MAKLUMAT — Perbedaan bacaan doa buka puasa selalu menjadi pembahasan kala Ramadan tiba. Wakil Ketua PWM Jatim, Dr Muhammad Sholihin Fanani menyatakan, Muhammadiyah merujuk pada tuntunan Majelis Tarjih dan Tajdid dalam menetapkan doa berbuka.
Pria yang akrab disapa Abah Shol itu menjelaskan bahwa doa buka yang selama ini digunakan di lingkungan Muhammadiyah adalah, “Dzahaba al-zhama’u wabtallatil ‘uruq wa tsabatal ajru insyaallah.”
“Selama ini di Majelis Tarjih dan Tajdid yang dipakai itu. Dan itu juga diajarkan di sekolah-sekolah Muhammadiyah,” ujarnya kepada wartawan Maklumat.id saat ditemui di Kantor PWM Jatim di Surabaya, Kamis (27/2/2026).
Ia memaparkan, di masyarakat terdapat bacaan doa lain yang lebih populer, seperti “Allahumma laka shumtu wabika amantu wa ‘ala rizqika aftartu birahmatika yaa arhamar-roohimiina” yang kerap dilafalkan secara luas.
Namun demikian, ia menekankan bahwa substansi utama bukan pada perdebatan teks semata, melainkan pada makna dan kesadaran spiritual di balik doa tersebut.
“Membaca doa berbuka itu penting sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah, karena kita diberi kesempatan menjalankan kewajiban sebagai seorang Muslim,” tegasnya.
Rumus 5T+1I
Tak hanya membahas soal doa berbuka, Abah Shol juga membagikan kiat agar Ramadan benar-benar menjadi momentum perubahan. Ia merumuskan konsep 5T+1I sebagai panduan sederhana namun komprehensif untuk meraih kesuksesan ibadah puasa.
Pertama adalah Tauhid, yakni memperkuat keyakinan dan kedekatan kepada Allah Swt. Ia mengajak semua muslim untuk memperdalam hal ini. Menurutnya, jika pada bulan Ramadan saja seseorang belum mampu menunjukkan ketaatan, maka terlebih lagi di luar bulan Ramadan.
Kedua, Taubat, yakni menjadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki diri dan meninggalkan dosa. “Ramadan ini alat untuk bertaubat, memperbaiki sikap dan perilaku agar kembali kepada fitrah,” ujarnya.
Ketiga, Takwa. Ia merujuk pada QS. Ali Imran ayat 134 tentang ciri orang bertakwa, yakni gemar berinfak, mampu menahan amarah, dan memaafkan kesalahan orang lain. Adapun saling memaafkan itu bagian dari ketakwaan.
Keempat, Tawakal, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah berikhtiar. “Siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya,” tuturnya.
Kelima adalah Ta’awun atau tolong-menolong dalam kebaikan. Ramadan, menurutnya, menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama.
Seluruh amalan tersebut, lanjut Abah Shol, harus dilandasi dengan satu fondasi utama, yakni Ikhlas. Ia menegaskan bahwa semua hal harus dilandasi keikhlasan, hanya mengharap balasan dari Allah Swt.
Ia pun berharap umat Islam tidak terjebak pada perdebatan teknis semata, melainkan mampu menangkap esensi Ramadan sebagai sarana pembentukan karakter dan penguatan spiritual. “Dengan 5T+1I, Insya Allah Ramadan kita sukses dan membawa perubahan,” pungkasnya.












