Din Syamsuddin Dorong Umat Islam Bangun Peradaban, Ingatkan Bahaya Jika Lemah di Bidang Ekonomi

Din Syamsuddin

MAKLUMAT — Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Din Syamsuddin berpesan terkait pentingnya membangun masyarakat Islam yang mampu bergerak menuju kemajuan. Ia menekankan bahwa umat Islam perlu memiliki harga diri dan kemandirian agar dapat lebih berkontribusi dalam kehidupan bangsa.

Hal itu ia tegaskan saat mengisi acara Kajian Pencerah Ahad Pagi yang digelar PCM Bubutan bersama Majelis Tabligh PDM Kota Surabaya di sepanjang Jalan Dupak Jaya V, tepat di depan Gedung SMP Muhammadiyah 7 Surabaya, Ahad pagi (28/6/2026).

Kajian yang dimulai pukul 07.00 WIB itu dihadiri ribuan jamaah yang memenuhi lokasi kegiatan. Tidak hanya dihadiri warga Bubutan, kajian ini juga dihadiri masyarakat dari berbagai wilayah Surabaya hingga luar kota.

Kegiatan ini mengangkat tema Dengan Semangat Hijrah Mewujudkan Hidup Umat Bermarwah. Din Syamsuddin menjelaskan, kata marwah berasal dari bahasa Arab yakni al-muruwwah yang berarti harga diri.

Menurutnya, umat Islam perlu membangun kembali harga diri tersebut agar mampu berperan lebih besar dalam kehidupan bangsa.

“Jika umat muslim sudah maju dan bermarwah dengan mayoritas di Indonesia, yakni 87 persen dari 280 juta penduduk Indonesia, maka sekitar 240 juta umat muslim bisa memimpin Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga  Soroti Dunia Islam, Din Syamsuddin Optimis Indonesia Bisa Ambil Peran Wujudkan Perdamaian

Ia menyebut kekuatan jumlah umat Islam di Indonesia harus diikuti dengan kemampuan dalam berbagai bidang, terutama ekonomi. Menurutnya, kondisi ekonomi yang lemah dapat membuat umat kehilangan posisi dalam kehidupan sosial. Karena itu, perubahan harus dimulai dari kesadaran individu dan perbaikan kondisi umat secara bersama-sama.

“Umat Islam terpuruk karena bidang ekonomi. Jika kita berada dalam keadaan lemah secara ekonomi, kita akan tertimpa ad-dzillah (kehinaan). Perubahan ini harus dimulai dari diri kita sendiri,” ujarnya.

Din Syamsuddin kemudian mengaitkan perubahan tersebut dengan semangat hijrah. Ia menjelaskan bahwa hijrah bukan hanya perpindahan tempat, tetapi sebuah gerakan dinamis untuk berpindah dari keadaan yang tertinggal menuju kondisi yang lebih maju.

Ia mencontohkan perjalanan Nabi Muhammad Saw yang memindahkan pusat dakwah dari Mekkah ke Yastrib atau Madinah. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan strategi perjuangan untuk membawa umat keluar dari tekanan menuju fase yang lebih kuat.

Dalam perjalanan itu, Din Syamsuddin menegaskan bahwa Nabi dan para sahabat juga menghadapi berbagai ujian, termasuk peristiwa besar seperti Perang Badar.

Ia lalu mengutip Surat Ar-Ra’d Ayat 11 yang menegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Ayat tersebut, menurutnya, menjadi dasar bahwa perubahan umat harus dimulai dari usaha dan perbaikan diri.

Baca Juga  Din Syamsuddin Sarankan Muhammadiyah Kembalikan Konsesi Tambang: Halangi Amar Makruf Nahi Munkar terhadap Perusakan Lingkungan

Din Syamsuddin lalu menyinggung peran organisasi Islam dalam menggerakkan potensi umat. Ia menyampaikan apresiasi terhadap gerakan dakwah Aisyiyah yang menurutnya telah dikenal secara internasional sebagai salah satu organisasi muslimah yang mampu mengembangkan berbagai bidang.

Ia menilai Muhammadiyah dan Aisyiyah harus ditempatkan sebagai sarana perjuangan, bukan sebagai tujuan akhir. Menurutnya, tujuan yang lebih besar adalah mewujudkan kejayaan Islam dan umat Islam melalui berbagai jalan kebaikan. “Caranya dengan fastabiqul khoirot, berlomba-lombalah dalam kebaikan,” jelasnya.

 

*) Penulis: Lail Zahwa Efrilia Dwi Efendi