MAKLUMAT — Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat (AS), Dino Patti Djalal, menyebut pernyataan pemerintah Indonesia bahwa Presiden Prabowo Subianto siap menjadi penengah atas konflik AS-Israel dan Iran adalah sebagai hal yang tidak realistis. Ia mengaku prihatin atas serangan AS-Israel ke Iran yang pecah pada Sabtu (28/2/2026) lalu.
“Kita semua shock melihat serangan Amerika dan Israel terhadap Iran. Dan kita terutama prihatin karena ini serangan terhadap suatu negara Islam di bulan Ramadan,” ucapnya, dalam unggahan di Instagram pribadi @dinopattidjalal pada Senin (1/3/2026). Menurutnya, hal itu menunjukkan ketidakpekaan terhadap suasana batin dunia Islam
Potensi Konflik Berkepanjangan
Dino menyampaikan tiga pandangannya terkait konflik AS-Israel dengan Iran, termasuk bagaimana posisi Indonesia. Pertama, ia mengaku khawatir bahwa konflik tersebut bakal menjadi konflik yang berkepanjangan.
“Catat, bahwa ini akan menjadi konflik yang berkepanjangan. Karena tujuan dari serangan militer ini kali ini bukan hanya untuk menghentikan kapasitas nuklir Iran, tapi untuk menumbangkan pemerintah di Teheran,” kata dia.
Dino mengingatkan, Iran berbeda dengan Venezuela yang baru-baru ini juga diserang oleh AS relatif terkendali. Iran, kata dia, memiliki jaringan politik dan militer yang cukup signifikan di beberapa negara Timur Tengah. Dengan menyerang Iran, maka perang bakal menyeret pihak-pihak luar dan akan menyebabkan guncangan pula di luar wilayah Iran.
Terbunuhnya Pemimpin Tertinggi (Rahbar) Iran Ayatollah Ali Khamenei, menurut Dino, tidak akan secara otomatis mengakhiri konflik tersebut. Ia menandaskan, tumbangnya pemerintahan di Teheran juga tidak bisa menjadi alasan pembenaran terhadap intervensi militer AS-Israel. Ia khawatir hal itu justru membawa pada perang dunia ketiga.
“Ini juga tidak otomatis, baik secara moral, secara hukum internasional, memberikan pembenaran terhadap aksi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel. Mengapa? Karena kalau aksi intervensi ugalan-ugalan seperti ini dilakukan oleh negara-negara lain dalam konteks yang berbeda juga, maka dunia akan segera terjurumus dalam perang dunia ketiga,” tandasnya.
Tidak Ada Pembenaran Serangan AS ke Iran
Kedua, Dino menggarisbawahi posisi Iran dalam konflik tersebut adalah sebagai korban, yakni pihak yang diserang oleh AS-Israel, bukan sebagai agresor. Alasan bahwa perundingan AS dan Iran yang belum menemukan kata sepakat, menurutnya, tidak dapat dijadikan pembenaran atas aksi AS melakukan serangan dan melanggar kedaulatan Iran.
“Apalagi pemerintah Oman yang selama ini menjadi mediator dalam perundingan damai antara keduanya menyatakan sudah ada kemajuan yang signifikan dalam proses perundingan Amerika dan Iran ini,” sorotnya.
Serangan militer terhadap Iran, lanjut Dino, menandakan adanya suatu tren yang mengkhawatirkan di Amerika Serikat, bahwa segala perselisihan yang tidak sesuai dengan kemauan Donald Trump akan diselesaikan dengan cara perang atau kekerasan.
“Pendekatan seperti ini sangat berbahaya sekali bagi stabilitas dan perdamaian internasional,” tegas pria yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri RI itu.
Langkah Indonesia sebagai Juru Damai Tidak Realistis
Ketiga, Dino menyoroti pernyataan pemerintah Indonesia yang menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto siap untuk terbang ke Teheran untuk menjadi penengah alias mediator atas konflik AS-Israel dengan Iran tersebut. Ia menyayangkan pernyataan tersebut dan menyebutnya sebagai hal yang tidak realistis.
“Sebagai political scientist yang independen dan juga sebagai mantan diplomat Indonesia, saya heran kenapa ide ini tidak difilter dulu sebelum diumumkan, karena sangat tidak realistis,” tandasnya.
View this post on Instagram
Menurut Dino, AS dalam melakukan serangan militer terhadap pihak yang dianggap sebagai “musuh” sangat jarang mau ditengahi atau dimediasikan oleh pihak ketiga. Sebab itu, ia menilai pernyataan bahwa Indonesia siap menjadi penengah adalah hal yang tidak realistis. “Ego Amerika sebagai negara super power terlalu tinggi untuk menerima itu,” sebutnya.
“Dan saya juga meyakini Presiden Trump kali ini tidak mau Indonesia ikut campur, karena mood-nya pada saat ini sedang gelap mata untuk menumbangkan pemerintah Iran,” sambungnya.
Lebih jauh, Dino juga mengungkap informasi bahwa serangan AS ke Iran juga merupakan salah satu upaya pengalihan atas kasus Epstein Files yang belakangan ramai diperbincangkan dan menyeret nama-nama besar, termasuk Trump.
“Menarik dicatat bahwa sejumlah teman saya di Washington DC memberitahu saya, bahwa serangan Amerika Serikat terhadap Iran juga merupakan upaya untuk mengalihkan perhatian dari Epstein Files. Kasus Epstein Files yang sekarang semakin merongrong pribadi Presiden Donald Trump,” kata dia.
Di sisi lain, Dino juga menilai bahwa hubungan antara Indonesia dan Iran belakangan ini tidak terlalu dekat. Sehingga ia menilai bahwa langkah Presiden Prabowo untuk menjadi penengah tidak realistis.
“Dalam 15 bulan terakhir Presiden Prabowo tidak pernah bertemu dengan Presiden Iran dan juga tidak pernah mengunjungi Iran, walaupun belakangan ini ada undangan dari Iran yang dilayankan kepada beliau. Dan juga tidak pernah ada pertemuan bilateral antara kedua pemimpin di negara ketiga. Misalnya sewaktu KTT BRICS atau sewaktu KTT D8. Menlu Sugiono juga tidak pernah melakukan kunjungan bilateral ke Teheran,” jelasnya.
Dengan kata lain, menurut Dino, belum ada suatu kedekatan atau trust dari pemerintah Iran terhadap pemerintah Indonesia saat ini.
Selain itu, menurutnya, kalaupun Presiden Prabowo berencana dan bersedia untuk terbang ke Teheran untuk memediasi konflik tersebut, namun di sisi lain Presiden Trump ataupun Manlu AS Marco Rubio hampir tidak mungkin akan bersedia ke Teheran. “Ini tidak realistis dan tidak akan mungkin terjadi. Kita harus jujur mengenai hal ini,” tegasnya.
“Dan ini lebih tidak mungkin lagi, upaya mediasi berarti Presiden Prabowo harus bertemu dengan Perdana Menteri Israel (Benjamin) Netanyahu sebagai pihak yang paling utama menyerang Iran. Dan ini kan secara politik, diplomatik, dan juga logistik tidak mungkin terjadi,” sorot Dino.
Menurutnya, jika Prabowo benar-benar bertemu Netanyahu, maka hal itu bisa menjadi langkah “bunuh diri” secara politik. “Ini akan menjadi political suicide atau bunuh diri politik bagi Presiden Prabowo di dalam negeri. Jadi saya sungguh tidak tahu dari mana datangnya ide yang menakjubkan ini agar Presiden Prabowo terbang ke Teheran untuk menjadi mediator konflik segitiga ini,” kata dia.
Indonesia Harus Tegas dan Berani Berseberangan dengan AS
Langkah terpenting bagi Indonesia saat ini, menurut Dino, bukanlah untuk menjadi juru damai, melainkan harus menegaskan posisi Indonesia secara jelas, tegas, dan lugas.
Ia menandaskan bahwa serangan AS dan Israel ke Iran adalah hal yang melanggar hukum-hukum internasional. Selain itu, serangan terhadap Iran juga dinilai sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip yang disampaikan oleh Presiden Prabowo sendiri dalam pidato di Sidang Majelis Umum PBB pada September 2025 lalu.
“Kita harus berani menyatakan apa yang benar-benar dan apa yang salah-salah apa pun resikonya. Serangan Amerika dan Israel terhadap Iran itu bertentangan dengan segala prinsip yang disampaikan oleh Presiden Prabowo dalam pidato bersejarah di sidang majelis umum PBB tahun lalu,” tegasnya.
Indonesia, lanjutnya, harus selalu konsisten dalam menegakkan prinsip-prinsip perdamaian dan norma-norma hukum internasional. “Kita tidak mau nanti sejarah mencatat tidak ada satu pun skenario di mana Indonesia bersedia untuk mengkritik aksi dari negara adidaya. Apa pun yang dilakukan negara adidaya tersebut,” sorotnya.
Jika Indonesia tidak tegas dalam bersikap, termasuk terhadap negara-negara adidaya, maka Dino menilai politik luar negerinya bukan lagi politik luar negeri yang bebas aktif.
Dalam sejarahnya, kata Dino, Indonesia merupakan negara yang tegas dalam bersikap dan tidak ragu untuk bertentangan ataupun berbeda pendapat dengan AS. Misalnya dalam kasus invasi AS ke Irak pada 2003, konvensi hukum laut PBB, mengenai keanggotaan Tiongkok di PBB, dan sebagainya.
Ia menekankan bahwa perbedaan pendapat bukan berarti bermusuhan. Pun demikian, bermitra dengan AS juga bukan berarti harus tunduk dan patuh terhadap apa pun yang dilakukannya.
Tak cuma itu, Dino juga menyarankan agar Indonesia menangguhkan dan mengkaji ulang wacana pengiriman pasukan perdamaian untuk International Stabilization Force (ISF) di Gaza.
“Saya juga menganjurkan agar Presiden Prabowo menulis surat kepada Presiden Trump yang memberitahukan bahwa Indonesia akan menangguhkan pengiriman pasukan perdamaian untuk International Stabilization Force di Gaza sambil mengkaji ulang situasi serius yang sekarang sedang berkembang di Timur Tengah,” pintanya.
“Melalui pesan ini terhadap Presiden Donald Trump, kita juga sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang berprinsip, yang berpendirian dan tidak mudah di-take for granted oleh negara lain. Apalagi Hamas dan kelompok lain di Palestina mempunyai kedekatan khusus dengan Iran. Dan dampaknya pasti ada,” imbuh Dino.
Apalagi, lanjut Dino, pasukan perdamaian Indonesia nanti praktis akan berada di bawah komando Amerika Serikat dan di bawah kendali Donald Trump sebagai ketua dari Board of Peace (BoP).
Di bawah kepemimpinan Donald Trump yang sulit diprediksi, yang sering melanggar hukum internasional dan sering memaksakan kehendaknya pada negara lain, terutama yang lemah, Dino meminta agar pemerintah Indonesia menghindari potensi risiko pasukan Indonesia terjebak dalam komplikasi yang mungkin timbul dari konflik segitiga Amerika, Israel, Iran yang masih akan terus berkembang.
“Kita tidak ingin misi perdamaian Indonesia menyimpang dari mandat ISF, meskipun tidak disengajai,” tandasnya.
“Pikirkan dengan matang-matang dan seksama. Validasi sejarah jauh lebih penting daripada validasi dari gedung putih. Speak truth to power, speak truth to the people, wisdom without fear!” pungkas Dino.













