MAKLUMAT – Politikus Partai Demokrat Cipta Panca Laksana menanggapi desakan Forum Guru Besar Indonesia agar Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mundur dari jabatannya. Ia menyinggung kemungkinan munculnya tudingan bahwa para profesor yang menyampaikan desakan tersebut mendapat dukungan dana dari Partai Demokrat.
Cipta menyampaikan respons itu melalui pernyataannya pada Rabu, (21/10/2026). Pernyataan tersebut menyoroti potensi polemik politik di tengah kritik kalangan akademisi terhadap persoalan administrasi dan etika dalam proses yang mengantarkan Gibran menjadi wakil presiden.
“Nanti buzzer-buzzer geng Oslo kompak bilang guru besar ini dibiayai Demokrat!!” kata Cipta.
Guru Besar Pertanyakan Integritas dan Etika Jabatan
Desakan agar Gibran mundur sebelumnya disampaikan Forum Guru Besar Indonesia melalui surat terbuka yang terbit pada 19 Oktober 2026. Para profesor yang mendukung surat tersebut mempertanyakan tanggung jawab moral dunia pendidikan jika persoalan yang mereka nilai sebagai cacat administrasi di tingkat tertinggi kekuasaan tidak ditindaklanjuti melalui penegakan etika.
Mereka menilai persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan jabatan politik, tetapi juga menyangkut konsistensi penerapan nilai integritas akademik dan kepatuhan terhadap hukum.
Dalam surat terbuka itu, Forum Guru Besar Indonesia mempertanyakan bagaimana perguruan tinggi dapat terus mengajarkan integritas kepada mahasiswa apabila persoalan yang mereka nilai sebagai cacat administrasi dalam proses pencalonan wakil presiden tidak memperoleh penyelesaian yang sejalan dengan prinsip etika.
“Bagaimana mungkin kami, para pendidik di perguruan tinggi, dapat terus menanamkan nilai-nilai integritas akademik, kerja keras, kejuangan, dan kepatuhan hukum kepada jutaan mahasiswa,” demikian petikan surat terbuka tersebut.
Forum Guru Besar Indonesia menilai persoalan integritas pejabat publik memiliki dampak terhadap pendidikan karakter. Bagi mereka, keteladanan pemimpin menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan terhadap nilai-nilai yang diajarkan di lingkungan akademik.
Sejumlah Profesor Tercatat sebagai Inisiator
Surat terbuka tersebut mencantumkan sejumlah profesor sebagai inisiator, di antaranya Prof. M. Din Syamsuddin, Prof. Ryaas Rasyid, Prof. Ganjar Kurnia, Prof. Idrus Paturusi, Prof. Nuhfil Hanani, Prof. M. Nasih, Prof. Amran Razak, Prof. La Ode M. Aslan, Prof. Rochmat Wahab, Prof. Connie Rahakundini Bakrie, Prof. Nandang Sutrisno, Prof. Fathul Wahid, dan Prof. Lukman Hakim.
Daftar dukungan juga memuat nama-nama guru besar dari berbagai perguruan tinggi, termasuk Prof. Denny Indrayana, Prof. Heru Susetyo, Prof. Takdir Rahmadi, Prof. Suparman Marzuki, Prof. Nurul Barizah, serta sejumlah akademisi lainnya.













