MAKLUMAT — Tubuhnya sudah siap. Pikirannya pun telah tertuju pada dinding panjat. Tetapi pertandingan tak kunjung dimulai. Lima menit berlalu, lalu lima menit berikutnya. Gangguan teknis membuat Desak Made Rita Kusuma Dewi harus menunggu.
Bagi atlet yang akan berpacu dalam hitungan detik, penundaan seperti itu bukan perkara kecil.
Konsentrasi bisa buyar. Pikiran bisa ke mana-mana. Tubuh yang sejak awal disiapkan untuk bertanding juga harus kembali menunggu.
Namun, Desak memilih tidak larut dalam situasi.
Atlet panjat tebing Indonesia itu mencoba menjaga pikirannya tetap positif. Ia mengalihkan perhatian dan berusaha tidak menambah beban menjelang perlombaan nomor speed putri Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Portmesse Nagoya Exhibition Hall 1, Rabu (30/9).
“Lumayan mengganggu ya, karena badan sudah siap, pikiran sudah siap, terus tiba-tiba ditunda lima menit, terus lima menit lagi. Mikirnya ke mana-mana, tapi lebih ke mikir positif, coba alihkan pikiran,” kata Desak seusai pertandingan.
Lalu tibalah waktunya memanjat.
Desak tidak datang dengan ambisi yang membuat pikirannya justru terbebani. Ia memilih satu cara sederhana: memanjat dengan ikhlas.
Ketika Pikiran Harus Ikut Memanjat
Dalam olahraga panjat tebing nomor speed, kemenangan ditentukan oleh kecepatan. Selisih waktu antara satu atlet dan lawannya bisa hanya sepersekian detik.
Karena itu, ketenangan menjadi bagian dari pertarungan.
Desak memahami situasi tersebut. Setelah serangkaian penundaan, ia berusaha membuang berbagai kemungkinan dari kepalanya dan berkonsentrasi pada satu hal: memanjat.
“Masih ngeblank, masih bingung yang mana menang, yang mana ini. Soalnya memanjatnya ya sudah, memanjat ikhlas saja gitu,” tuturnya.
Justru dalam kondisi itulah Desak mencatat waktu terbaik.
6,062 detik.
Angka tersebut mengantarnya ke podium tertinggi sekaligus menjadi rekor Asian Games dan rekor Asia.
Desak bahkan mengaku sempat tidak menyadari bahwa dirinya telah lebih dahulu menyentuh tombol finis.
Fokusnya begitu penuh pada lintasan hingga hasil perlombaan baru benar-benar terasa setelah semuanya selesai.
Di belakangnya, Deng Lijuan dari China finis dengan waktu 6,064 detik dan meraih perak. Jeong Ji Min dari Korea Selatan mendapatkan perunggu dengan catatan 6,18 detik.
Selisih Desak dan Deng hanya 0,002 detik.
Dalam nomor yang kemenangan ditentukan oleh sepersekian detik, ketenangan menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Dari Bali ke Puncak Asia
Desak Made Rita bukan nama baru dalam panjat tebing Indonesia.
Atlet asal Bali tersebut kembali menunjukkan bahwa dirinya mampu menjaga performa di panggung olahraga Asia.
Emas di Aichi-Nagoya menjadi medali emas keduanya di ajang Asian Games.
Lebih dari itu, Desak juga memperbarui catatan terbaiknya sendiri.
Rekor sebelumnya adalah 6,07 detik, yang juga dicatat atas namanya pada Kejuaraan Asia 2026 di Meishan, China, April lalu.
Kini angkanya menjadi 6,062 detik.
Hanya beberapa angka di belakang koma, tetapi di dunia speed climbing, angka sekecil itu bisa memisahkan seorang atlet dari podium.
Emas untuk Banyak Orang
Setelah perlombaan berakhir dan lagu “Indonesia Raya” berkumandang, kemenangan itu tidak hanya menjadi milik Desak.
Ada orang tua yang disebutnya selalu mendoakan. Ada teman-teman pelatnas, pelatih, tim, serta masyarakat Indonesia yang mengikuti perjuangannya.
“Pertama mengucap syukur dan terima kasih. Buat diri sendiri yang sudah bekerja keras, kedua orang tua yang selalu mendoakan, teman-teman pelatnas, tim, dan seluruh masyarakat Indonesia. Ini medali emas untuk kita semua,” ujar Desak.
Kalimat itu menunjukkan bagaimana seorang atlet melihat kemenangan bukan semata-mata sebagai hasil dari beberapa detik di atas dinding panjat.
Ada proses panjang di belakangnya.
Ada latihan. Ada persiapan. Ada tekanan. Ada penundaan pertandingan. Ada upaya menjaga pikiran tetap tenang ketika tubuh sudah siap bertanding.
Dan pada akhirnya, ada keberanian untuk memanjat tanpa membiarkan beban menguasai pikiran.
Memenuhi Target Indonesia
Medali Desak sekaligus menjadi emas keempat Indonesia pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Sebelumnya, Indonesia mengumpulkan tiga emas dari bulu tangkis dan angkat besi. Dua emas berasal dari bulu tangkis dan satu lainnya dari angkat besi.
Tambahan emas dari Desak membuat target empat emas Indonesia terpenuhi.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menyampaikan apresiasi atas pencapaian tersebut.
“Alhamdulillah, Indonesia kembali meraih emas. Ini menjadi emas keempat Indonesia di Asian Games kali ini, sekaligus memenuhi target empat emas yang kita tetapkan,” ujar Erick.
Menurut Erick, catatan waktu Desak memiliki arti penting karena bukan hanya menghasilkan medali emas, tetapi juga rekor Asian Games dan Asia.
“Catatan waktunya luar biasa. 6,062 detik bukan hanya membawa Desak menjadi juara dan mempersembahkan emas untuk Indonesia, tetapi juga mencatatkan rekor Asian Games dan rekor Asia,” katanya.
Erick juga mengapresiasi FPTI, pelatih, ofisial, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pembinaan atlet.
Menurutnya, prestasi Desak merupakan hasil dari proses pembinaan yang dilakukan secara konsisten dan berjenjang.
Namun, target empat emas bukan berarti perjalanan Indonesia di Aichi-Nagoya telah selesai.
Masih ada sejumlah nomor yang dapat menambah koleksi medali, termasuk nomor men’s speed panjat tebing.
Memanjat Tanpa Beban
Desak mungkin hanya membutuhkan 6,062 detik untuk mencapai puncak.
Tetapi perjalanan menuju angka itu tentu jauh lebih panjang.
Ia harus mempersiapkan tubuh, menjaga konsentrasi, menghadapi penundaan, lalu berdiri di hadapan lintasan dengan waktu yang menentukan segalanya.
Di sana, ia memilih tidak melawan keadaan.
Ia memilih mengalihkan pikiran.
Ia memilih berpikir positif.
Dan ketika akhirnya tiba waktunya memanjat, ia memilih satu kalimat sederhana:
“Memanjat ikhlas.”
Dari kalimat sederhana itu lahir emas, rekor Asia, dan satu lagi momen ketika Merah Putih berkibar di panggung olahraga terbesar Asia.










