusan yang harus dipertimbangkan, persoalan yang perlu diselesaikan, serta masukan yang harus diterima dengan terbuka. Kesediaan untuk belajar menjadi salah satu bekal yang ia perlukan dalam menjalankan amanah tersebut.

Tujuh Siswa sebagai Titik Awal

MI Program Khusus Al Ishlah mulai menerima siswa pada 2022. Pada tahun pertama, terdapat tujuh peserta didik yang menjadi bagian dari awal perjalanan madrasah. Jumlah itu menjadi pijakan bagi para perintis untuk membangun kepercayaan masyarakat sekaligus memperkuat proses penyelenggaraan pendidikan.

Baca Juga  Jadi Guru Besar dalam Kepakaran Fisiologi Olahraga, Sukadiono Bakal Dikukuhkan Besok

Andrik memandang para siswa tersebut sebagai amanah yang harus memperoleh perhatian dan pendampingan secara sungguh-sungguh. Baginya, jumlah peserta didik yang masih terbatas tidak mengurangi pentingnya tanggung jawab lembaga dalam memberikan layanan pendidikan.

“Bagi saya, tujuh siswa pertama itu bukan sekadar angka, melainkan tujuh amanah yang harus dijaga sebaik mungkin,” demikian pernyataan yang tercantum dalam catatan perjalanan Andrik.

Penerimaan tujuh siswa tersebut menjadi awal dari proses panjang membangun madrasah. Kepercayaan orang tua perlu dijawab dengan kesungguhan para pengelola, perhatian terhadap kebutuhan peserta didik, serta upaya meningkatkan mutu pembelajaran.

Pada tahun kedua, jumlah siswa dilaporkan meningkat menjadi sekitar 28 orang, atau empat kali lipat dari tahun pertama. Perkembangan ini menjadi salah satu capaian awal MI Program Khusus Al Ishlah. Meski demikian, angka tersebut tetap perlu dikonfirmasi melalui dokumen resmi madrasah sebelum dijadikan data publikasi yang definitif.

Bagi Andrik, bertambahnya jumlah siswa juga berarti bertambahnya tanggung jawab. Perkembangan lembaga harus diikuti dengan penguatan kualitas pembelajaran, peningkatan kemampuan tenaga pendidik, serta tata kelola yang mampu mendukung keberlangsungan pendidikan.

Kepemimpinan sebagai Proses Belajar

Keterlibatan Andrik dalam pendirian madrasah kemudian berlanjut pada amanah sebagai kepala madrasah. Posisi tersebut menuntutnya mengembangkan kemampuan dalam mengelola lembaga, membangun koordinasi dengan guru, memahami harapan orang tua, dan mengambil keputusan untuk mendukung proses pendidikan.

Ia menyadari bahwa memimpin lembaga pendidikan memerlukan lebih dari sekadar keberanian. Pengetahuan mengenai manajemen, kemampuan berkomunikasi, dan kesediaan menerima masukan menjadi bagian penting dalam menjalankan tanggung jawab tersebut.

“Kepemimpinan bukan berarti menjadi orang yang paling tahu, melainkan bersedia belajar, mendengarkan berbagai pandangan, dan bertanggung jawab atas amanah yang diberikan,” demikian prinsip yang dirumuskan Andrik dalam kisah perjalanannya.

Baca Juga  Kesederhanaan yang Mendidik Zaman, Teladan Prof Haedar Nashir

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan baginya merupakan proses yang terus berkembang. Seorang kepala madrasah tidak hanya bertugas mengarahkan, tetapi juga perlu membangun lingkungan kerja yang memungkinkan guru dan seluruh warga madrasah berkontribusi dalam mencapai tujuan bersama.

Andrik berharap MI Program Khusus Al Ishlah tidak hanya berkembang dalam jumlah peserta didik, tetapi juga mampu menjaga kualitas pendidikan, memperkuat karakter, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kecamatan Bandar.

Pendidikan dan Kemandirian Ekonomi

Di tengah tanggung jawabnya di madrasah, Andrik tetap berupaya mengembangkan usaha percetakan dan layanan digital yang telah dirintis sejak kuliah. Kedua bidang tersebut memberikan pengalaman berbeda yang menurutnya saling melengkapi.

Dunia pendidikan mempertemukannya dengan tanggung jawab membangun karakter dan menyiapkan generasi muda. Sementara itu, kewirausahaan mengajarkannya tentang kemandirian, pelayanan, kreativitas, dan kemampuan membaca peluang.

Pengalaman tersebut memperkuat keinginannya untuk terus belajar sekaligus mengembangkan kapasitas diri. Ia mengaku ingin berkontribusi dalam peningkatan kualitas lembaga pendidikan tanpa meninggalkan upaya membangun kemandirian ekonomi melalui usaha.

Perjalanan Andrik memperlihatkan bagaimana langkah kecil dapat menjadi awal dari sebuah ikhtiar yang lebih besar. Namun, perkembangan lembaga pendidikan tidak cukup dinilai dari pertambahan jumlah siswa semata. Mutu pembelajaran, kompetensi guru, pengelolaan yang bertanggung jawab, serta manfaat yang dirasakan masyarakat tetap menjadi ukuran penting bagi keberlanjutannya.

Bagi Andrik, perjalanan MI Program Khusus Al Ishlah masih terus berlangsung. Tantangan berikutnya adalah menjaga kepercayaan yang telah tumbuh, memperbaiki kekurangan, dan memastikan setiap perkembangan diikuti peningkatan kualitas pendidikan. Dari tujuh siswa pada tahun pertama, ia bersama rekan-rekannya memiliki tanggung jawab untuk terus membangun madrasah agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.***

*) Penulis: Edi Susanto