Putra Tri Ramadani Rebut Emas World Climbing Series, Ternyata Mahasiswa Umsura

Putra Tri Ramadani

MAKLUMAT – Atlet panjat tebing Jawa Timur mencatat sejarah dunia. Adalah Putra Tri Ramadani berhasil membawa pulang medali emas cabang olahraga (cabor) panjat tebing kategori lead di Praha, Republik Ceko, Minggu (7/6/2026) waktu setempat atau Senin dini hari WIB.

Ini kali pertama atlet asal Indonesia meraih prestasi dalam world climbing series atau seri kejuaraan dunia panjat tebing. Terlebih ia adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).

Ini menjadi prestasi membanggakan bagi atlet yang akrab disapa Srondeng itu. Tidak hanya bagi kampus, tetapi juga bagi Indonesia lantaran Putra menjadi atlet asal Asia Tenggara pertama yang berhasil merebut emas panjat tebing kategori lead di Eropa.

“Saya tidak bisa berkata-kata, hanya bisa bangga,” ujar pelatih panjat tebing Jawa Timur, Ronald Novar Mamarimbing melalui sambungan telepon, Senin pagi. Menurutnya Eropa adalah kandang atlet lead dan kerap didatangi pemanjat dari penjuru bumi.

Di mata Ronald, anak didiknya adalah atlet kalem, tidak banyak tingkah, dan penurut. Sejak memolesnya tahun 2023, sikap yang ditunjukkan Srondeng membuatnya terkesima.

“Ia tidak pernah membantah, apalagi menawar. Selalu patuh dengan instruksi yang diberikan tim pelatih. Saya ikut bangga dengan apa yang dicapai Srondeng,” urai Ronald.

Baca Juga  Prof. Pipit, Guru Besar Baru UMSurabaya: Menggeser Fokus Sehat, dari Rumah Sakit Kembali ke Rumah

Srondeng merebut emas setelah mengoleksi 43 poin, untuk mengalahkan pemanjat asal Jepang, Neo Suzuki yang memiliki 39 poin. Ia berhak atas medali perak, sedangkan medali perunggu direbut Jakob Schubert asal Austria dengan 34 poin.

Srondeng telah melewati dua kali final dalam world climbing series. Sebelumnya ia telah mengikuti ajang serupa tahun lalu dan mampu masuk babak final. Namun partisipasi tahun ini ia ulangi dengan membawa pulang medali emas.

“Sejak memantaunya training camp (TC) di Jepang beberapa tahun lalu, saya mendoakan Srondeng dan berusaha keras memoles dia untuk mengejar mimpinya,” ujarnya.

Ronald sudah tidak memoles Srondeng kurang lebih 1,5 tahun sejak atlet asal Kota Kediri ini dipanggil pelatnas. Transformas di tubuh PP Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), menurut Ronald, turut membantu Srondeng meraih prestasi.

Apalagi pelatih Srondeng di PP FPTI juga berasal dari Jawa Timur. Secara chemistry, hubungan itu membantu Srondeng meraih hasil maksimal di kancah global.

Bagi FPTI Jawa Timur, kemenangan di ajang world climbing series bukan yang pertama. Galar Pandu Asmoro, Abu Dzar Yulianto dan Evi Nelywati pernah mengukir prestasi serupa kategori speed pada tahun 2005. Kini Galar Pandu ditunjuk menjadi pelatih panjat tebing nasional kategori speed.

Baca Juga  Penyakit yang Sering Muncul di Musim Hujan, Bagaimana Mencegah dan Menghadapinya?